Kabut Cinta

Kabut Cinta
7. Titik Balik


__ADS_3

"Dari mana?"


Yoga tampak duduk menatap tajam Laras yang baru masuk ke halaman depan rumah bersama Angga anaknya,


Angga yang masih memakai seragam sekolah terlihat berjalan di samping sang Mama sambil digandeng,


Tangan satu Laras digunakannya untuk membawa barang belanja yang delapan puluh persennya adalah bahan masakan untuk kebutuhan rumah,


"Ditanya dari tadi diam saja, dari mana kamu pulang sudah sesiang ini?"


Tanya Yoga mengulang tanyanya dengan nada suara ketus dan wajah merengut marah,


"Di dalam saja Mas,"


Kata Laras tetap berusaha tenang, ia meminta suaminya agar ikut masuk,


"Tidak enak didengar tetangga, kalau Mas mau marah-marah jangan di luar,"


Tambah Laras pula, masih dengan nada yang sama tenangnya seperti sebelum-sebelumnya,


Yoga menatap kantong kresek berukuran cukup besar yang terisi barang belanjaan,


"Kamu belanja? Uang dari mana?"


Tanya Yoga lagi, nadanya juga sama ketusnya dengan sebelumnya,


Laras menatap suaminya,


Laki-laki ini, yang dulu ia anggap adalah laki-laki yang sesuai impiannya, yang ia nikahi karena semua yang Laras inginkan dari seorang laki-laki ada padanya,


Kini...


Lihatlah ia kini,


Ia yang hanya tampan, ia yang hanya memiliki gelar pendidikan tinggi di belakang namanya, ia yang hanya berasal dari keluarga terpandang,


Namun semuanya pada akhirnya tak ada satupun yang bisa menjadi kebahagiaan dalam rumah tangga,


Ya,


Laras pelahan mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh kedua orangtuanya dahulu, bahwa kebahagiaan dalam pernikahan adalah dipengaruhi manusianya, bukan apa yang dibawa manusianya,


Laras menghela nafas, ia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjawab apapun dulu, ia menekan semua rasa semampu yang ia bisa agar tak sampai ribut di luar rumah,


Melihat Laras masuk ke dalam rumah tanpa bicara apa-apa lagi membuat Yoga jadi makin kesal, meskipun akhirnya ia jadi tak ada pilihan lain untuk ikut masuk ke dalam rumah, meski dengan dibarengi menutup pintu utama dengan cara dibanting keras,


"Angga, masuk kamar dulu ya, Mama mau membereskan barang belanjaan dulu di dapur, Angga ambil jajannya dulu buat dibawa ke kamar,"


Kata Laras,


Angga menatap Mamanya dari posisinya yang harus mendongakkan kepalanya ke atas,


Laras matanya meremang, namun tentu saja ditahannya,


Laras meletakkan tas berisi barang belanjaan di atas dapur, lalu mengambil dua bungkus keripik kentang dan memberikannya pada anak semata wayangnya,


"Angga ke kamar ya,"


Kata Laras,

__ADS_1


Angga pun mengangguk seraya mengambil dua bungkusan keripik yang diberikan Laras padanya,


Angga sempat melihat ke arah Papa nya yang kini berdiri di dekat pintu dapur, wajahnya terlihat marah, Angga tak berani sama sekali mendekat, bahkan memanggil pun tak berani,


Dan nyatanya, Angga memang juga tak bisa sedekat itu dengan Papanya, ia merasa Papanya galak karena lebih sering marah-marah,


Angga pun berlari keluar dari dapur dengan dua bungkusan keripik kentang di tangannya, melewati Papanya dengan takut lalu menghilang dari pandangan Laras,


Sepeninggal Angga, tinggalah kemudian Laras dan Yoga di dapur berdua,


Laras menyibukkan diri mengeluarkan semua barang di dalam kresek, sambil kemudian bicara dengan suara serak menahan tangis,


"Besok aku akan bekerja,"


Kata Laras,


Mendengar Laras bicara, tentu saja Yoga macam disambar petir di siang bolong,


Bekerja?


Berani-beraninya Laras bilang akan bekerja tanpa minta ijin Yoga dulu sebagai suami?


Isteri macam apa yang melakukan sesuatu tanpa meminta ijin suami?


