Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.141.BERTENGKAR


__ADS_3

Tawa Arina mengema di seluruh ruang terbuka rencana matang telah tersusun rapi, peperangan dalam cinta akan segera di mulai kita lihat, bagaimana kau akan menyingkirkan ku, Tuan Bima yang tampan.


"Ting..Tong...Ting Tong!"


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di buka.


"Non, Seila!"


"Bibik..!hizk..hizk ... Tolong aku, mas Bima mengusirku, aku tidak melakukan apa apa aku cuma sekedar ngobrol dengan teman lama yang kebetulan dia memberikan aku minum yang membuat aku mabuk sehingga aku berpelukan disana dan mas Bima.....huaaa...huaaaa...dia marah Bik aku tidak boleh pulang ke sini, Bik tolong aku, aku juga rindu dengan anak ku Vira."


"Aduh, kasian sekali kamu Non !" ayo masuk, Non Seila, tidak usah khawatir Nanti Bibik yang akan bicara dengan Den Bima,"


"Tapi, aku takut Bik."


"Sudah, tenang saja biar Bibik yang akan bicara dengan Den Bima, Non Seila sekarang masuk dan beristirahat saja."


Seila segera pergi kedalam kamarnya, sementara Bik Inah dalam kebingungan, apakah dugaanku yang dulu itu salah, ini benar benar Non Seila dia memelukku dan mengadu padaku itu adalah sikap Non Seila sejak dulu, aku benar-benar bingung tapi apapun itu Den Bima tidak benar kalau mengusir Non Seila dan aku harus bicara dengan nya.


Di dalam kamar Seila tertaw,a riang gembira.


"Bima!" aku sudah kembali ke rumah ini lagi dan Nenek tua itu seperti nya terpengaruh dengan ucapanku, aku sungguh tidak sabar bagaimana reaksi mu jika melihat aku ada di rumah ini lagi ha..ha...ha...! Cepat lah pulang sayang, istrimu sudah kembali ke rumah ini pasti akan sangat menyenangkan melihat ekspresi wajahmu ketika melihat ku."


****


"Pak.!" trimakasih untuk hari ini, bapak telah mengajaku makan dan aku cabut deh perkataanku, Bapak bukan lagi Boss ku yang pelit tapi yang buaik sedunia."ucap Ningsih sambil berputar putar mengenakan baju barunya.


Bima menatap sambil tersenyum, rasanya senang bisa melihat Ningsih tersenyum bahagia.


"Jika sudah selesai, ayo, bawa ke kasir habis ini kita pulang."


"Trimakasih, pak!"


Bergegas Ningsih memasukkan beberapa potong baju pilihan nya ke dalam keranjang sebelum membawa ke tempat kasir.


Setelah membayar semua Bima segera mengantar Ningsih pulang ke rumah, karena melihat sikap Bapak Ningsih yang sepertinya tidak suka dengan Bima, Bima memilih memarkir mobilnya sedikit jauh dari dalam pekarangan Ningsih dan langsung pamit pulang tanpa singgah dulu Rumah Ningsih.


Mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang Bima merasa senang karena hari ini dia bisa menghabiskan waktu bersama NIngsih yang sebenarnya adalah istrinya, tanpa memencet Bel, Bima masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci cadangan, Bima sangat pengertian karena dia tidak mau sedikit pun mengaggu Bik Inah pengasuh kesayangan nya.

__ADS_1


Melihat ruang tamu sepi Bima langsung naik ke kamarnya, lelah yang tidak dia rasakan karena hari ini hari yang sangat menyenangkan bisa pergi jalan-jalan berdua dengan orang Yang dia cintai.


Bima sedikit aneh melihat lampu sudah terang menyala di dalam kamarnya.


"Tumben Bik Inah menyalakan lampu kamar, aku merasa gerah ingin cepat mandi dan beristirahat." desis Bima yang langsung menyambar handuk lalu pergi ke kamar mandi setelah membuka pintu tanpa memandang ke sudut ruangan di mana sudah Tersenyum seorang gadis cantik yang sudah sedari sore menunggu kepulangan nya.


Duapuluh menit sudah ritual mandi telah selesai, dengan hanya melilitkan handuk di pinggang Bima Keluar dari dalam kamar mandi, Seila yang melihat Bima bertelanjang dada dengan rambut basah menggigit Saliva nya.


