
Dua hari lamanya Bima dan Bondet mencari keberadaan Seila akan tetapi Seila belum juga ditemukan akhirnya Bima dan Bondet pun pulang dengan tangan hampa. Wajah Bima yang kusut tatapan mata yang kosong sering sekali Bik Inah dapati, tak lagi Bik Inah melihat senyum di wajah tampan anak asuhnya, Bik inah yang mengasuh Bima sejak bayi hatinya ikut sedih dan iba bahkan tak tega Makan tidak teratur terkadang mau terkadang juga tidak Bima lebih sering termenung dan menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja bahkan terkadang tidak pulang, Bima lebih memilih tinggal di kantor tempatnya bekerja dari pada pulang ke rumah,
******
Jauh di sudut kota tampak seorang wanita paruh baya sedang bicara serius dengan suaminya.
"Pokoknya, bapak harus jual semua nya, aku tidak mau tau."
"Lho, bu kalau kita jual semua kita akan makan apa? yang kita punya cuma sawah, sapi kambing dan ayam."
"Tidak, mau tau, pokonya jual semua nya, aku mau melihat ningsih di rumah dokter Eka."
"Bu, tunggu! jangan gegabah, waduh, parah Kalau sudah begini, orang di suruh ihklas kok ngak bisa toh Bu...Bu ..!mbok yang sadar, eleng bu, Ningsih anak kita itu sudah mati, sudah tenang di alam sana mbok ya jangan, di ingat ingat begitu toh bune...bune, hadoh pusing kepalaku, kalau ku jual semua bagaimana kita hidup."
"Ora usah mikir gimana kita hidup , lha wong kita sudah tua juga sebentar lagi juga mati, ora usah mikirin bondo nduyo mati ora bakal di gowo lho bapak, ojo dadi menungso medit Kowe."
"Aku ora medit, Bu, aku mung usaha irit."
"Irit..irit, gundul mu alus,ayo antar aku ning Bu Eka apa tidak? kalau tidak aku berangkat sendiri jalan kaki juga tidak masalah, aku masih kuat aku sehat."
"Sebentar toh Bu, sabar aku tak ambil sandal sama kunci motor,"
"Cepat, toh bapak, aku sudah ngak kuat,"
"Hora, kuat opo? wong wadon, kakean gaya,"
"Opo, pak? lambemu ngomong opo? opo njaluk tak gunting kene."
"Hadoh...hadoh tobat tobat nikah sama gadis desa nasib ku sungguh merana."
"halah, merana opo, orang kamu terlihat subur badan juga gede gitu Bapak."
"Ayo, Bu berangkat, cepat naik."
"Iya."
"Bu, jariknya ati ati nyangkut ruji motor, di betulkan yang benar duduknya."
"Iya, Bapak, ayo berangkat."
Dengan sepeda motor tua yang mereka miliki, mereka segera menuju ke rumah sakit sampai di rumah sakit bergegas wanita paruh baya menasuki ruangan dokter
"Permisi, Bu Eka, saya mau menanyakan pasien yang saya bawa dua hari kemarin."
"Oh, iya, silahkan duduk Bu,"
"Dok, bagaimana keadaannya."
"Dia sudah melewati masa kritis, detak jantung sudah stabil cuma luka pada wajah 90 persen hancur dan harus di perbaiki agar tidak cacat."
"Tolong Bu Eka, lakukan dan berikan perawatan yang terbaik untuknya agar wajahnya tidak cacat."
"Kalau mau agar wajahnya tidak cacat dia harus operasi wajah."
"Ngap papa Dok lakukan yang terbaik untuk nya kami yang akan menanggung segala biayanya."
"Kapan Ibu, mau melakukan operasi wajah."
"Terserah Bu Dokter Eka, saya nurut saja."
__ADS_1
"Bagaimana jika malam ini kita terbangkan ke Hongkong, di sana saya mempunyai teman ahli bedah pasti biayanya juga sedikit ringan."
"Baik, Dok, saya setuju."
Tiba-tiba kaki sang Bapak menginjak kaki sang ibu wanita paruh baya.
"Aduh, Bapak kenapa mengijak kakiku?"
"ayo, kita bicara di luar."
Dengan tergesa-gesa Sang wanita paruh baya pun keluar dari ruangan setelah meminta izin kepada sang Dokter.
"Ada, apa toh Bapak?"
"Bu, dari mana kita bisa dapat uang nya, kok kamu langsung main setuju saja.".
"Wes, toh Bapak, sudah cukup, pokoknya jual semua yang kita punya."
"Tapi, Bu,!
"Sudah ngak ada tapi tapi harus di jual pokoknya,'
"Iya, nanti aku tawarkan ke Bapak Jono siapa tau mau membeli."
