Kabut Cinta

Kabut Cinta
31. Jangan Menyiksa Diri


__ADS_3

Jenazah Yoga pun dari rumah sakit esok paginya langsung dibawa ke rumah duka, namun atas permintaan Ibu mertuanya, Laras akhirnya tak bisa ikut mengantar,


Bahkan, ketika kemudian Yoga dimakamkan, Laras juga dilarang oleh Ibunya Yoga dan keluarga besarnya untuk datang,


Tentu saja, itu karena Ibunya Yoga yang menceritakan semua tentang Laras yang pastinya didramatisir seperti biasa,


Meskipun, Temmi telah berusaha menjelaskan jika apa yang terjadi tidaklah semuanya persis sebagaimana pemikiran Ibunya, namun tetap saja, sudah biasa jika apa yang dikatakan orangtua selalu lebih didengar banyak orang,


Laras pun tentu saja menangis seharian itu di lantai dua tempat makan milik Arin, ia sungguh malah jadi merasa bersalah dengan keputusannya meninggalkan rumah,


Mungkin memang benar kata Ibu mertuanya, jika secara tidak langsung Laras lah penyebab kematian suaminya sendiri,


"Kamu tidak boleh merasa begitu Ras, kematian itu takdir, kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri?"


Arin yang sejak semalam sampai tak pulang karena tak tega meninggalkan Laras terlihat mulai kesal melihat Laras yang malah jadi menyalahkan diri sendiri,


"Tapi karena akulah semua terjadi Rin, akulah penyebabnya Mas Yoga akhirnya harus pergi ke sana dan mengalami kecelakaan,"


"Yang namanya takdir itu Ras, sekalipun kamu tidak pergi dari rumah Yoga, pasti dia juga tetap akan pergi ke daerah itu entah untuk kepentingan apa,"

__ADS_1


Kata Arin,


Laras yang terduduk di atas karpet dan bersandar pada tembok ruangan lantai dua itupun terlihatnya sibuk menyeka air mata,


Angga sendiri telah tidur sejak pulang dari rumah sakit, anak itu tidur dengan pulas, meskipun air mata sesekali masih terlihat menetes dari sudut matanya,


"Jangan menyiksa dirimu seperti ini Ras, tidak apa kamu sedih, tidak apa kamu kecewa karena tak bisa mengantarkan jenazah Yoga dimakamkan, tapi, menyalahkan diri sendiri atas kematian seseorang itu hanya akan membuatmu terluka, kamu tak kasihan pada dirimu sendiri Ras namanya,"


Arin mencoba terus memberikan nasehat yang paling baik untuk sahabatnya,


"Andai kamu tak kasihan pada dirimu sendiri, maka kasihanilah anakmu, bagaimanapun sekarang Yoga sudah tidak ada, dia sudah tak akan bisa hidup lagi bagaimanapun caranya kamu menangisinya, yang saat ini masih hidup adalah anakmu, anak satu-satunya yang kamu dan Yoga miliki, jadi harusnya kamu harus kuat demi dia, tidak boleh selalu sedih demi dia,"


Laras pun menatap Arin,


Mendengar apa yang dikatakan Arin membuatnya sontak seolah ditampar dan akhirnya sadar,


Ya, Angga, buah hatinya, dialah yang kini harus paling ia fokuskan, benar pula kata Arin, jika orang yang telah meninggal, mau kita menangis macam apapun untuknya, tetap saja ia tak akan kembali,


Arin kemudian menepuk-nepuk bahu Laras, sebelum kemudian Arin berdiri,

__ADS_1


"Aku lelah sekali Ras, aku ingin istirahat, kamu juga harusnya Istirahat agar tidak sampai sakit, besok setelah kamu tenang, kita bisa bicara lagi, tentang rencana ke depannya kamu ingin bagaimana,"


Ujar Arin memberikan pendapatnya lagi,


"Kalau mau istirahat, tidur saja di kamar dengan Angga Rin, biar aku di sini, tidak apa-apa,"


Kata Laras seraya menyeka air matanya yang tersisa di pipi,


Arin tampak menggeleng pelan,


"Tidak Ras, kamu saja yang istirahat di kamar dengan anakmu, jangan sampai nanti dia bangun dan tidak mendapati Mamanya ada di sampingnya,"


Kata Arin,


Laras pun terkesiap, kembali ia sadar dan ingat jika Angga seringkali akan kebingungan jika bangun tapi Laras tidak ada, meskipun sejak tidur di tempat Arin, bisa dikatakan Angga sudah lebih mandiri,


"Aku akan pulang ke rumah Ras, besok pagi baru aku akan kembali ke sini, tempat makan biar para pegawai yang urus,"


Kata Laras pula.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2