
Ratna terus menangis dan memohon tapi Hendrato yang sudah sangat kesal dan habis kesabaran kini tak lagi diam, tekadnya untuk menceraikan Ratna istrinya sudah bulat.
"Kau benar benar egois pa..!" kau mau harta warisan dari Almarhum kakek, kau kuasai sendiri, kau tak ubahnya perampok harta keluarga," seru Ratna berapi api,yang kini dia tak mau lagi mengemis dan berlutut meminta belas kasian dari suaminya.
"Apa? kau bilang aku perampok, ha ...ha...ha ..!coba tanya pada dirimu sendiri juga Nenek tercinta mu, mengapa harta warisan nya justru di limpahan semua kepadaku, mengapa mereka justru mempercayakan pada orang asing seperti ku, bukankah yang lebih tau alasannya adalah kalian, aku sudah cukup bersabar menghadapi mu, kegiatan mu cuma berfoyah foya dan menghabiskan uang, tanpa mau tau dan belajar bagaimana cara mengembangkan usaha agar terus maju dan berkembang, sekarang kau tanyakan tentang harta warisan, jika bukan karena aku yang mempertahankan semuanya sudah pasti hancur dan berakhir perusahaan kakekmu,"
"Aku, memang tidak bisa menggembangkan usaha, tapi setidaknya kembalikan harta warisan kakek kepadaku, karna kau dan aku akan menjadi orang asing, jadi tidak pantas jika kamu masih mau memiliki harta warisan kami, lagi pula harta itu juga untuk masa depan putraku yang juga anakmu kan?"
"Kau, tidak usah khawatir, aku bukan tipe manusia serakah seperti mu, bahkan rela meracuni untuk mengambil alih harta warisan, keluarga,"
"Apa, kau bicara apa pa..! aku tidak mengerti maksdmu,"
"Benarkah, atau kau sedang berpura pura, jika bukan karena kebaikkan kakekmu sudah pasti kau dan Nenekmu berakhir di penjara."
Ratna tidak pernah menyangka jika ternyata suaminya menggetahui banyak hal tentang rahasia pribadinya.
"Jangan sembarang menuduh, kalau hanya ingin menutupi tuduhan perampok keluarga, kaulah perampok harta keluarga pa,"
"Terserah, tuduhan mu yang jelas perceraian kita akan segera terjadi, bersiaplah menjadi wanita gelandangan, karena aku tidak akan memberikan sedikitpun harta warisan kepadamu, karena semua harta warisan itu sudah kulimpah kan atas nama putramu, sebelum dia berumur 18 tahun, tidak ada yang bisa menganggu ataupun mempergunakan harta itu, ada tawaran menarik untuk mu, agar kau tidak menjadi gelandangan, Rumah ini boleh kau tempati sesukamu dan jika kau mau kau boleh bekerja di tempat ku agar kau bisa punya uang, ingat? kau tidak bisa menjual Rumah ini, selamat menikmati hari harimu, smoga kau bahagia mantan istriku,"
Hendrato melangkah pergi dengan membawa koper dan beberapa bajunya, tapi sebelum langkah kakinya sampai di pintu, Hendrato menoleh ke belakang dan memberikan kiss jarak jauh dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Emuaahh, selamat tinggal istriku sampai ketemu lagi di pengadilan, ingat jika kau memiliki niat buruk mencelakakan ku dan jika aku mati maka harta warisan keluarga otomatis jatuh pada pantai asuhan."
"Brengsek kau pa...!"
Ratna melempar semua benda yang ada di dekatnya ke arah Hendrato yang tersenyum Miring menatapnya.
Dengan mengendarai mobil pribadi Hendrato pergi meninggalkan Rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggal nya, dia pergi ke sebuah Apartemen yang tidak terlalu besar untuk sementara waktu karena selepas itu Hendrato beniat ke luar Negeri untuk menemui sahabat lamanya yang sudah lama tak di temui.
*****
Desir angin berhembus kencang, menerpa dedaunan yang sedang bermekaran, tetes tetes embun masih terlihat jelas, buliran buliran bening yang jatuh di atas daun menunjukkan hari masih sangat pagi.
Dengan langkah pasti dan seakan akan tergesa-gesa Seila pergi ke dapur, kedatangan Seila ke dapur yang tiba-tiba apalagi hari masih pagi membuat Sang Bibik kaget dan merasa aneh.
"Non, Seila sudah bangun!
"Iya, Bik,"
"Apa, Non Seila, butuh sesuatu, kok tumben ke dapur."
Seila tersenyum ramah mendengar pertanyaan Bik inah.
"Masak, ke dapur saja ngak boleh Bik,'
"Ya, boleh Non tapi kan ini serasa aneh begitu,"
"Aku, mau bikin Nasi goreng buat Kak Bima,"
"Apa?
"Hei...! kenapa Bibik melotot begitu seperti melihat hantu saja,"
__ADS_1
"Anu, Non, apa Bibik tidak salah dengar? apa bener Non Seila mau masakin buat Den Bima,"
"Ya, bener lah Bik, masak bohong,"
"Wah..!pasti Den Bima bahagia sekali, Bibik jadi iri," ucapnya sambil terkekeh kecil.
