
Kepergian Seila yang keluar kamar membuat Bima memiliki waktu untuk membereskan semua pakaian yang dibawanya untuk disimpan di Almari dimana disana juga terdapat baju baju istrinya.
Tidak menunggu berapa lama pekerjaan memindah baju dari tas ransel ke dalam Almari akhirnya selesai sudah, Bima bisa bernafas dengan lega, bagaikan seorang pengantin baru Bima memandangi seluruh isi ruangan yang ada di dalam kamar itu dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Akhirnya aku bisa tidur satu ranjang dengannya, meskipun hari ini dia lagi ngambek pasti Nanti malam tidak akan bisa ngambek lagi." Gumam Bima yakin dan merasa PD yang kemudian dengan nyamannya dia merebahkan tubuhnya di atas Ranjang.
Di luar Ningsih yang sebenarnya Seila tengah sibuk membantu sang Ibu angkat untuk menyiapkan makan malam.
"Nduk...mana Pak Bima suamimu, kenapa dia belum keluar juga,"
"Mungkin belum selesai Bu." jawab Seila asal.
"Masak menaruh baju selama ini coba Nduk kamu lihat aku justru khawatir suamimu tertidur, jangan di ijinkan tidur sore Nduk cepat ajak suamimu makan malam."
"Baik, Bu!"
Dengan perasaan malas Seila akhirnya masuk kedalam kamarnya dan ketika pintu kamar dibuka, Seila membulat kan kedua bola matanya ketika melihat Bima sudah tidur terlentang di atas ranjangnya, dengan perasaan geram dan kesal Seila menghampiri Bima yang sedang tidur.
"Bangun Kenapa sudah tidur." Teriak Seila dengan suara lantang.
Bima yang sudah terlanjur tidur tentu saja tidak mendengar teriakan dari Seila dia tetap tidur bahkan terdengar samar-samar suara mendengkur kelihatannya Bima sedang lelah sehingga tidurnya pun mengeluarkan suara seperti orang yang sedang ngorok.
Melihat hal itu Seila dengan cepat mendekati ranjang tempat tidur dan berteriak memanggil Bima sekali lagi.
"Kak..bagun!" Karena Bima masih diam saja Akhirnya Seila berinisiatif menggoyang goyangkan tubuh Bima.
"Kak, ayo, bangun ini sudah sore, ibu menunggu mu di Ruang makan" seru Seila dengan suara lantang agar Bima bisa segera bangun..
Bima bukannya bangun justru malah memegang dan menarik tangan Seila yang menggoyang-goyang kan tangan Bima agar cepat bagun.
"Kak..apa yang kau lakukan lepaskan tanganku Ayo cepat bangun jangan pura-pura lagi." Triak Seila dengan perasaan kesal.
"Jangan pergi temani aku disini maafkan aku jangan ngambek lagi ya," seru Bima yang masih dalam keadaan mata masih terpejam."
"Kak...lepasin tanganku! seru Seila yang mulai panik sementara Bima masih tetap tidur dan tidak mendengar nya, karena kesal dan hilang kesabaran Seila melepaskan genggaman tangan Bima dengan kasar, setelah berhasil Seila yang sangat geram dengan ulah suaminya segera mengambil air mineral yang ada di atas narkas tanpa Banyak kata Seila langsung menyiram kan air satu gelas ke wajah Bima.
Tak aya lagi Bima yang sedang tidur langsung kaget dan bangun dari tempat tidurnya.
"Ada apa ini?" tanya Bima panik.
"Bagun ibu menunggumu di ruang bawah." seru Seila pada Bima suaminya yang masih saja tertidur dengan pulas nya.
__ADS_1
"Baiklah, kita ke sana. bareng bareng ya!"pinta Bima pada istrinya.
Seila hanya menjawab dengan menaikkan bahunya sebagai tanda penolakan.
"ya, di suruh menunggu tidak mau."
Seila tidak memperdulikan keluhan Bima dia bermaksud hendak meninggalkan Bima sendiri
sampai tak sengaja oleh nya Seila mendengar ponsel Bima berbunyi. Awalnya Seila berusaha cuek dan tak perduli akan tetapi, semua jadi lain ketika Bima menjawab telpon panggilan itu dengan mesra.
"Haloo....!
"Kak..datang ke acara ku malam ini juga.,"
"Tapi...!
"pokoknya harus datang titik."
"Baiklah, tapi aku datangnya pasti terlambat karena aku masih sibuk."
"Tidak masalah, yang penting Kak Bima datang."
