
Tanpa mereka sadari dari jarak yang tidak begitu jauh tanpak sepasang mata sedang memperhatikan Bima dan Ningsih. Tatapan matanya begitu tajam setiap gerak gerik Bima dan Ningsih di perhatikan nya tanpa berkedip.
"Ternyata mereka ada di sini?" kebetulan sekali, apakah Bima sudah tau kalau Ningsih itu istrinya, aku harus mencari cara agar aku bisa mengetahui sendiri, tidak perlu menggunakan detektif yang mata duitan itu, masak cuma sekedar informasi dan foto saja duapuluh juta untung saja Arya banyak harta sehingga uang segitu tidak ada apa-apa nya.
"Stop..stop..!mbak, mau membawakan pesanan untuk orang yang duduk di ujung sana ya?"
"Iya, mbak!
"Sini, biar aku yang bawakan, aku karyawan baru di sini."
"Oh, baiklah mbak, Nih."
Pelayan itu menyerahkan nampan berisi beberapa macam makanan seafood untuk pengunjung yang duduk paling ujung.
Beruntung aku tadi sudah menyelinap masuk ke dalam ruang ganti sehingga aku sudah memakai seragam yang sama dengan para pelayan di sini, aku akan ngerjain gadis itu dan akan ku lihat bagaimana reaksi Bima jika gadis itu ku kerjain jika dia marah dan sangat membela itu sudah bisa di pastikan Bima tau kalau gadis yang ada di depannya adalah istrinya.
"Permisi, pak! ini makanannya."
"Oh, ya! trimakasih."
Pelayan itupun segera menaruh makanan di atas meja, tapi tak lama kemudian?"
Krucuk..krucuk....pyarrr...sebuah gelas berisi air tumpah mengenai baju Ningsih yang kemudian jatuh ke lantai.
"Mbak..?" hati-hati dong basah nih jadinya?"
"Ma-maaf, mbak, tidak sengaja." ucap pelayan itu sambil melirik ke arah Bima dia sedang menunggu apa reaksi Bima padanya.
Sedangkan Bima cuek dan diam saja dengan ulah pelayan restoran. Melihat Bima diam saja pelayan itupun membersihkan bekas pecahan dan kemudian melangkah pergi dengan hati kesal.
"Kenapa, Bima diam saja, dia tidak marah ataupun tersinggung sama sekali, apa jangan jangan Bima memang belum tau kalo Ningsih itu adalah Seila, aku harus mencari cara lain agar bisa lebih memastikan dugaan ku tidak kliru.
****
"Ya, basah!" gimana nih." tanya Ningsih cemas.
"Pakai jaketku, untuk menutupi bajumu yang basah, kita makan dulu habis itu baru aku akan ajak kamu untuk mencari baju."
"Tapi..!"
"Sudah makan dulu, tadi kamu lapar kan, aku tidak mau melihat wajahmu pucat karena lapar."
__ADS_1
Akhirnya Ningsih menurut karena menolak pun akan percuma Boss nya tidak suka kalau perintah nya di tolak. Dengan telaten Bima membuka cangkang kerang yang keras dan memberikan nya pada Ningsih.
"Ini, untukmu!"
Ningsih mengeryitkan dahinya, semakin kesini Ningsih semakin tidak mengerti dengan sikap Bossmya, sikapnya benar benar aneh dan sangat perhatian membuat Ningsih semakin mengagumi Bima diam diam.
"Aku, bisa buka sendiri, bapak buka kerang kepiting nya untuk bapak saja."
"Tidak apa-apa biar kamu cepat kenyang, nih lagi buka mulutnya."
"Apa? bapak jangan bercanda malu di lihat orang saya ini karyawan bapak, mana sopan karyawan di suapin Boss nya."
"Mereka tidak tau kalau kamu itu karyawan ku dan yang ada di sini itu semua sepasang kekasih atau suami istri tidak ada karyawan jadi diamlah anggap saja aku suamimu, toh mereka tidak akan tau."
"Ap-apa?Su-suami!"
Bima mengagguk.
"Ta-tapi, pak!"
"Apa, kamu tidak suka? oh ya aku lupa tentu saja kamu tidak suka kan kamu mau menikah dengan calon suami tercinta mu," ucap Bima sinis.
"Bapak, kok ngomong nya Begitu sih?"
