
Ketika Bima sudah membawa Es Doger kesukaan Seila, pandangan matanya tertuju pada seorang laki-laki yang tatapan matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk bersellonjor kaki di rerumputan hijau. Awalnya Bima berfikir orang itu hanya tak sengaja memandang dan cuma sebentar saja, tapi ternyata tidak, laki-laki itu masih saja terus memandangi gadis yang sedang bersellonjor kaki, membuat Bima kesal dan sedikit emosi pasalnya gadis yang bersellonjor kaki itu adalah istrinya, Seila.
"Apa, yang sedang kau lihat !" tanya Bima geram.
Pertanyaan yang membuat laki-laki itu terkejut dan menoleh, tanpa basa basi laki-laki itu berkata.
"Aku, sedang melihat gadis yang duduk di rumput itu, dia cantik!"
Mendengar ada laki-laki lain memuji istrinya Bima mengepalkan tangannya siap untuk meniju orang yang tidak tau diri itu, ketiika tangannya yang sudah terangkat dan siap untuk meniju Bima urungkan ketika laki-laki itu
melanjutkan ucapannya yang membuat Bima tertegun.
"Tapi dia gadis yang malang, smoga dia bisa sabar menghadapi semua cobaannya."
Bima memicingkan matanya mendengar ucapan laki-laki di samping nya dengan cepat di tariknya krah laki-laki itu menghadap nya.
"Apa maksud mu mengatakan istriku gadis yang malang hah..!" teriak Bima emosi sehingga es Doger yang ada di genggaman nya dia buang, kedua tangannya mencengkram bahu sang laki-laki di depan nya.
"Maaf, aku tidak tau kalau anda suaminya,"
"Jangan sembarangan ngatakan istriku gadis yang malang, kau pikir aku telah membuat sengsara hidupnya apa? hingga seenaknya kau bilang dia gadis yang malang,"umpat Bima emosi.
"Sabar, mas! sabar, bukan maksud ku begitu,"ucap laki-laki itu menenangkan Bima yang tersulut emosi.
"Lalu apa maksudmu, bicara begitu !"
"Mas, tolong lepaskan dulu, cengraman mas, saya akan katakan alasannya."
Dengan kasar Bima melepaskan cengkraman nya.
"Katakan, apa alasannya,"
"Aku melihat, ada putaran awan hitam yang sedang menggelilingi nya, putaran awan hitam itu pertanda suatu keburukan, akan terjadi,"
"Omong kosong apa, anda ini mas!"hari gini sok, sokan meramal, tobat mas, tobat!" kehidupan ini, Allah yang mengatur, jadi jangan berlagak sok jadi dukun peramal dadakan,"ledek Bima sengit.
"Mas, benar!" dunia dan isinya ini segala rahasia nya adalah milik Allah, tapi mas harus tau, ada juga beberapa manusia yang di berikan kelebihan oleh Allah, ada yang bisa melihat mahkluk alam lain, ada yang bisa terbang, ada yang bisa melihat masa depan ada juga yang bisa melihat garis nasib orang, itu semua atas kuasa Allah mas, kita di dunia ini hanya pewayang yang menjalankan perintahnya saja, begitu juga dengan saya mas, saya hanya mengatakan apa yang saya rasa, selebihnya kita semua harus berserah pada Allah, cuma untuk berjaga jaga agar kita lebih berhati-hati mas,"
"Omong kosong!" pergilah, aku tidak percaya dengan segala ***** bengek yang kamu katakan itu, tidak ada satu manusia pun yang bisa mengerti akan bagaimana manusia ke depan nya, pergilah Mbah dukun, aku tidak butuh ocehanmu, dasar dukun dadakan palsu," cibir Bima sengit.
Sementara laki-laki itu hanya tersenyum melihat kemarahan Bima.
__ADS_1
"Saya tau, mas kecewa dengan perkataan saya, karena saat ini mas lagi senang dan bermekaran bunga-bunga cinta tapi kalau bisa jangan lah rasa itu membuat mas terlena dan tidak waspada,"
"Sudah,sudah!stop..!"pusing aku, mendengar kan ceramah dari Mbah dukun dadakan seperti kamu mas, lebih baik mas cepat pergi saja dan ya, baiklah trimakasih atas Nasehatnya,"
"Baiklah, saya permisi dulu mas,"
"Ya,..ya sana pergi," ucap Bima sambil kedua tangannya membentuk kode agar orang itu segera pergi tapi belum dua langkah laki-laki itu sudah berbalik lagi.