"Iya, pak aku doa kan laku dan terjual mahal."
*****
Beberapa hari kemudian setelah Pasien di pindahkan dan di bawa ke Hongkong yang kebetulan tidak terlalu banyak pasien sehingga Anak dari Bu Rani dan Pak Budi langsung mendapatkan perawatan dan akan segera melakukan operasi wajah.
"Bu siapa Nama putri ibu ini?
"Iya, ibu tenang, saja tapi sepertinya dia juga tidak mengenali dirinya saya jadi binggung harus memanggil siapa?"
"panggil Ningsih saja Dok, dan tolong operasi wajah nya seperti foto ini."
"Baik, Bu! sekarang ibu bantu berdoa saja agar semua berjalan dengan lancar."
*****
Waktu berlalu hari pun berganti, Hendrato yang di ijinkan melihat langsung pembukaan operasi dengan semangat datang lebih pagi.
"Hei...! Tumben datang pagi begini."
"Aku, ingin melihat kamu melepas perban dari pasien mu."
"Iya, dia gadis yang malang beruntung dia di temukan orang yang baik hati meskipun mereka keluarga tidak mampu atau pas Pasan mereka rela membiayai gadis itu."
"Wah, berhati mulia sekali wanita itu, jadi penasaran juga,"
"Ayo, itu dia, tapi dia dalam keadaan Amnesia sehingga dia tidak mengenali siapapun."
"Oh, ya."
Dokter Irawan dan Hendrato berjalan masuk menghampiri seorang gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Selamat pagi Nona, saya Dokter irwan yang melakukan operasi wajah Nona, dan ini teman saya Hendrato yang selalu membantu saya."
"Salam Nona," ucap Hendrato ramah.
__ADS_1
"Salam, trimakasih Pak Dokter."
"Apa, Nona sudah siap, perbannya di buka hari ini,"
"Saya, siap Dokter."
*****
Di Rumah Bima lagi duduk bersantai dengan di temani secangkir kopi, satu bulan sudah Setelah kepergian Seila, meskipun kini Bima sudah bisa ihklas tapi tetap saja keceriaan nya berkurang.
Bik Inah yang lagi menyapu di kejutkan dengan suara Bel pintu Rumah berbunyi.
"Ting..tong..!"Ting ..tong...!"
Dengan tergopoh-gopoh Bik Inah langsung berlari ke pintu dan membukanya dengan cepat, ketika pintu Rumah terbuka, munculah sosok Wanita cantik dengan menjinjing tak kecil. Bik Inah menatap tanpa sedikitpun berkedip.
"No-Non Seila...!"
gadis itupun segera menyunggingkan sebuah senyuman.
"Den, Bima! cepat ke sini, coba lihat siapa yang datang."
Mendengar teriakkan Bik Inah Bergegas Bima keluar dan menuju ke ruang tamu. Melihat sosok wanita yang berdiri di pintu Bima berkali-kali mengucek ke dua matanya.
"Seila.. benarkah ini kau,"ucap Bima dengan mata berkaca-kaca karena haru tanpa berfikir panjang Bima langsung memeluk dan mencium kening istrinya.
"Bagaimana kau bisa selamat sayang?"tanya Bima yang masih memeluk istrinya.
"Aku, di tolong orang Mas, dan dia yang merawatku selama ini."
"Bik Seila pulang, cepat bawa Vira kesini, pasti dia senang."
"Baik, Den."
Tidak menunggu lama Bik Inah sudah keluar lagi dengan menggendong Vira.
"Vira sayang, tuh mama Vira sudah datang, ayo peluk cium mama nak."
Bima meraih Vira kecil dan memberikan kepada Seila.
"Ini, siapa mas?"tanya Seila binggun.
"Ini, Vira putri kita, nih gendong dia pasti kangen."
Karena Bima Mengulurkan nya Mau tidak mau Seila pun mengendong Vira, belum juga 10 menit, Vira sudah menangis dengan sangat keras.
"Huaaaa...huaaaaa....huaaa!"
"Lho, kok nangis, mungkin karena lama ngak ketemu ibunya," ucap Bik inah.
"Kamu, benar Bik kita berikan kesempatan mereka berdua saja kita pergi dulu sebentar yuk," ajak Bima kepada Bik inah.
Sepeninggal Bima dan Bik inah
Seila mencoba, mengoda Vira kecil akan tetapi
Seila justru di cakar dan di tarik tarik rambutnya
membuat Seila emosi dan akhirnya Seila mencubit tangan Vira, tak aya lagi Vira pun menangis dengan kencang.
__ADS_1