Setelah Bima mematikan ponselnya Bima Keluar kamar menuju ruang makan dimana Seila dan Ibu Bapak angkat nya pasti sudah menunggu.
Tanpa Bima ketahui Seila yang tadinya belum benar-benar keluar kamar, tanpa sengaja sempat mendengar obrolan Antara Bima dengan sosok misterius di dalam telpon, yang mana Seila yakini pasti yang telpon adalah seorang wanita.
Dengan perasaan geram dan kesal Seila duduk di depan meja makan bersama ibu dan Bapaknya yang sudah berada di tempat itu, mereka semua sedang menunggu kedatangan Bima.
Melihat semua sudah duduk manis di depan meja makan, Bima menebarkan senyuman sebagai tanda perumpamaan kata maaf yang mana Bima sudah datang dengan terlambat.
"Maaf, Bu!maaf, Pak saya terlambat."
"Oh, tidak apa-apa Nak Bima, Ibu mengerti pasti Nak Bima kecapekan dan tertidur."
Bima tersenyum malu dengan sangat hati hati dan tanpa menimbulkan suara yang mengaggu Bima duduk di kursi dimana pandangan matanya tertuju pada sang istri yang masih dingin dan cuek.
Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
acara makan terlihat sangat hening, semua lagi diam Seila tidak membuka percakapan begitupun juga Bima dan juga ibu dan bapaknya Seila karena merasa sudah lama Bima minta izin kepada bapak dan ibu Ningsih untuk pergi
"Maaf, Pak,! Bu,! saya izin keluar dulu karena saya ada janji dengan teman ucap Bima yang mana pandangan matanya melirik pada sang istri yang terlihat wajahnya sangat biasa saja dan datar.
__ADS_1
"malam-malam begini Nak Bima." tanya sang Ibu penasaran.
Bima tersenyum malu kemudian menjawab.
"Iya, Bu,!"
"Apa nak Bima akan pergi dengan Seila?"
Bima menoleh ke arah Seila yang masih terus asyik menikmati makannya tanpa memperdulikan percakapan antara Ibu dan Suaminya, melihat istrinya diam saja dan Seolah olah cuek, Bima pun menjawab
"Iya, Bu! seperti nya Seila tidak akan ikut." ucap Bima yang mana jawaban dari Bima membuat Seila mendelik ke arah Suaminya dan sang Suami cuma tersenyum melihat reaksi dari istrinya.
"Memangnya kamu tidak mau ikut Nduk,suamimu pergi malam lho."
Karena gengsi dimana sang Suami sudah menggatakan kalau dirinya tidak ikut maka Seila menjawab.
"Iya, Bu! karena sudah malam aku mau beristirahat saja di rumah jadi Aku mengijinkan Kak Bina pergi sendiri." Jawab Seila tenang.
Sedangkan Bima yang mendengar jawaban istrinya terbatuk-batuk.
"Uhuk...uhuk...!"
"Nak Bima pelan pelan kok bisa tersedak begini, Nak tolongin tepuk tepuk tuh punggung suamimu dia batuk tuh."
"Tidak perlu Bu, saya tidak apa-apa kok.'
"Iya,Bu tidak perlu, Kak Bima kalau batuk tidak suka di tepuk tepuk tuh punggung nya.
"Oh, begitu!" jawab sang Ibu sambil manggut-manggut sebagai tanda mengerti.
Sementara Bima Hatinya merasa sangat kesal, dia sengaja mengatakan Kalau Seila tidak akan ikut, agar Seila marah kemudian ikut dengan nya, tapi yang terjadi justru Seila mengiyakan dan setuju.
Begitu juga dengan Seila hatinnya juga sangat kesal, dia berharap suaminya menggajaknya pergi tapi ternyata Bima tidak suka jika dia ikut, dari pada malu dan jadi wanita yang super tidak tau diri akhirnya Seila dengan terpaksa menerima dan melakukan apa yang diminta Bima yaitu tidak boleh ikut.
Kekesalan yang terpendam membuat Seila tidak tahan berlama-lama di meja makan, dengan sigap Seila segera mengakhiri acara makannya dan pergi masuk kembali ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal setinggi gunung Himalaya.
"Awas...saja kalau kau pulang Nanti," Ancam Seila dalam hati.
Bima yang juga merasakan kecewa juga bergumam dalam hati.
"awas saja sudah berani menolak menemaniku, aku akan minta imbalan Nanti."Gumam Bima dalam hati.
__ADS_1