
Esok harinya, sesuai yang telah diniatkan oleh Arin dan Laras, keduanya pergi ke kantor pengacara kenalan Arin,
Laras untuk menghindari kejadian yang sama seperti hari kemarin, maka Angga pun diputuskan untuk tidak berangkat ke sekolah lebih dulu, bahkan menurut Arin akan lebih baik nantinya Angga juga pindah sekolah saja, agar tak mudah bagi Yoga nantinya datang mengganggu lagi,
"Nanti setelah kita bertemu pengacara yang akan membantu proses perceraianmu, kita coba cari sekolah lain yang bagus untuk Angga,"
Kata Arin saat keduanya berada di dalam mobil untuk menuju kantor pengacara,
"Tapi biayanya..."
Laras yang duduk di sebelah Arin yang tengah mengemudi terlihat ragu,
"Ras, biaya tidak usah dipikirkan, toh kamu kan bekerja di tempatku, jadi tidak usah khawatir, pokoknya kita harus pastikan hidupmu dan Angga mulai sekarang harus lebih baik,"
Ujar Arin,
"Ya Rin, aku memang benar-benar sudah ingin hidupku berubah Rin,"
Kata Laras lirih, matanya menatap lurus ke depan, di mana kini jalanan hari ini terlihat lenggang,
"Kamu pasti bisa Ras, demi anakmu, kamu harus benar-benar memperjuangkan semuanya dengan segenap kekuatan yang ada pada dirimu,"
Kata Arin menyemangati,
Laras mengangguk pelan,
"Ya Rin,"
Arin terlihat sekilas menatap Laras, sebelum kemudian tersenyum tipis,
"Hidup selalu ada lika-liku Ras, tidak perlu berkecil hati, akan ada masanya nanti juga kamu akan sampai ke titik yang kamu inginkan,"
Laras menghela nafas, matanya kembali berkaca-kaca, sejak semalam ia terus sibuk memikirkan perjalanan hidupnya yang begitu rumit sejak memutuskan menikah dengan Yoga,
__ADS_1
"Kau tahu Rin?"
Tiba-tiba Laras bertanya,
Arin yang sedang membawa mobilnya berbelok di pertigaan tampak hanya mengangguk dan menyahut singkat saja,
"Ya Ras,"
"Aku semalaman memikirkan semuanya, dan aku..."
Suara Laras tercekat sejenak, lalu...
Laras tampak mengambil selembar tisu dari wadah yang ada di antara Laras dan Arin, dipakainya kemudian untuk menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya,
"Aku rasa, semua yang menimpaku ini karena kedua orangtua ku yang tidak meridhoi ku Rin,"
Lirih Laras kemudian,
Arin menoleh ke arah Laras,
Tanya Arin,
Laras mengangguk,
"Ya Rin, sejak menikah dengan Mas Yoga, dan Angga lahir, aku belum pernah pulang lagi ke rumah, terutama saat akhirnya aku dan Mas Yoga sama-sama menganggur, aku terlalu takut Ibu dan Bapakku melihat kondisiku, aku bersembunyi dari kisah hidupku yang begitu buruk, tapi semakin aku bersembunyi, aku sadar bahwa aku makin tenggelam dan akhirnya semua jadi terlihat semakin gelap,"
Kata Laras dengan suara yang terdengar seperti begitu berat,
Arin menghela nafas, ia seperti jadi ikut merasakan apa yang dirasakan Laras, apalagi Arin juga jadi ikut teringat kedua orangtua Laras yang dulu Arin juga sering bertemu mereka ketika main ke rumah Laras untuk sekedar minta tolong Laras agar menggarap PR miliknya,
"Kalau begitu, mau mengunjungi mereka Ras?"
Tanya Arin kemudian,
__ADS_1
Laras tertunduk, sambil tangannya mengusap pipinya yang kini sudah benar-benar jadi basah oleh air mata dengan tisu,
"Tapi saat ini aku masih terlalu menyedihkan Rin, aku takut mereka akan tersenyum melihat aku yang dulu tak mendengarkan nasehat mereka akhirnya kini menuai apa yang aku tanam,"
Kata Laras dengan masih berurai air mata,
Arin yang mendengarnya menggeleng pelan, sambil kemudian ia mengarahkan mobilnya mendekati sebuah bangunan lantai tiga yang merupakan kantor pengacara kenalan Arin,
"Orangtua tidak akan pernah menertawakan kesedihan anaknya Ras, mereka tak akan pernah tersenyum dengan hal buruk yang menimpa anaknya, malah justeru sebaliknya Ras, mereka mungkin justeru akan bahagia sekali bisa melihatmu lagi, meskipun dalam keadaan seperti apapun itu,"
Kata Arin yang kemudian sambil sibuk mencari tempat yang tak begitu jauh dari pintu masuk untuk memarkir mobilnya,
"Aku akan mengantarmu mengunjungi mereka jika kamu mau Ras, mungkin dengan nanti bertemu dengan keduanya justeru semua kesulitan akan mendapatkan kemudahan, mungkin setelah kamu sungkem dengan mereka semua pintu kebaikan terbuka, ya kan?"
Ujar Arin sambil memarkirkan mobilnya begitu menemukan tempat yang dirasanya pas untuk parkir,
"Aku harus ajak Angga, ya kan Rin?"
Lirih Laras kemudian,
Arin mengangguk,
"Ya, tentu, sudah seharusnya bukan seorang cucu mengenal kakek neneknya,"
Ujar Arin,
Laras tersenyum, lalu menghela nafas,
"Baiklah, setelah urusan dengan pengacara selesai, mungkin pulang ke rumah orangtua adalah satu pilihan yang paling baik untuk aku lakukan Rin,"
Mendengarnya tentu saja Arin tersenyum, ia menepuk bahu Laras dengan lembut,
"Percayalah, kasih sayang orangtua untuk anak nya tak pernah lekang dan berkurang, meski beribu kali anak mengabaikan nasehat, kasih sayang orangtua tetap tidak akan berubah,"
__ADS_1
Kata Arin pula meyakinkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...