
Setelah puas memandang wajah Seila Bima pun kembali tidur di sofa, khawatir tertidur disana dan membuat Seila semakin marah, Bima berusaha memejamkan matanya meskipun terasa sangat sulit, kata-kata Seila tidak bisa di anggap main main karena Seila bukan tipe gadis yang tidak serius dengan ucapannya keras kepala nya yang besar, benar benar bikin hati Bima selalu jantungan.
Takut dan khawatir Seila bangun lebih dulu dan kabur dari rumah, Bima cepat cepat bangun dan cepat cepat menyelesaikan ritual mandi tak lupa sholat subuh, sengaja hari ini tak membangun kan Seila.
Bima mengenakan baju santai, karena hari ini dia memutuskan tidak masuk kerja, hal itu di karenakan Bima sedang menunggu kedatangan orang orang spesial yang sudah di hubungi nya sejak dua hari yang lalu, di mana semua jadwal kegiatan nya hari ini Bima batalkan dan di dapur Bima sudah berpesan kepada Bik Inah untuk membuat kan masakan yang banyak karena hari ini akan ada beberapa tamu undangan spesial yang akan datang.
"Den! sebenarnya Den Bima ngundang siapa sih, kenapa seperti nya sangat spesial.
"Ah,Bibik kepo ya....Nanti Bibik juga tau sekarang rahasia." ucap Bima sambil tersenyum.
"Mas Bima!" aku sore boleh pergi berlibur kan?"
"Kau ingin berlibur?"
"Iya, mas!"
"Boleh jika kau bisa."
"Tentu saja bisa lah mas, kan aku sudah punya tiket nya."
"Terserah kamu," ucap Bima seraya melangkah kan kakinya keluar dari dapur dan duduk di ruang tamu. Tatapan matanya lurus ke arah jendela kamar atas di mana istrinya masih tidur.
"Ini kejutan kebahagiaan untuk mu sayang, pasti kamu akan sangat senang dan ini juga kejutan untuk mu Seila palsu berani beraninya kamu masuk ke dalam rumah ku dengan berpura pura sebagai istri ku dan aku juga sangat yakin kamu terlibat dalam peristiwa kecelakaan istriku, aku memang tidak memiliki bukti menuduh kamu sebagai pelakunya tapi aku punya cara lain untuk bisa mendapatkan keadilan dari semua perbuatan mu, cukup sudah kau buat penderitaan dalam rumah tangga ku dan cukup sudah aku berbuat baik padamu kali ini aku tidak akan sedikit pun melepaskan mu, kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya."Gumam Bima dalam hati.
"Mas..!mau ku bikinkan kopi?"tawar Seila pada Bima.
Tanpa menatap wajah gadis yang ada di sampingnya Bima mengagguk.
"Boleh!
"Mau yang manis atau yang sedang sedang saja."
__ADS_1
"Kamu yang buat jadi terserah kamu." ucap Bima datar membuat Seila memelan ludahnya dengan kasar yang tiba-tiba terasa kering, tanpa bicara lagi Seila pun pergi masuk ke dalam dapur.
"Mas Bima kenapa sekarang sikapnya berubah dingin, padahal semalam manis ada apa ya?"dia benar benar cowok yang bisa bikin orang penasaran saja dan aku cukup senang sedikit demi sedikit mas Bima sudah mulai menerima ku, tapi untuk sementara aku harus pergi dari kota ini, Arya sudah pulang aku harus bersembunyi aku belum siap bertemu dan melihat nya lagi, Ah sial!" kenapa datang nya di saat aku dan suamiku lagi baik dan manis manis nya sungguh Arya bikin Nasibku sial saja."Gumam Seila dalam hati.
Tak lama kemudian kopi buatan Seila pun sudah siap dengan langkah pasti dan hati yang senang Seila membawa kopi buatan nya ke ruang tamu di mana Bima sedang duduk bersantai.
Seila menaruh kopi buatan nya di atas meja, kemudian dia duduk di samping Bima dengan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Bima membuat Bima mendelik seketika.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tiduran di pangkuan sang Suami."jawab Seila dengan senyum termanis nya, Seila yang sebenarnya Arina benar benar sudah di mabuk cinta hingga tak peduli di mana dia lagi bermanja, Bima yang merasa risih dengan sikap Seila mencoba mengaggat wajah Seila agar berdiri dan menjauh dari pangkuan nya, tapi yang terjadi justru Seila melingkar kan tangan nya pada leher Bima hingga membuat wajah mereka semakin dekat, merasa Seila di depannya sudah sangat keterlaluan Bima meraih tangan Seila yang melingkar di leher nya agar bisa lepas dari nya dan pada saat tangan Bima hendak melepaskan tak sengaja tatapan matanya yang ketika itu lagi mendongak melihat sosok Seila dari balik jendela sedang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Seila..! dia melihat ku, gawat bisa ribut lagi ini,"Gumam Bima dalam hati yang serta Merta melepaskan pelukannya Seila yang tidur di pangkuannya dengan kasar.
