Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.127.HAMPIR KELEPASAN


__ADS_3

Sudah kebiasaan habis menyeruput kopi pahit Bima langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua.


"kalau tiap hari dapat hidangan kopi pahit bisa bisa mabuk ini perutku, aku harus menyimpan gula cadangan agar kopinya ngak pahit," Gumam Bima dalam hati sambil terkekeh.


Ketika keluar Bima terkejut melihat ruangan belum bersih dan gadis yang bertugas membersihkan tidak terlihat, ijuk sapu dan kemonceng masih tergeletak di atas meja.


"Kemana lagi, gadis itu, bekerja belum beres kok sudah pergi seenaknya saja bekerja akan ku lihat di luar."


Ketika kaki Bima hendak melangkah keluar tiba-tiba telinga Bima mendengar sebuah suara yang membuat telinga nya semakin panas.


"Iya, Mas! aku juga rindu kepadamu."


"Ayo, kita vidio call saja, mas ingin lihat wajah Ningsih, Mas kangen di sini."


"Jangan mas, Ningsih ngak pakai make up, lagi pula Ningsih lagi bekerja jadi ngak usah lihat Wajah Ningsih, Mas Hen kan sudah tau semua." jawab Ningsih tersipu.


"Ningsih, Bekerja di mana dan dapat pekerjaan apa?"


Dengan malu malu Ningsih menjawab pertanyaan kekasih nya.


"Sebagai pelayan kopi dan bersih-bersih."


"Apa?" jadi pelayan, memang tidak ada pekerjaan lain, sudah Mas ngak mau Ningsih kerja lebih baik Ningsih di Rumah saja temanin ibu, Nanti mas yang kirim uang untuk kebutuhan kalian."


"Ngak mau, mas Hen, kan belum menjadi suamiku, aku tidak mau merepotkan sebelum kita resmi."


"Tapi, Ning!


"Sudahlah, Mas! biarkan aku melakukan apa yang aku suka dan apa yang aku bisa."


"Tapi,Ning pekerjaan bersih bersih itu pekerjaan yang sangat rendah lagi pula pasti gajinya tidak seberapa,"


"Ngak, papa Mas, Ningsih bisa kok."


"Baiklah, Ningsih boleh lanjut kerja tapi kasih cium mas dulu."


"Tapi, Mas! ini Ningsih di kantor."


"Ya, sudah kalau tidak mau, mas juga tidak mau menutup telponnya."


Dengan sangat terpaksa takut si boss galak sudah keluar dari kamar mandi Ningsih segera memberikan kecupan jarak jauh, Ningsih meletakkan dua jari tangannya dibibir kemudian digerakkan tangan itu kedepan.


"Emmuaaaaahh."

__ADS_1


Tapi ketika bunyi muahh keluar dari bibirnya dan tangannya terjulur kedepan, tiba-tiba Ningsih melotot dengan sempurna pasalnya tepat berada di depannya tepat pada saat tangannya memberikan kiss jarak jauh tangan Ningsih mengarah pada wajah tampan Bima yang menatapnya tak berkedip.


"Ba-bapak!"


"Apa, yang kau lakukan disini?"


"Eng...anu..eng itu tadi, aku..


"Telpon, pacar?"tanya Bima cepat.


Dengan mimik lucu plus cengar cengir Ningsih mengagguk.


"Trus, itu tadi ada cium jarak jauh untuk siapa? untukku!


Mendengar perkataan Bima Ningsih segera mendelik.


"Ya, untuk pacarku, pak!


"Kalau untuk pacar itu, arah tangan dan mencium nya itu pada layar hape bukan sembarangan di arahkan, itu tadi jelas jelas kamu mengarahkan kepada ku bohong kalau aku berdiri di depan mu kamu tidak tau."


"ih, bapak, kalau ngomong sembarangan, tidak mungkin lah aku berani sembarangan cium jauh ke Bapak, lagi pula bapak kan sudah tua siapa juga yang tertarik." Ucap Ningsih sambil tertawa.


Ningsih tidak menyadari jika ucapannya menyulut emosi Bima, dengan gerakan refleks Bima menarik tubuh ramping di depan nya dengan kuat sehingga menempel erat pada tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah Ningsih bayangkan, kini tubuh mereka sangat dekat Sehingga Nafas hangat Bima menerpa wajah Ningsih, yang kini bagaikan kepiting rebus.