"Mas..!"
"Apalagi?" sudah jalan, pergi sana, kok balik lagi mau meramal apa lagi hah,"tanya Bima sewot.
"Saya , cuma, mau berpesan,"
"Iya, cepet katakan, mau pesan apa?"
"Jangan pernah biarkan istri mas sendiri,"
"itu tidak usah kamu bilangin aku sudah taulah, sudah! sudah!" pergi sana," handrik Bima yang sedari tadi menahan kesal.
Dengan terpaksa laki-laki itu melangkah dan berlalu pergi, tapi lagi-lagi belum melangkah lebih jauh kembali laki-laki itu menatap Seila yang masih duduk bersellonjor kaki di atas rerumputan hijau, Bima yang melihat itu sangat geram dan bertambah kesal.
"Woi..!" jalan sana, ngapain masih melihat lihat lagi, kalau tidak jalan nih mau aku lempar sendalku," Bima benar benar marah melihat ada laki-laki lain yang berani memandang istrinya.
"Siapapun, namamu, aku doakan, agar Allah selalu memberikan satu penolong untuk mu, berhati-hati lah gadis yang malang."
Setelah mengucapkan itu dengan cepat laki-laki itu pergi, tinggalah Bima dengan sejuta rasa kesalnya.
"Sok sokan meramal, bilang saja mau mencuri' pandang dasar laki-laki kurang pendidikan, hari gini ceramah tentang perdukunan." sungut Bima kesal.
Melihat Bima datang Seila bersorak-sorai gembira, dengan cepat dia berdiri dan menghampiri, suaminya.
"Kak Bima, mana es Doger nya?"pinta Seila.
"Astaga, es Doger nya tadi ku buang gara gara kesal sama dukun dadakan itu, aku harus cari alasan nih,"Gumam Bima dalam hati.
"Kak, kok diam sih, mana Es Doger nya?"
"Maaf, sayang, katanya pak penjual sudah habis,"
"Apa?" sudah habis, kak Bima sih !" lari nya kurang cepat,"ucap Seila mayun.
__ADS_1
Bima mendekati istrinya dan mengecup mesra kening Seila.
"Jangan, sedih, kita cari makan di pinggiran jalan yuk, untuk sarapan pagi,"
Meskipun dengan perasaan yang kecewa Seila tetap menggikuti langkah kaki Bima, tidak lama berjalan dari saku Seila tedengar suara getaran, pertanda ada telepon masuk, dengan cepat Seila merogoh sakunya dan berhenti sejenak.
"Halo..!
"Halo, Non Seila!" kak Bima ada?"
"Kamu, Bondet! ada tunggu sebentar,"
"Kak Bima! ini telpon untuk mu,"
"Dari, siapa?"
"Bondet, kak,"
"Halo! ada apa Ndet,"
"Cepat ke kantor Kak, ada pertemuan mendadak hari ini, kak Bima harus datang,"
"Tidak bisa kah, aku tidak datang,"
"Tidak bisa kak, kak Bima harus datang,"
"Baiklah, aku akan datang," ucap Bima seraya menutup telponnya.
"Sayang! makan di rumah saja, ya, aku harus pergi ke kantor,"
"Ya, di bohongin, lagi," sungut Seila kecewa.
"Kan, Abang harus kerja sayang,"
"idih, Abang! sejak kapan kak Bima jadi Abang, kalau Abang itu yang cakep keren dan tampan gitu, ngak seperti kak Bima yang pas pasan begini,"
Bima membulatkan kedua bola matanya mendengar ledekan dari istrinya.
"Masak orang se cakep aku ini masih kamu bilang pas-pasan,"
"Ya, emang pas pasan Kak," ucap Seila sambil tertawa.
__ADS_1
"Coba, ulangi, berani bilang aku pas Pasan aku ngak tanggung jawab kalau jatah olah raga malam nya di tambah dobell crazy up,"
"Ngak takut, week," ucap Seila sambil berlari kecil menuju ke rumah yang kemudian diikuti Bima yang dengan mudah bisa menjajari langkah istrinya, dan dengan sigap langsung melingkar kan tangannya ke pinggang ramping milik Seila, mereka pulang dengan wajah ceria penuh dengan tawa canda.