"Dia, benar benar tampan, sungguh aku tidak akan melepaskan mu, kau akan jadi milikku untuk selamanya."


Bima membuka lemari tempat baju tapi ketika berada di dekat cermin yang dekat dengan Almari Bima melihat ada bayangan wajah disana sontak saja Bima menoleh kebelakang.


""Kau..?"


"Selamat malam suamiku, kau sudah pulang," tanya gadis itu sambil mendekati Bima, membuat Bima terbelalak kaget di buatnya.


"Mau apa kau ke sini?" apa kamu bosan hidup bebas, aku akan panggilkan polisi biar mereka menangkap mu?


"Ha .ha..ha..polisi...!" kau mau memanggilkan aku polisi, lalu bukti apa yang akan kau berikan pada mereka apa kamu mau membuat ku bertelanjang dada seperti mu saat ini agar kamu bisa memberikan bukti padanya."seru Seila tersenyum sinis sambil mendekati tubuh Bima.


"Apa, yang kau mau?"


"Kau...?"


Seila segera menangkup wajah Bima hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja.


"Jangan berteriak sayang, aku pun bisa berteriak yang sama dan sudah pasti pembantu setia mu itu akan membelaku begitu juga dengan warga yang ada di sekitar sini, lalu kamu bisa apa? kau akan di tuduh melakukan KDRT kepada istrimu sendiri, kurasa kamu laki-laki yang cerdas sudah pasti kamu tidak inginkan itu kan?


Bima menatap tajam wanita di depannya dan dengan kasar menurunkan tangan wanita itu yang bertumpu di dagunya.


"Jangan macam-macam kau dan jangan sekali kali kau sentuh aku, ingat kau bukan istriku!"


Setelah mengucapkan itu Bima bergegas mengambil baju dari dalam Almari dan masuk ke kamar mandi untuk berganti baju karna tidak mungkin berganti baju di depan wanita yang jelas jelas bukan istrinya.


Seila menatap dengan senyum penuh kepuasan.


"Sekarang aku memang bukan istrimu Bima, tapi sebentar lagi aku akan menjadi istri sahmu."

__ADS_1


"Jangan mimpi!"


Ucapan Bima yang tiba-tiba membut Seila terkejut.


"A-apa, kau bisa mendengar apa yang kupikirkan?"


Bima mengeryitkan dahinya.


"Kamu sudah tidak waras ya, tentu saja aku tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan."


"Tapi, kenapa kamu bisa menjawab pertanyaan hatiku?"


"Memangnya hatimu sedang bertanya apa? aku cuma menggingatkan mu jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian dari kami."


"Oh, jadi kamu menjawab cuma kebetulan."


"Pergi, jangan ganggu aku mau tidur."ucap Bima sambil naik ranjang dan menarik selimut nya.


"Aku , juga mau tidur."timpal Seila yang juga ikut naik ke atas ranjang.


"Woi...!" jangan tidur di sini? kita bukan muhrim."


"Kalau begitu, ayo, jadikan aku muhrim mu secepatnya."


"Kamu benar benar sudah tidak waras, pergi atau aku seret kamu! apa kamu mau aku berbuat kasar lagi padamu?"


"Oh, takut! ngak sakit dan aku ngak takut week..!"seru gadis itu sambil menjulurkan lidahnya membuat Bima bergidik dan geram dengan cepat Bima menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit dari ranjang.


"Kau mau kemana?"


"Pergi!"


"Eh..jangan! apa kata Bik inah kalau mas Bima tidur di luar, mas Bima mau bilang apa? yang di kamar bukan istriku begitu, coba bayangkan bagaimana perasaan nya apa Bik inah bisa langsung percaya dan tidak syock kah dia, ingat pembantumu itu sudah tua kalau ada apa apa siapa yang akan merawat anak Seila istrinu."


"Kauuu....?" dengan geram Bima segera menarik tubuh Seila agar turun dari Ranjang nya


"Turun..! jangan berani berani kamu tidur di kamar pribadi ku, ini kamar hanya untuk yang sudah halal menjadi istri ku, sana tidur di sofa sana, awas, kalau kamu berani naik ke ranjang ku aku akan berbuat kasar yang tak pernah kan pernah bisa kau lupakan."

__ADS_1


Dengan kesal Seila akhirnya menurut tidur di sofa, Seila hafal sifat Bima kalau marah sudah pasti lebih mengerikan dari pada harimau.


__ADS_2