
Sore hari ini hujan turun cukup deras di luar sana, Temmi tampak membetulkan letak selimut di tubuh Ibunya yang tengah sakit dan saat ini tertidur lelap di tempat tidurnya,
"Ibu masih lemas, dia sama sekali tak mau makan,"
Begitu kata perawat yang sengaja diminta Temmi untuk merawat Ibunya,
Ya, setelah pemakaman Mas Yoga, kakaknya, Ibu yang begitu syok dengan kepergian anaknya itu kemudian jatuh sakit,
Tampaknya sulit bagi Ibu untuk menerima kenyataan jika Yoga, anak sulungnya itu telah berpulang karena kecelakaan,
Temmi menghela nafas panjang, ia berjalan pelan keluar dari kamar Ibunya,
Hatinya kini begitu sedih, karena melihat Ibu yang keadaannya semakin hari semakin memburuk,
Temmi lantas duduk di kursi tak jauh dari kamar Ibunya, laki-laki muda itu duduk tercenung sendirian di sana,
Ia juga tampak lebih kurus sekarang, tentu karena ia lelah fisik dan juga lelah pikiran juga,
Di saat ia tengah sibuk mengurus perceraiannya dengan Mariska, yang prosesnya sedikit lebih rumit karena ada pembagian harta gono gini yang sudah cukup banyak dari hasil Temmi dan Mariska bekerja selama dalam pernikahan,
"Tuan,"
Tiba-tiba perawat yang merawat Ibu muncul di lantai dua tersebut,
Ia baru saja dari lantai satu untuk membuatkan bubur dan juga sayur agar Ibu Tuannya bersedia makan meskipun hanya sedikit saja,
"Tuan, ini sudah hampir satu Minggu, menurut saya sebaiknya Nyonya dibawa kembali ke rumah sakit saja,"
__ADS_1
Kata si perawat,
Temmi tampak menatap perawat yang kini berdiri di depannya itu,
"Maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi ini saya pikir akan jadi penting untuk saya menyampaikan hal ini pada Tuan,"
"Ya, katakan saja Mbak, saya akan dengarkan,"
Kata Temmi,
Perawat tersebut kemudian mengangguk, lalu...
"Angga, beberapa hari ini, jika terbangun, Nyonya sering menyebut nama Angga,"
Ujar si perawat,
Temmi seperti bertanya,
Si perawat mengangguk mengiyakan,
"Iya Tuan, beliau beberapa kali menyebut nama Angga, saya tidak tahu dia siapa, tapi...."
"Dia keponakanku Mbak, anak dari mendiang Mas Yoga,"
Kata Temmi,
"Oh begitu, lalu... apa tidak sebaiknya keponakan Tuan diminta datang sebentar untuk menjenguk Neneknya, kasihan Ibunya Tuan, mungkin saja begitu nanti bertemu dengan cucunya itu sakitnya akan sembuh,"
__ADS_1
Ujar si perawat yang usianya memang sudah sekitar empat puluh tahunan itu,
Temmi pun sejenak terdiam, ia mencoba mempertimbangkan saran dari orang yang telah merawat Ibunya beberapa hari ini,
Membawa Angga bertemu dengan Ibu?
Ah yah, apa memang sebaiknya Angga diminta datang menemui Ibu?
Tapi, pertanyaannya, di mana Angga saat ini tinggal?
Temmi bahkan belum sempat menanyakan pada Laras soal di mana mereka tinggal sejak keluar dari rumah,
Karena di rumah orangtuanya pun Laras kabarnya belum pernah berkunjung sama sekali,
Temmi mengurut kening, ke mana kira-kira sebaiknya ia mencari Laras dan Angga,
Laki-laki muda itu bahkan masih sibuk berpikir setelah perawat Ibunya itu pamit masuk ke dalam kamar di mana Ibunya terbaring lemah,
Hingga kemudian, tiba-tiba, Temmi teringat kawannya yang juga merupakan Pengacara yang tengah menangani kasus perceraian Temmi dan mantan istrinya,
Ya, Temmi ingat jika dirinya sempat bertemu dengan Laras di sana, bisa jadi Hendrawan tahu di mana Laras saat ini,
Atau...
Temmi sejenak mengingat kata-kata Hendrawan hari itu, soal teman Laras yang merupakan pemilik sebuah rumah makan yang cukup terkenal,
Ah, mungkinkah saat ini Laras dan Angga tinggal bersama perempuan itu? Batin Temmi kemudian.
__ADS_1
...****************...