
Bima kembali masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal. Sementara Bondet dan Iqbal tersenyum melihat wajah Bima yang kusut bagaikan kertas yang habis di remas remas anak kecil yang hendak di buang ke tong sampah.
"Ndet..!"
"Hmmm,"
"Lihat !"Kasian juga ya kak Bima?"
"Iya, Bal, kasian, malam ini dia tidak bisa pulang dan besok pasti akan terjadi perang, pasti Non Seila yang galak itu akan ngomel ngomel dan kak Bima pasti akan seperti kerbau diam saja,"
Bondet terkekeh
"Kayaknya seru, Bal jika kita vidioin,"
"Ha. .ha ..ha..!" ide bagus Ndet, trus siapa yang akan memvideo nya?"
"Jelas kamu lah, Bal, masak aku,"
"Lho, bukannya yang punya ide itu kamu !"
Bondet terkekeh mendengar ucapan iqbal.
"Iya, memang aku Bal, yang punya ide tapi kamu kan pembantu setia ku, jadi kamu saja yang memvidieo nya,"
"Enak saja..!"gue ganteng ganteng begini di anggap pembantu, ngak sopan kamu Ndet,"
Seru iqbal sambil tertawa.
"Hey...diam berisik sekali, kalian itu," Sunggut Bima kesal.
"Duh, kak, kalau marah dan emosi jangan lampiaskan pada kami, kami tidak bersalah iya kan Bal,"
"Ho,oh,kak, kami tidak bersalah,"
"Yang menyalahkan kalian itu siapa?" aku cuma bilang jangan berisik,"
"Ya, sama saja kak, itu marah,"Ucap Bondet seraya terkekeh.
"Menurut kalian, gimana?"lebih baik telpon
Seila apa tidak ya?"
"Wah, ini sudah malam kak, Non Seila pasti sudah tidur, jangan ngaggu kasian,"
"Bener, kak Bima jangan ganggu kasian Non Seila pasti sudah bobo,"
"Tapi. !"Aku kangen,"
"Ish, kangen apaan, sama Nafa begitu mesra nya," Timpal Bondet.
"Di bilangin ngak ada yang percaya, aku cuma membantu, saat itu,"
"iya...,ya..!" membantu, sekarang terserah kak Bima sajalah, aku kok jadi ikut pusing,"Keluh Bondet akhirnya.
Bima memandangi benda pipih yang ada di tangannya, antara ingin dan ragu lagi bercampur berkecamuk di dalam alam pikiran nya.
"Kalau ngak telpon, hatiku ngak tenang, kalau aku telpon, gimana ya, respon nya duh apa yang harus aku lakukan.
Bima mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Bismillahirrahmanirrahim, smoga ngak marah marah,"
Dengan sedikit bergetar tangan Bima mulai menekan satu nomor telpon.di tunggu nya
beberapa saat terdengar lah sebuah bunyi.
"Maaf...!" nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif silahkan tinggalkan pesan,"
"Kok, ngak aktif sih?" apa masih di cas ya ?"
Bima semakin gusar, tidak biasanya Seila
mematikan telpon, sekali lagi Bima mengacak acak rambutnya yang tidak gatal.
"Coba ku telpon lagi, smoga kali ini nyambung,"
"Maaf..! Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan.
Bima mengepalkan tangannya untuk meluapkan rasa gundah dan kesal yang ada di hatinya.
"Aku tidak perduli, mau marah kek atau apa sekarang aku akan telpon rumah saja,"
Setelah Bima menekan Nomor rumah
tidak berapa lama terdengar suara dari sebrang. Bima menarik Nafas lega meskipun yang menerima telpon nya Bik Inah, setidaknya Bima bisa bertanya tentang kabar dan keadaan istri tercintanya.
"Halo..!"
"Halo, Bik Inah Assalamualaikum ?"
"Walaikumsalam, oh Den Bima, kenapa telpon malam malam begini,"
"Bik, Non Seila, apa sudah tidur ?"
__ADS_1
"Oh, Non Seila..!"Ngak tau Den, dari tadi sore murung terus,"
"Maksdnya, bagaimana Bik ?"
"Non Seila, kelihatan sedih, malah, Bibik sempat lihat Non Seila habis nangis,"
"Apa..?"Nangis..!"kenapa Seila menangis?"