"Baiklah, lebih baik diam dan baiklah aku trima disini kita menjadi sepasang kekasih."ucap Ningsih kemudian.
Bima yang tadinya masam kini wajahnya berubah ceria.
"Kalau begitu jangan menolak jika ku supain dan ku panggil sayang."
Ucapan Bima membuat Ningsih mendelik
"Bapak, jangan aneh anehlah."
"Lho, kan sudah sepakat, gimana?"
Ningsih menunduk kan kepala, rasaanya aneh meskipun kalau boleh jujur seneng banget, sangat berbeda jauh jika bersama Hendrato Ningsih merasa biasa saja tapi kalau bersama Bima selalu membuat nya salah tingkah dan jantung berdebar tapi yang lebih menyedihkan semua rasa yang ada harus tersimpan rapi di ujung hati yang paling dalam.
Ningsih menyemangati dirinya sendiri tidak boleh kegeeran apa yang dilakukan Bima hanya sebatas menjaga reputasi, apa jadinya jika orang tau jika Bima seorang pengusaha sukses pergi ketempat makan termewah hanya dengan gadis yang setatus nya cuma sebagai seorang karyawan tukang bersih bersih , Ningsih tersenyum kecut menggingat siapa dirinya dan siapa Bima, pemuda Tampan yang sibuk mengupas cangkang kerang kepiting untuknya.
Inilah hadiah teristimewa dari kado menjelang hari pernikahan nya dari Boss yang diam diam mencuri hatinya.
__ADS_1
"Pak, cukup!" aku sudah kenyang.
"Tambah sedikit lagi, kamu harus mencicipi susi juga."
"Tidak mau, perutku bisa mabuk kalau makan ikan segar begitu, tidak mau...tidak mau,"
"Yakin, tidak mau? ini rasanya nikmat lho."
"Bapak, makan sendiri saja." ucap Ningsih sambil membuang pandangan ke jendela segera Netranya teetuju pada sosok gadis yang melepas baju seragamnya dan membuang ke tong sampah.
"Bukankah, dia yang menumpahkan minuman di bajuku, kenapa seragamnya di buang begitu Jangan.. jangan dia....gawat aku harus kejar orang itu." Ningsih buru buru bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi.
" Mau ke mana?"
"kamar kecil sebentar pak." ucap Ningsih seraya berlari keluar.
Bima mengeryitkan dahinya,
"lho kamar kecil ada di dalam Kenapa dia lari keluar, ada ada saja."
Tak lama orang orang pada berhamburan keluar, membuat Bima penasaran ada apa di luar tambah Ningsih yang ijin ke kamar mandi tak juga kembali.
"Ada apa pak, rame rame di luar?"
"Ada, orang bekelahi!"
Karna penasaran Bima pun keluar dan ikut melihat, ketiika sudah dekat.
"Astaga..? Ningsih !"apa yang kamu lakukan."
Mendengar teriakkan Bima Ningsih pun menghentikan pukulan nya dan kesempatan itu di gunakan orang yang di pukul Ningsih kabur melarikan diri.
"Ba-bapak?"
"Apa, yang kamu lakukan di sini!"
"Dia itu ternyata bukan pelayan restoran ini, aku melihat nya membuang baju seragam di tong sampah dan orang ini harus kita bawa ke hadapan pimpinan restoran ini biar mereka beri hukuman, dia ini....lho mana orang nya tadi dia ada di sini?"
"Dia, sudah pergi, sudah jangan sok jadi jagoan ayo kita pergi, dan ingat atur pertemuan ku besok dengan calon suamimu."
"Baik, pak!
__ADS_1
*****
"Sial..! hampir aku babak belur gara gara wanita itu, beruntung Bima cepat datang dan untungnya aku memakai cadar sehingga mereka tak bisa menggenali wajahku, kini tak di ragukan lagi, Ningsih memang Seila dan tak di ragukan lagi perhatian Bima yang berlebihan menjelaskan dengan jelas kalau Bima tau Ningsih adalah istrinya, aku harus cepat Bertindak, tak kan ku biarkan kebahagiaan menghampiri mereka, tunggu saja aku tidak akan tinggal diam dengan semua ini, Nikmati kebersamaan kalian untuk beberapa saat tapi setelah itu aku akan memisahkan kalian untuk selamanya.