Kabut Cinta

Kabut Cinta
34. Tawaran Baik


__ADS_3

"Bali?"


Laras menatap saudara Arin,


Saudara Arin yang membawa pasangannya itu tampak tersenyum dan mengangguk,


Laras kemudian menoleh ke arah Arin, jelas sekali Laras terlihat ragu,


"Tidak apa jika kamu butuh untuk memikirkan dulu apakah tawaran saudaraku akan kamu terima atau tidak Ras,"


Ujar Arin,


Saudara Arin pun mengangguk sependapat,


"Iya Mbak Laras, kami akan memberikan waktu untuk Mbak Laras hingga hari minggu ini, nanti kalau Mbak Laras sudah yakin dengan keputusannya, Mbak Laras bisa hubungi kami,"


Laras tampak terdiam, ia tidak ada keinginan menolak sebetulnya, hanya saja untuk menerima kesempatan itu Laras rasanya terlalu takut membayangkan harus hidup di daerah yang sama sekali belum pernah ia datangi,


Apalagi juga, letaknya bisa dibilang cukup jauh, jadi Laras memang benar-benar butuh waktu cukup untuk memikirkannya,


"Rumah makan kami tidak jauh berbeda dengan milik Mbak Arin, hanya rumah makan biasa yang menyediakan beberapa pilihan menu sederhana, paling ada beberapa kamar kecil saja yang kita sediakan untuk para backpacker yang ingin menginap dengan harga kamar bersahabat,"


Tutur saudara Arin lagi,


Sementara itu, pasangan saudara Arin itu tampak membuka hp nya, lantas ia memberikan hp miliknya itu pada Laras,

__ADS_1


"Ini foto rumah makan kami dan juga tempat penginapan kami,"


Kata pasangan saudara Arin,


Tampak kemudian Laras pun meraih hp dari tangan pasangan saudara Arin tersebut,


Sejenak Laras mengamati foto-foto tempat usaha saudara Arin yang terlihat begitu indah,


Benar-benar bangunan khas Bali yang cantik, yang meskipun tetap diberi sentuhan modern juga,


"Tempat makan dan penginapan ini sudah sekitar satu bulan lebih tutup karena kami memang belum menemukan pengganti Mbak Indah dan suaminya, yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri,"


"Ada berapa pegawai yang bekerja di sana Mar?"


Tanya Arin pada sepupunya,


Laras pun mencoba kembali memikirkan tawaran saudara sepupu Arin lagi,


"Kami tak berani menjanjikan banyak Mbak Laras, karena terus terang, sejak dari masa pandemi lalu, pemasukan turun nyaris enam puluh persen, kami bahkan nyaris tidak bisa bertahan jika saja para karyawan begitu baik mempersilahkan kami memangkas gaji bulanan mereka,"


Kata sepupu Arin pula menjelaskan,


"Sayangnya, satu bulan lalu Mbak Indah dan suaminya tiba-tiba ijin untuk tidak bekerja lagi di tempat kami, tentu kami tidak bisa menghalangi,"


"Ya, aku tahu bagaimana sulitnya dunia usaha di masa pandemi, benar-benar satu keajaiban kita masih bisa bertahan dan sekarang sudah mulai normal lagi,"

__ADS_1


Kata Arin,


Laras terlihat tersenyum ke arah Arin dan juga saudara sepupunya,


Jauh di dalam hatinya kini Laras makin mengagumi sosok sahabatnya sejak remaja itu,


Arin yang dulu Laras pikir hanya sosok gadis manja dan hanya tahu senang-senang saja,


Nyatanya kini ia telah berubah menjadi begitu dewasa, bahkan ternyata perjuangannya untuk menjalankan usaha juga tidaklah semudah yang Laras pikir,


Maka, jika Arin saja bisa, jika Arin saja mampu, harusnya Laras juga tidak boleh kalah bukan?


Harus bisa menjadi sekuat Arin, bisa semangat seperti Arin, bisa senantiasa berpikir positif seperti Arin,


Ya, harusnya memang demikian.


Laras tampak menghela nafas, lalu...


"Seperti dengan Mbak Indah, nanti Mbak Laras bisa menempati rumah utama yang ada di sana, Mbak Laras akan tinggal dengan dua orang karyawan yang bertugas memasak dan satunya adalah bagian kebersihan, untuk penjaga, kami ada satu orang yang nantinya biasa datang saat jam kerja saja,"


Sepupu Arin terdengar menjelaskan kembali tentang tempat usahanya,


"Dan untuk pembagian hasil, tentu saja jika omzet bisa kembali normal, apalagi sampai mengalami kenaikan yang signifikan, kami akan dengan senang hati untuk membaginya dengan adil,"


Mendengar penuturan sepupunya Arin kali ini, tampak Laras pun kembali menatap Arin sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan mengangguk setuju.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2