
Melihat Bima tersungkur jatuh Seila tertawa dengan sangat keras, bagaikan seorang anak kecil yang habis mendapatkan Hadiah. Melihat Seila justru menertawakan nya, Bima merencanakan suatu ide untuk memberikan pelajaran pada istri bandel nya.
"Kok malah di ketawaain sih, bantuan dong,"
"Ogah..," jawab Seila enteng, seraya pergi meninggalkan Bima dia turun ke bawah.
Melihat Seila justru mengacuhkannya, Bima memiliki ide Nekad, dengan sedikit tertatih tatih Bima berjalan mendekati pintu dan berhenti di anak tangga, Bima berencana menjatuhkan dirinya dari tangga, suatu rencana yang sangat berbahaya yang bisa saja akan membuat kakinya patah, tapi Bima adalah seorang pelatih karate yang sudah sangat teruji kemampuannya, sudah bisa di pastikan tindakan berbahaya nya tidak akan mengakibatkan apa-apa.
"Seila.... tunggu...!" Bima berteiak dari kamar atas.
Mendengar teriakkan Bima, Seila cuek dan tetap melengang tanpa memperdulikan teriakannya. Namun ketika langkah kakinya hampir mendekati ruang tamu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dengan disertai bunyi keras bagaikan Bom nuklir.
"Auuuuuhh....!"Gedebuq Bee mm !"
Dengan gerak refleks, Seila menoleh kebelakang dan terlihat lah pemandangan yang lucu menurut nya, sehingga Seila tertawa lebar, Bima jatuh dari tangga.
"Ha ..ya .ha. ha...rasain tuh..!"tapi tiba-tiba tawa Seila berhenti, ketika melihat Bima meringis seperti menahan sakit, tiba-tiba timbul rasa iba, Seila segera berlari mendekati suaminya.
"Kak Bima.. !"serius sakit?"
Bima mengagguk sebagai tanda jawaban.
"Coba kulihat,"Dengan sedikit panik Seila menekan nekan kaki, tangan, pundak, kepala, lutut.
"Jangan di tekan tekan, sakit,"
__ADS_1
"Aku harus cek kak..!" aku ngak mau punya suami cacat.!" Ucap Seila yang masih tetap dengan menekan nekan,pundak, kepala kaki, lutut.
"Iya, tapi jangan di tekan tekan, sakit sayang,"
Seila tidak perduli dengan ucapan Bima, dia masih sibuk menekan nekan pundak, kepala, kaki, lutut, bahkan sekarang berpindah pada tangan, mula mula Seila menekan nekan tangan, tapi kemudian Seila menggagkat tangan Bima ke atas bagaikan adegan film ketika tertangkap, yang di suruh angkat tangan.
"Untuk apa harus begini ?" Ucap Bima protes ketika kedua tangannya di naikkan ke atas.
"Sudah, diam, ikuti saja, ayo sekarang kakinya di angkat juga," Titah Seila tegas.
"Ngak Bisa, sayang, sakit..?"
"Apa..?"ngak bisa..!" coba pelan pelan,"
"Sudah ku bilang, ngak bisa, sakit ini..!"
Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Sudah ku bilang, ngak bisa sayang, sakit...!" Ucap Bima penuh penekanan agar Seila mau mengerti.
"Aaaaaaaaah ngak mau, aku ngak mau," Teriak Seila yang tiba-tiba mensngis dengan histeris sambil memukul mukul lantai dengan tangan mengengam. Bima sempat Binggung juga kenapa tiba-tiba istrinya justru menangis dengan kencang.
"Sayang, kenapa kamu menangis..?"
Ucapan Bima tidak di hiraukan, Seila terus saja menangis dengan kencang, Bima semakin khawatir ada apa dengan istrinya, maksud hati ingin merengkuh wajah cantik Seila dan menghapus air mata nya, tapi apa daya kakinya sakit, karena terjedug pintu di tambah dengan ketika Seila berlari mendekati nya sendal hak tinggi Seila, mendarat sempurna menginjak ujung kakinya, sehingga sedikit sakit kalau di paksa untuk di gerakan, apalagi kalau Seila yang menyuruh mengangkat kaki pasti di suruh mengagkat tinggi tinggi tambah sakitlah nanti, demi keamanan Bima bilang sakit untuk di gerakan. Tapi kini justru melihat Seila menangis dengan kencang.
__ADS_1
"Seila..!"sudah, diam sayang, jangan nangis gitu, aku ngak suka melihat nya," Ucap Bima berharap Seila berhenti menangis.
"Hua...Hua...Hua...hizk.. hizk..!"Bik Inah....!
Bibik sini...?"Bik Inah sini cepat..!"
Bik Inah yang berada di dapur, mendengar teriakkan keras dari Seila, segera berlari keluar menuju ruang tamu, di mana terlihat lah, Bima berada di bawah tangga dengan Seila ada di sampingnya dengan menangis tersedu sedu, melihat itu Bik Inah segera berlari dengan tergopoh-gopoh, raut wajahnya mencerminkan ke khawatiran yang dalam.
"Den Bima...?" ada apa, dengan Den Bima Non?"
"Jatuh, Bik, dan itu kakinya tidak bisa di gerakkan,"Ucap Seila masih dengan sesenggukan.
"Astagfirullahaladhim, Den Bima..?" benar begitu, ayo, Den, aku bantu duduk di sofa,"
"Aku tidak apa-apa kok Bik..!"
"Non Seila tolong, ambilkan minyak tawon, di kotak obat, biar Bibik, urut kakinya Den Bima,"
"Baik, Bik,"
"Ini kaki Den Bima benar benar tidak bisa di gerakkan kah, Kalau tidak bisa, nanti kita langsung ke dokter, untuk periksa kaki Den Bima.
"Ngak kok, Bik ngak bisa digerakkan Karena terinjak hak tinggi sendalnya Seila,"
"Oh, jadi ini semua...
__ADS_1
Sebelum Bik Inah menyelesaikan kalimatnya Bima sudah mengagguk sambil ngedipin mata.