Wajah Ningsih semakin memerah dan tubuh nya menggigil karena takut.


""Ja-jangan, pak! lepaskan saya."


"Jika, aku tidak mau bagaimana? goda Bima tersenyum nakal.


Ningsih tidak menjawab pertanyaan Bima tapi air matanya mulai menetes di pipinya yang halus, melihat gadis di depannya menangis Bima segera melepaskan genggaman tangannya yang mengunci gerak gadis itu.


"Sudah, jangan menangis, tidak di apa apain juga kok, lain kali jangan sembarangan ngatain aku tua, kalau aku marah dan khilaf jangan salahkan aku." cetus Bima yang kemudian melangkah ke tempat duduknya.


Melihat Ningsih masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Sudah, taruh hape kamu di sini dan cepat kembali bekerja, hapus tuh air mata kamu bikin jelek saja."


Ningsih pun segera menghapus air matanya dan berjalan mendekati meja kerja Bima dan menaruh hape di atas meja Bima.


Bima yang entah mengapa merasa hatinya tidak bisa di ajak kompromi segera pergi meninggalkan ruangan itu dan memilih duduk diruang sebelah yang juga kebetulan kosong.


"Hampir saja aku kelepasan, kenapa aku ingin sekali menikmati lembut bibirnya, benar benar aku sudah tidak waras, Araaaaaagghhh, rasanya begitu mengoda bersama Seila aku tidak merasakan rasa yang seperti ini ada apa ini apakah ini tanda tanda hatiku mulai selingkuh."

__ADS_1


Dengan pikiran yang sangat kacau Bima segera mengambil air putih dan menegakan dalam sekali minum langsung tandas.


"Glegek....glegek...glegek!"


Setelah merasa segar dan sudah bisa mengontrol keadaan hatinya Bima kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya ketiika pintu terbuka Bima melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ningsih memakai sepatu hak tinggi berdiri di atas meja membersihkan kaca


"Nekad sekali, ini anak masak membersihkan kaca naik di atas meja menggunakan sepatu hak tinggi, dari mana dia tau di kantor ini ada sepatu hak tinggi milik Seila."


Belum juga selesai Bima bicara dengan hatinya sendiri tiba-tiba.


"Awas .pak! minggir."


Byuurr...! air yang ada di samping Ningsih tersengol kaki jatuh kelantai tepat mengenai baju Bima yang berjalan.


"Ningsih.....!!! Turun kamu."teriak Bima geram.


"Maaf, pak! tidak sengaja."


"Kamu, bisa kerja tidak sih dan lagi ini lantai tambah kotor."


"Makanya, bapak jangan cuma berdiri saja, ayo bantu aku, biar cepat selesai,"


Bima melongo mendengar Ningsih justru merintahnya.


Benar benar hari yang menyebalkan dengan pekerja baru yang sangat ceroboh, suatu pekerjaan yang seharusnya hanya di kerjakan pekerjanya, justru Bima pun ikut bekerja entah mengapa Bima dengan senang hati membantu pekerjaan Ningsih, bahkan tanpa di sadari Ningsih, Bima sering mencuri curi Padang padanya, Bima menggakui jika dalam diri gadis itu ada sesuatu yang membuat nya selalu ingin dekat dan dekat, meskipun terkadang Bima menampakkan suatu sikap yang galak kegalakan pada Ningsih semua dia lakukan demi bisa mengontrol keadaan hatinya yang sering membuat nya salting ketika berada di dekat nya.


****


Seila yang baru bangun tidur dan tidak mendapati Bima segera berlari mencari Bik inah.


"Bik!


"Ya, Non! ada apa?"


"Mas, Bima kemana?"


"Sudah berangkat kerja dari tadi pagi."


"Kok, ngak pamit sama aku,"


"Saya, tidak tau Non!"


Dengan wajah kesal Seila kembali ke dalam kamar nya.

__ADS_1


"Kenapa akhir-akhir ini Bima terlihat aneh, dia juga tidak seromantis ketika awal aku datang, jangan jangan Bima sudah tau kalau aku bukan Seila, tidak, ini tidak mungkin Bima tidak mungkin tau, lalu kenapa Bima kini berubah atau jangan-jangan ada wanita lain yang sedang mengikat hatinya, aku harus mencari tau, aku tidak mau apa yang aku usahakan selama ini gagal dan sia sia, siapapun wanita yang kini mencoba mendekati Bima akan hanis di tanganku.


__ADS_2