"Dari tadi sore, Non Seila nungguin Den Bima
pulang, bahkan hari ini Non Seila dandan cantik banget buat Den Bima, tapi Den Bima di tunggu tunggu tidak pulang, di telpon hape katanya tidak aktif,"
Mendengar penjelasan dari Bik Inah
Tiba-tiba hati Bima serasa di tusuk tusuk jarum hatinya serasa sakit, pikiran nya sudah mulai kalut, resah gundah semua jadi satu.
Bima mengutuki kebodohan nya dan kesialan
nya hari ini.
Dengan suara sedikit paruh Bima berkata.
"Bik, Tolong panggilkan Non Seila, Sebentar,
aku mau bicara,"
"Baik Den,"
Bergegas Bik Inah menuju kamar lantai atas
dengan membawa telpon rumah, yang tanpa
kabel, sehingga telpon itu bisa di bawa kemana
mana.
"Non..!Non Seila..?"apa sudah tidur,"
Tanya Bik inah, yang komunikasi nya bisa
di dengar Bima.
Dengan jantung berdebar debar Bima menunggu jawaban dari pertanyaan Bik Inah
apakah Seila sudah tidur.
Tak lama kemudian terdengar sahutan dari
dalam kamar.
Hati Bima yang bisa mendengar jawaban dari
Seila bernafas dengan lega hatinya senang
bisa mendengar suara Istri nya.
"Saya masuk, apa boleh Non ?"
terdengar suara tawa kecil
"Masuklah, Bik,"
Melihat pembantu nya datang malam malam
ke kamar Seila segera turun dari ranjang dan
menghampiri Bik Inah.
"Ada apa?kok malam malam begini, Bik inah
belum tidur,"
Bik Inah tersenyum, santun.
"Ini Non Den Bima telpon mau bicara sama
Non Seila," Ucap Bik inah sambil Mengulurkan
telpon ke Seila.
Seila tidak langsung menerima dia menatap
benda kecil telpon yang ada di tangan Bik
Inah.
Tiba-tiba Seila teringat betapa teganya Bima
mematikan ponsel hapenya dan sekarang
di saat dia ingat, dia menelpon mau bicara.
wajah cantik Seila yang tadinya terlihat ramah
__ADS_1
dan manis tiba-tiba berubah memerah seolah
olah lagi menahan Amarah.
"Bilang saja aku sudah tidur,"Ucap Seila dingin.
Suara Seila yang keras dan mengatakan agar
Bik inah bilang dia sudah tidur.
Membuat jantung Bima seolah olah berhenti
berdetak.
"Deg...!"
Seila tidak mau menerima telpon ku, Dia marah.
"Tapi, Non Seila kan belum tidur ?"
"sudah Bik, bilang saja aku sudah tidur,
sekarang Bik inah keluarlah aku mau tidur,
"Tapi..!Non..!
Seila mendorong pelan tubuh Bik Inah ke
luar pintu.
"Maaf, aku mau beristirahat, selamat malam
Bik,"Ucap Seila sambil menutup pintu..
Sementara Bima yang mendengar kan semua
itu mengacak acak rambutnya sambil
mengepalkan tangan.
"Maaf ,Den, Non Seila nya sudah tidur,"
"Ya, gak apa apa bik Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," Jawab Bik inah.
Setelah telpon di matikan tanpa sadar Bima
Mengebrak kan tangannya dengan keras ke pintu mobil, sehingga menimbulkan bunyi
yang sangat keras.
"Braaaaakkkkk..!"
Bondet dan iqbal yang tadinya sudah terlelap
tidur tiba-tiba terperanjat kaget' mendengar
suara yang sangat keras.
Di lihatnya wajah Bima yang merah padam
"Ada apa kak ?"
"Iya, ada apa kak kenapa kamu begitu tegang,"
"Pulang sekarang..!" Teriak Bima keras.
Membuat kedua orang itu berpandangan.
"Bagaimana bisa pulang kak, kan Ban belakang
kempes,"
Bima keluar dari mobil dan menendang
nendang kan kakinya sambil berteriak.
"Arrrrraaaaaaaaaaaaaaa.gggg..!"
Bima meluapkan rasa kesal nya.
"Ndet..?"lihat,"
"Iya, Bal, tau, pasti sudah di diamin tuh sama
Non Seila,"
"Bener, Ndet, kak Bima itu tidak bisa kalau
Non Seila ngambek, tapi kak Bima nya
selalu saja cari masalah,"
__ADS_1
"Iya, Bal, kak Bima suka bikin Kasus saja,"