Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.109. RENCANA


__ADS_3

Seila menggigit Saliva nya dan berusaha bangkit dari atas tubuh Suaminya yang masih dalam keadaan sakit.


"Kak, lepaskan, tangannya jangan begini, kak Bima nanti tambah sakit tertimpa bobot ku."


Bima membuka matanya dan tersenyum smrik, lagi lagi tatapan matanya yang tajam namun teduh membuat Jantung Seila semakin di buat


berdisko ria Seila berusaha membuang muka agar rona merah di wajah nya tidak di ketahui Bima.


"Ini, tidak sakit, malah enak kok,"


Mendengar ucapan Bima yang bilang enak seketika wajah Seila yang tadinya tidak mau menatap mulai berpindah menatap Bima dengan tatapan tajam dengan kedua bola matanya melotot indah.


"Oh, jadi cari kesempatan ya?'


"Bukan, cari kesempatan sayang, tapi lagi menikmati kesempatan yang ada,"ucap Bima sambil terkekeh kecil.


Ucapan Bima yang bener bener bikin Merona wajah Seila dengan cepat Seila melepaskan kan gengaman tangan Bima dan mulai bangkit dari atas tubuh Bima.


"Pikiran mesum tuh,"


"Bukan mesum sayang, tapi memang enak koh apalagi kalau boleh di isep pasti lebih enak,"


"Dasar mesum,"ucap Seila sambil melempar guling yang ada di sampingnya ke muka Bima, yang lagi cengar cengir, kemudian melangkah keluar kamar, Bima menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah istrinya.


"Aku tidak akan melepaskan mu, apapun yang terjadi kau tetap akan jadi milikku, tak kan ku biarkan siapapun menghancurkan kebahagiaan kita, meskipun itu mantan kekasih mu yang akan datang , aku tau sampai detik ini Hendrato masih mencintai mu, tapi aku tidak akan membiarkan cintanya kembali menyatu dengan mu kau milikku dan akan tetap menjadi milikku untuk selamanya,"Gumam Bima dalam hati yang kemudian bangkit dari ranjangnya keluar ke ruang tamu di mana Iqbal , Bondet dan Seila ada di sana.


*******


Malam mulai tiba Arya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua..


"Arina, ayo, kita makan,"seru Arya pada istrinya.


Sementara Arina dengan langkah malas menuju ruang makan, sebenarnya hidangan yang ada di atas meja cukup mengugah tapi karena posisi hati lagi tidak baik-baik saja Arina hanya menatap tanpa mengambil makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Kenapa diam, ayo, kita makan,"


"Aku, tidak lapar,"


"Meskipun tidak memiliki selera kamu tetap harus makan, sini, biar aku ambilkan."ucap Arya sambil mengambil piring kosong Arina.


Sebenarnya Arya suami yang cukup baik, kaya dan perhatian tapi entah kenapa semua itu belum membuat hati Arina merasa cukup dan senang, ambisinya untuk memiliki Bima lebih tinggi dari perhatian Arya yang di anggapnya biasa saja, cinta pertama membuat nya mabuk dan buta sehingga perhatian dan pengorbanan orang lainpun tak memiliki nilai apa apa jika di bandingkan dengan keinginan hatinya.


"Esok, hari seperti biasa Arya selalu pergi ke kantor sedangkan Arina hanya diam mematung di rumah, tapi kali ini Arina sudah memiliki rencana yang bagus untuk dirinya setelah memikirkan beberapa kali Arina kembali menghubungi Novi teman cs nya.


"Kring...!' kring...!"tak lama kemudian terdengar jawaban dari sebrang.

__ADS_1


"Halo....!"


" halo!Nov, loe masih butuh uang 30 juta tidak?"


" Tentu saja, butuh, tapi aku tidak tau harus mencari kemana?"


"Aku, akan bantu tapi ada syaratnya,"


"Benarkah, katakan apa syaratnya, aku benar benar tidak mau Rumah ini di sita pihak bank, sedangkan aku hanya memiliki waktu 14 hari untuk melunasi nya,"


"Carikan, aku pembunuh bayaran,"


"Apaaa... ?" pembunuh bayaran!" loe mau bunuh siapa, jangan nekad loe,"


"Bukan mau membunuh cuma mau bikin sedikit cacatlah,"


"Siapa, yang mau kau bikin cacat hah?"


"Suami gue," jawab Arina enteng.


"Gila, loe ya! laki sendiri mau di sakitin,"


"Loe, mau uang tidak?


"Maulah, tapi kalau untuk urusan begitun ogah aku, loe bener bener sudah gak sehat," sungut Novi kesal dia tidak menyangka sama sekali jika teman cs nya akan berfikir begitu jahat.