"Bibik juga mau kah,"
"Heeeeee...iya, tapi ngak lah Non Seila buat buaz Den Bima saja,"
"Tenang, entar aku buat Nasi goreng untuk Kak Bima dan Bik Inah juga,"
"Yang, bener, Non!"
"Iya, bener," ucap Seila tersenyum.
"Trimakasih, Non, ngak sabar ingin nyicipin masakan Non Seila,"
"Ya, harus sabar dong,"
Seila menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan nya untuk memasak, ketiika Seila mengiris tomat tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.
"Oeeek...oeeeek....oeeeek!
"Sebentar, ya, Non seperti nya Non Vira bangun,"
"Iya, Bik,"
Sang Bibik masuk ke dalam kamar dan keluar dengan mengendong Vira kecil, tapi suara tangisan Vira tak juga berhenti, Bibik yang mencoba menenangkannya tetap tak membuat Vira kecil berhenti menangis, membuat Seila menghentikan kegiatan nya.
"Ngak tau Non, ini aneh ngak biasanya Mon Vira rewel begini, sudah ku kasih susu juga masih tetap nanggis."
"Ya, sudah coba aku yang gendong,"
Seila mencuci tangannya dengan bersih kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Sini, apa anak cantik mau di gendong mama, hei dia mau Bik, lihat tangannya diarahkan ke aku,"
"Wah, iya, Non, rupanya mau di gendong mamanya,"
"Eh, printer Nangisnya juga sudah tiba tiba diam,"
Bima yang terganggu suara tanggis Vira segera turun ke bawah dan ketika melihat Vira digendong Seila Bima tersenyum bahagia.
'Nah, Vira anak mama tuh, nangisnya jadi diam,"cletuk Bima
"Iya, tumben sama Bik inah, ngak mau kak,"
"Non Vira, sini sudah sekarang sama Bibik lagi ya mama mau masak tuh,"
Bik inah segera mengambil Vira dari gendongan Seila tapi lagi-lagi Vira menangis dengan tangan mungilnya memegang baju Seila.
"Oeeek....oeeeek..oeeek!
__ADS_1
"Lha sepertinya Non Vira ngak mau,"
"Ya, sudah, Bik, biarkan sama aku dulu nanti saja masaknya,"
"Sayang, cocok tuh,"
"Apaan, sih kak,"
"Sebenarnya Vira cantik dan cocok jadi anak kandung kita hidungnya mirip kamu sayang mancung banget, cuma kulit saja yang bikin orang tau Vira bukan anak kandung kita, kulitnya hitam banget," ucap Bima sambil terkekeh.
"Kan, papanya asli orang Negro Kak sudah jelas hitamlah, kalau berubah putih bukan lagi anak orang Negro dong,"
"Sayang, kita oprasi kan kulit saja biar kulitnya putih seperti kita,"
"Jangan, entar ibunya bingung,"
"He..he..he..iya, hitam gak papa kan Vira jadi hitam manis,"
"Aduuuuuhhhh, sakit kak Bima tolong, Vira menarik rambutku, owwh,"
"Jangan, di tarik tarik rambutnya mama sayang sakit, kasian kalo mama nangis,"
"Itu bukan narik rambutnya Non Seila, tapi mau narik penjepit rambutnya Non Seila,"
'Oh, mau penjepit punya mama, sebentar,"
"Kak, cepat ambilkan penjempit di dalam kamar,"
Berbegas Bima berlari ke kamar atas dan menemukan beberapa aksesoris penjepit di ambilnya satu kemudian di serahkan nya kepada Seila,"
"Nah, sudah, sayang lepasin penjepit mama, ini ada yang baru papa ambilkan,"
Vira kecil menatap penjepit pemberian Seila di ambilnya tapi kemudian dia buang dan kembali tangan kecil itu menarik narik rambut Seila yang terdapat penjepit di situ.
"Dia, ngak mau yang itu, rupanya yang Vira incar yang ku pakai ini, ayo kak tolong cepet ambilin, sakit nih di tarik tarik terus,"
" Iya, sayang sabar,"
Dengan lembut Bima melepaskan penjepit yang di pakai Seila dan di berikan kepada Vira.
"Mau, yang punya mama ini ya ?"
Dengan cepat Vira meraih penjepit yang di berikan Bima dan dengan gerakan lucu tangannya yang memegang penjepit lalu menaruhnya di atas rambutnya yang kriting.
"Hei..!Vira mau apa?mau memakai penjepit mama ya," tanya Seila sambil senyum senyum.
"Sini..! Biar papa bantuin,"
Dengan telaten Bima memakaikan penjepit di rambut Vira yang kriting.
"Nah, sudah..sudah cantik anak papa cup ah,"
Bima memberikan kecupan kepada pipi kanan dan kiri Vira.
__ADS_1
Dengan gerakan tangan yang lucu Vira bertepuk tangan karena senang, membuat Bima , Seila dan Bik inah tertawa.