"Jaga, sikapmu! kita bukan Muhrim," cetus Bima yang kemudian melangkah pergi, tapi sebelum pergi, Bima kembali berucap.
"Jika tamuku sudah datang suruh dia masuk dan menunggu ku, aku pergi dulu,"ucap Bima yang kemudian melangkah kan kakinya naik ke tangga kamar atas, di bukanya pintu kamar dengan perlahan lahan.
Bima mendapati istrinya yang sudah bangun sudah terlihat rapi dan bersih wajah terlihat segar dan semakin mengoda terlebih rambut basah nya ingin mendekat, memeluk dsn mencium nya akan tetapi semua Bima tahan takut yang punya marah dan ngambek lagi, sebisa mungkin Bima membuat hari ini tidak menyulut emosi dan Amarah sang istri.
"Tamu...!"tamu apa dan siapa?"
"Nanti kamu juga tau, ayo kita turun."
Tanpa memberikan jawaban Seila langsung ngeloyor pergi, tapi ketika langkah kakinya dekat dengan tempat Bima berdiri, Bima meraih tangan Seila dan mengengam nya.
"Lepaskan, tangan ku!"
"yaa, cuma pegang saja tidak boleh."Keluh Bima, yang pasti nya percuma saja karena Seila tidak menggubris sama sekali.
Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
__ADS_1
"Susah banget kalau punya istri ngambek kan dan keras kepala, pasti kitanya di bikin puyeng tujuh keliling dan jantungan setiap saat." Gumam Bima dalam hati yang kemudian langkah kakinya menggikuti Seila di belakang nya.
Sampai diruang tamu yang di tunggu tunggu sudah datang, bel rumah berbunyi dan sesui perintah Bima Seila yang diminta untuk menyambut kedatangan sang tamu pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu.
Ketika pintu telah terbuka nampak sosok laki-laki paruh baya sedang berdiri di depan pintu, melihat siapa yang membuka kan pintu untuk nya wajah laki-laki itu tiba-tiba terlihat dingin dengan tatapan matanya yang tajam memandang Seila yang sebenarnya Arina dari atas sampai bawah, membuat Seila merasa risih dan kesal.
"Bapak, tamu dari suami saya kan, silahkan masuk," seru Seila dingin dia merasa sangat kesal dengan tatapan mata laki-laki paruh baya yang ada di depannya, Seila mengaggap laki-laki itu sangat tidak sopan.
"Tamu, mas Bima seperti nya mesum, masak melihat aku dari atas sampai bawah tidak berkedip dasar laki-laki buaya." dengus Seila kesal yang sangat sengaja Seila ucapkan dengan sedikit keras sehingga laki-laki yang di tuduh buaya pun bisa mendengar nya.
Tidak ada kemarahan dari wajah sang laki-laki paruh baya yang ada hanya senyuman sinis,hal itu semakin membuat Seila bertambah kesal dan muak, dengan cepat Seila masuk ke dalam dan hendak melaporkan semua yang tamunya lakukan pada nya.
Di bawah tangga Seila yang baru saja turun dengan Bima langsung mendapat kan aduan dari Seila yang sebenarnya Arina.
"Mas, tamu kamu sudah datang dan dia tidak sopan sama sekali menjijikkan sudah tua tapi berwajah buaya."ucap Seila mantab.
Wajah Bima langsung berubah merah padam ketika dengan sangat ringan menggatakan tamu nya laki-laki buaya
"Hentikan ucapanmu, berani sekali kau menggatakan tamuku laki laki buaya." gertak Bima.
"Mas..!" dia memang buaya dia...
Belum selesai Seila bicara Bima sudah menggangkat tangan tinggi sebagai tanda isyarat Seila di suruh diam.
"Ayo, Sayang kita temui tamu kita itu" ajak Bima pada istrinya dengan mengengam tangan Seila.
"Aku, tidak mau !" teriak Seila ikut menolak rasanya bergidik juga mendengar aduan Seila palsu yang dia yakini pasti benar.
"Tidak, bisa!"kau menolak karena untuk kali ini aku akan memaksamu, aku tidak perduli kau marah, ayo, Sayang."Ajak Bima yang masih dengan sangat kuat mengengam tangan Seila. Sampai di depan pintu ruang Tamu Bima melepaskan genggaman tangan nya.
"Lihat ..siapa yang datang!"
__ADS_1
Seila menatap wajah laki-laki paruh baya yang ada di depannya, mata mereka bertemu dan tiba-tiba Seila berlari dengan kencang masuk ke dalam kamarnya yang ada di atas, sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, langkah kakinya yang cepat dan terlihat berlari membuat Seila yang sebenarnya Arina Tersenyum.
"Sudah ku bilang kan, tuh laki-laki buaya dia aja sampai lari nanggis gitu, aku andaikan dia bukan tamu sudah ku tonjok habis dia, huuuuff....bikin kesal saja, bisa-bisa nya mas Bima mengguncang laki-laki buaya begitu.' Keluh Seila dalam hati.