Yoga berjalan menghampiri Laras dengan langkah kakinya yang keras, lalu menarik tubuhnya dengan kasar agar menghadapi Yoga,


"Apa tadi kamu bilang hah?! Bekerja?! Berani sekali kamu bilang kamu akan bekerja, kamu lupa kalau aku pernah bilang apa? Kamu tidak boleh bekerja, perempuan hanya boleh di rumah!"


Bentak Yoga marah,


Air mata Laras yang sejak tadi ditahannya karena ada Angga pun langsung luruh,


Ujar Laras,


Namun, Yoga mendengar kata-kata Laras yang demikian bukannya jadi mengerti malah semakin menjadi,


Mata Yoga semakin memerah, pun juga dengan wajahnya,


"Maksudnya kamu menganggap aku suami tidak berguna yang tak bisa menghasilkan uang maka kamu yang harus menghasilkan uang? Kamu pikir aku tidak usaha?!"


Suara Yoga menggelegar, memenuhi seantero dapur rumah,


Untungnya saat ini, Ibu mertua Laras sepertinya sedang tak ada di rumah, mungkin menghadiri acara sesama isteri para petinggi, atau juga entahlah, mungkin juga acara keluarga dan lain hal,


Tapi yang jelas, tak adanya Ibu mertuanya, ini membuat Laras dan Yoga tak perlu ribut dengan dicampuri Ibu mertuanya juga, hingga Laras bisa lebih bebas bicara dan berekspresi,


Lagipula...


Laras menatap Yoga dengan kedua matanya yang terus bercucuran air mata,


"Sebetulnya, kamu mencintai aku atau tidak?"


Tanya Laras dengan suara gemetar,


Cengkraman kedua tangan Yoga di kedua lengan Laras terasa menguat, seiring dengan tatapan Yoga yang juga semakin tajam,


"Untuk apa kamu tanya itu? Jangan mengalihkan pembicaraan!"


Bentak Yoga lagi,

__ADS_1


Laras yang entah kenapa hari ini tak seperti biasanya, yang seolah entah memiliki kekuatan darimana memilih bicara lagi,


"Kamu sepertinya memang tak pernah mencintaiku,"


Kata Laras,


"'Cinta, cinta, tidak penting membahas cinta setelah menikah! Itu adalah pembicaraan anak ABG yang sedang mabuk asmara!"


"Tidak!"


"Apanya yang tidak, kamu lebay!"


"Ya, aku lebay, aku lebay saking sayangnya dan cintanya padamu sejak dulu, aku lebay bertahan enam tahun dalam pernikahan yang membuatku tak bisa melakukan apapun dan merasakan bahagia apapun!"


"Apa!"


Yoga pun semakin naik pitam, tangannya yang mencengkram lengan Laras terlepas dan kemudian...


Plak!


Ia menampar Laras dengan keras,


Dari sekian banyak perlakuan Yoga yang membuat Laras terluka batin, tentu saja tamparan tangan Yoga di pipinya kali ini adalah yang paling dahsyat,


Laras mengusap pipinya yang memerah dan terasa panas, di mana Yoga menamparnya di sana,


"Baiklah kalau begitu,"


Suara Laras gemetar, sementara Yoga juga tubuhnya gemetaran karena menahan marah dan juga ia terkejut sendiri karena ia sampai melayangkan tangan menampar sang isteri,


"Aku pergi saja dari sini, aku pergi saja dari kehidupan mu, aku akan bawa Angga bersamaku!"


Kata Laras,


"Jangan harap!"


Yoga membentak,


"Dia anakku!"


Laras balas membentak,


"Aku yang paling berhak atas Angga, aku Ayahnya!"


"Aku yang melahirkannya, dan kamu mengurus diri sendiri saja tidak bisa, urus saja dirimu sendiri dulu!"


Kata Laras,


"Kau!"


"Tampar! Tampar lagi! Dengan begitu aku tidak perlu ragu lagi pergi dari sini!"


"Ya pergilah!"


Kata Yoga membuat Laras akhirnya tak mau mengulur waktu lebih lama lagi langsung beranjak dari dapur dan langsung lari menuju kamar,


Yoga menggebrak meja makan yang ada di dapur, lalu menendangnya hingga terguling,


Tak hanya itu, ia membanting kursi bahkan peralatan makan yang ada di rak dekat tempat cuci piring,

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2