"Tapi, jangan dengan cara seperti itu, ini beresiko dan sangat berbahaya bisa jadi urusan polisi,"


"Tenang, aku sudah memikirkan dengan matang, tugasmu cuma, Carikan aku pembunuh bayaran yang handal,"


"Aku, tidak mau terlibat,"


"Tenang, aku tidak akan melibatkan mu, kau mau kan? ingat waktu mu cuma sedikit kau mau jd gelandangan tanpa Rumah atau menerima tawaran ku,"


"Benar kau tidak akan melibatkan ku,"


"Swerr, aku janji,"


Untuk beberapa saat Novi, terdiam untuk berfikir, menolak artinya tidak mendapatkan uang, menerima itu artinya sama dengan ikut mencelakakan orang. Arina yang merasa suasana menjadi hening karena Novi masih diam saja akhirnya Arina mulai bicara.


"Sudah, jangan kelamaan mikir, gimana? setuju tidak,"


"Ya, baikkah, aku sangat butuh uang untuk secepatnya jadi aku setuju,"


"Nah, begitu, dong, aku juga tidak akan Nekad kalau suamiku ngak pelit,"

__ADS_1


"Ya, sudah, tunggu aku kabari kamu,"


"Ok, kamu memang sahabat terbaikku,"


Ketika menjelang malam, Novi masih bergulang guling di dalam kamarnya, hati dan pikirannya begitu resah, di satu sisi tak tega tapi di sisi lain Novi benar benar lagi membutuhkan uang untuk melunasi hutang, akibat dari perbuatan Ayah nya yang suka sekali bermain judi dan mengadaikan Rumah sebagai jaminan nya, kini sang Ayah terbaring di rumah sakit sedangkan sang Ibu entah kemana, Novi hanya hidup berdua dengan sang Ayah sejak berusia 12 tahun dan sejak remaja Novi sudah ikut membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya, awalnya sang Ayah sangat baik, dan selalu memanjakan tapi sejak Ayahnya di tipu sahabat dekatnya yang membuat usaha Ayahnya bangkrut, sang Ayah berubah menjadi sering sekali mabuk dan judi, suatu ketika sang Ayah terlibat percekcokan dengan orang di tempat judi yang akhirnya membuat Ayahnya harus di rawat di rumah sakit.


"Tidak ada pilihan lain, besok aku harus menemui burhan dia pasti tau di mana mendapatkan pembunuh bayaran, kasian sekali kau Arya, untuk melancarkan segala urusan kami, kau harus menggalami Nasib yang sangat buruk dan mengenaskan, seumur hidup ku, aku akan sangat berhutang budi padamu, karena kamulah, aku tidak akan di usir dari Rumah dan hutangku lunas, maafkan aku Arya,


tapi percayalah tak kan kubiarkan kau menggalami hal yang parah.


*******


Dua hari kemudian Novi datang ke rumah Arina ketiika Arya sudah berangkat kerja.


"Hai...sendu sekali wajahmu, kenapa?"


"Tidak, apa-apa Ar, katakan kenapa kau menyuruhku datang, bukankah aku sudah memberikan nomor itu padamu?"


Arina tersenyum lebar.


"Ada, yang ingin ku katakan,"


"Cepat, katakan, aku tidak punya banyak waktu karena aku harus segera kerumah sakit menjenguk Ayahku,"


"Iya, santai saja, aku cuma mau memberi taumu, aku sudah memulai rencanaku, hari ini Suamiku akan menghadiri peresmian hotel terbaru temannya dan ini saat yang tepat aku sudah menyuruh orang untuk melakukan yg tugasnya,"


"Apa, maksudmu?kau akan mencelakakan Arya hari ini?"


"Iya, lebih cepat lebih baik, karena aku butuh banyak uang untuk menjalankan misi utamaku,"


"Kau punya rencana apa lagi?"


"Untuk rencanaku yang ini, belum saatnya ku beri tau kamu,"


"Busyet, banyak sekali rencanamu,"


"Ya, begitu lah, Arya bukan tujuan ku, tapi karena butuh uang jadi terpaksa Arya akan jadi korban pertamaku,"


"Loe, brner bener sudah gak sehat,"


Arina Tertawa lebar mendengar perkataan Novi.


"Ingat, jika sampai ada polisi yang tau, itu artinya kau berhianat padaku, untuk itu akau juga akan memberikan hukuman kepada mu jadi pastikan kamu tidak melaporkan pada polisi,"


"Aku, tau dan jangan khawatir,kini aku buru-buru jadi permisi,"

__ADS_1


"Ya, baiklah, silahkan, tapi ingat jangan lapor polisi,"


Dengan tersenyum kecut Novi mengagguk yang kemudian melangkah kan kakinya untuk segera keluar dari Rumah itu.


__ADS_2