Kabut Cinta

Kabut Cinta
37. Menyambut Tamu


__ADS_3

Tiga tahun kemudian,


BALI...


Sebuah pulau yang dijuluki pulau dewata itu nyatanya memang memiliki pesona keindahan alam yang tiada tara,


Keindahan alamnya yang berimbang dengan keramahan penduduknya, serta kemampuan mereka dalam mempertahankan budaya, membuat Bali begitu istimewa,


Laras, perempuan itu tampak berdiri di balkon kamar pribadinya di lantai dua, matanya yang bulat cantik tampak menyapu seluruh pemandangan yang mampu ia lihat,


Hamparan rumput yang hijau di halaman samping dan depan rumahnya, pohon-pohon besar yang masih banyak tumbuh, bahkan juga sawah berpetak-petak yang ada tak jauh dari letak rumah Laras, pun juga tempat usahanya, yaitu penginapan dan juga resto,


Ah, sungguh pemandangan yang benar-benar memanjakan penglihatan, sampai-sampai tiga tahun berlalu Laras nyaris tak pernah melewatkan satu hari pun untuk sekedar berdiri di balkon kamarnya seraya mengagumi penciptaan yang maha kuasa,


Laras menatap langit yang biru bersih, Indah berpadu dengan syarat


Tak heran jika banyak orang dari kota besar di pulau lain akan menjadikan Bali sebagai salah satu tujuan utama berlibur,


Karena alam yang tersaji di sana begitu indah, pun juga terjaga dengan baik,


Laras menghirup udara pagi ini dalam-dalam, lalu melepaskannya pelahan,


Ia mengulanginya beberapa kali, sambil matanya tetap memandang panorama sekitar rumahnya,


"Bu Laras, penginapan hari ini mendapat pesanan sepuluh kamar untuk dua hari dan beberapa acara juga mereka ingin kita menyiapkan tempatnya,"


Seorang staf penginapan dan resto yang dikelola oleh Laras melapor kemarin petang,

__ADS_1


Penginapan dan resto milik saudara sepupu Arin, yang kini telah berkembang sangat pesat sejak Laras akhirnya diminta belajar mengelolanya,


Tiga tahun, Laras terus belajar mengelola usaha itu dari Arin, dan selama tiga tahun itu juga lah Laras benar-benar mulai belajar menata hidupnya lagi, yang akhirnya kini ia mulai merasakan hasilnya sedikit demi sedikit,


Ia sudah mulai bisa menjalin hubungan baik lagi dengan orangtuanya meski masih hanya sebatas via telefon, Laras bisa sesekali mengirimi mereka sedikit uang untuk menyambung hidup karena mengingat usia Ayah dan Ibu Laras yang telah semakin tua,


"Mamaaaa.."


Tiba-tiba terdengar suara Angga memanggil, Laras tampak menoleh ke arah kamar dan di sana Angga terlihat berlari kecil ke arahnya,


"Kenapa Angga?"


Tanya Laras,


"Angga mau main sepeda sama teman-teman boleh ya Mah?"


"Oh iya, tentu, mainlah, yang penting hati-hati, kalau ada orang lebih tua sedang jalan kaki pelankan sepedanya, kalau mau mendahului bilang permisi,"


Pesan Laras,


Angga tampak mengangguk mengerti,


"Mama akan ke penginapan sebentar lagi, karena akan ada rombongan tamu dari luar kota, kalau Angga sudah selesai main sepedanya, boleh nyusul Mama ya,"


Kata Laras pula,


Angga pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


...****************...


"Kita langsung ke penginapan?"


Tanya Temmi pada ketua rombongan dari kantor,


"Iya Tem, kita ke penginapan dulu, kita ke tempat acara masih nanti siang, istirahat dululah,"


Ujar ketua rombongan,


Temmi pun mengangguk, ia lantas menatap keluar kaca mobil yang menjemput mereka,


Menatap hamparan pemandangan yang begitu menyejukkan mata,


"Indah,"


Terdengar suara salah satu teman Temmi yang duduk di kursi belakang,


Temmi tampak tersenyum tipis,


Bali, Mbak Laras dan Angga ada di pulau ini, mungkin mereka juga ada di kota ini pula,


Entahlah, ia nyatanya sejak bertanya pada Arin tentang keberadaan Laras, lalu Arin tampak sedikit keberatan memberikan alamat Laras di Bali, Temmi memang akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mencari mereka,


Meskipun, akhirnya Ibunya meninggal dalam kondisi masih belum tercapai keinginannya melihat Angga lagi, tapi Temmi berusaha ikhlas menerima takdir itu untuk Ibu, karena bisa jadi semuanya adalah hukuman untuk Ibunya.


Karena bagaimanapun, Ibu telah memperlakukan Laras dan Angga dengan tidak adil selama ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2