
Terkadang hidup bagaikan serasa di surga kala hati sedang bahagia dan berbunga bunga, tapi juga terkadang hidup Bagaikan di neraka ketika segala sesuatu yang kita harapkan kita dambakan tak pernah bisa kita raih untuk menjadi nyata, hidup segan mati tak mau begitulah kira kira suasana hati seorang gadis yang di landa kekacauan. Arina termenung menatap wajahnya di cermin,bersusah payah merubah wajah bersusah payah berjuang menyingkirkan orang yang telah berhasil merebut hati pujaan hatinya dan orang yang sangat dia cintai tapi semua terasa sia sia apakah itu yang dinamakan bukan jodho. dan itukan yang di namakan cinta sejati.
Meskipun berubah, meskipun terpisah dan meskipun satu diantara nya tak saling mengenal tapi ikatan hati dalam cinta mereka
tetap bersinar terang bagaikan cahaya. Arina menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"Bima sudah tau Ningsih adalah Seila dan Ningsih sudah ingat siapa dirinya, kini tinggallah aku, apa yang harus aku lakukan, aku takut mereka akan menyeret ku ke dalam penjara, tapi tidak... mereka tidak ada bukti jadi mereka tidak bisa sembarangan menyeretku."
Di tengah kegelisahan yang melanda hati Arina tiba-tiba telpon nya berdering.
"Halo..!"
"Halo, Arina! ini aku Novi, aku mau memberikan kabar buat kamu, Minggu depan Arya akan kembali ke Indonesia dan satu kabar baik lagi, Arya sudah bisa berjalan."
"Apa?" Arya su-sudah bisa berjalan?"
"Iya, kan kamu harus nya senang suamimu tidak cacat, bagaimana rencanamu di sana apa semua sudah berhasil sukses?"Sindir Novi.
"Berhasil apaan?boro boro berhasil semua malah jadi kacau, mana wajahku sekarang dah berubah lagi,"
"Ha..ha. .ha...hidup itu mbok ya selalu bersyukur, sudah punya suami kaya baik eh di celakai, aku peringatkan kamu Arina!" kamu harus bersiap-siap masuk penjara, suami mu pasti akan menuntut mu atas dasar percobaan pembunuhan dan perampasan harta nya."
"Deg...!" jantung Arina serasa mau copot detak jantung yang tadinya normal seakan macet mrndadak.
"Hei...! Arina, kamu masih mendengar kan suaraku kan?'
"Iya,"
"Ya, sudah selamat bersiap siap menghadapi tuntutan suamimu."Ketus Novi sebelum menutup telponnya, Novi sangat kesal dan kecewa dengan perubahan sikap Arina yang dulunya lembut penyayang dan sabar kini menjadi liar tak terkendali semua gara gara cinta, sebegitu dahsyat kah pesona cinta hingga mampu dalam sekejap merubah sikap dan sifat manusia menjadi iblis tak berperasaan, bayangkan saja demi mensukseskan semua rencananya seorang istri tega mencekakai suaminya sendiri, merampas dan mrnggambil alih semua aset harta sang suami, bukankah itu tindakan iblis tak berperasaan dan satu hal yang menyakitkan Novi dia harus menjaga dan menemani suami dari sahabat nya, tidak ihklas itu pasti, karena dia pun memiliki pekerjaan dan urusan sendiri, tapi dengan berjalan nya waktu rasa tidak ihklas itu hilang timbul dan tumbuh benih-benih cinta yang diam diam dia rasakan ketika menjadi perawat dan penjaga suami dari temannya, Nasib tak selamanya mujur dan baik buktinya pengorbanan nya berbulan-bulan tak sedikit pun mendapat kan hasil, Arya tidak tertarik padanya bahkan yang lebih menyakitkan kenapa orang yang sudah di sakiti dengan sedemikian rupa masih tetap saja menanyakan kabar istrinya, bego itulah yang mungkin cocok ku sematkan pada dirinya, hanya laki-laki bego saja jika disakiti tapi masih peduli, tapi di balik semua itu inikah yang dinamakan cinta sejati," Novi membuang muka kasar menatap keluar jendela dengan hati perih. Sementara Arina sibuk bicara dengan hatinya sendiri.
"Arya, sembuh aku harus bagaimana?' tidak ada pilihan lain aku harus meninggalkan kota ini secepatnya aku tidak mau berurusan dengan Arya, untuk Seila dan Bima Araaaaaagggghhhh... biarkan sajalah mereka, aku sudah kalah aku tidak bisa memisahkan cinta diantara mereka, aku harus secepatnya meninggalkan kota ini sebelum Arya datang dan Bima pulang, tapi aku mencintai Bima boleh kan jika sebelum aku pergi aku ingin menatap wajahnya duduk bersama meskipun Hanya beberapa saat saja, cinta ini telah menyiksa ku dan aku tau Bima tak kan pernah tega menyeret ku ke dalam penjara, buktinya dia tau aku bukan Seila tapi dia tidak menggusirku dengan paksa bahkan membiarkan apa mauku apakah jangan jangan Bima sudah tau kalau aku itu Arina mantan dari kekasihnya, Aaaaraag....aku tidak tau pusing."
Dengan kasar Arina merebahkan bobot tubuhnya di atas Ranjang kamar tamu.
__ADS_1
Mobil yang membawa Bima dan Seila sudah sampai di depan pekarangan rumah. setelah menepikan mobilnya Bima dan Seila turun dari mobil.
Tok .Tok .Tok..!"
Seila mengetuk pintu yang tak lama kemudian seorang wanita paruh baya ke luar membuka kan pintu untuk mereka.
"Ningsih!" kau pulang nduk." tanya sang wanita itu dengan senyum bahagia dia betul betul tak percaya jika Ningsih masih mau kembali ke rumah sederhana nya.
"Ayo, masuk!"
Ningsih dan Bima akhirnya masuk ke dalam menggikuti sang ibu.
"Duduklah, aku dengar kamu sudah....
Belum selesai ibu Ningsih bicara tiba-tiba suara Ayah, bapak Ningsih menyela pembicaraan.
"Wah sudah pulang anak Bapak!"gimana apa hari ini kamu capek."
"Iya, pak sedikit "
"Iya, pak!
"Saya, juga gerah capek apa boleh saya juga menumpang mandi."
"Boleh, tapi antri dulu, maklum kamar mandi cuma satu jadi pak Bima tunggu Ningsih selesai mandi ya?"
"Oh, ya tidak apa-apa?"
"Nah, sekarang pak Bima boleh mandi seperti nya Ningsih sudah selesai tuh.'
"Iya, pak trimakasih."
Bergegas Bima masuk ke dalam kamar mandi dan dalam dua puluh menit Bima sudah keluar dengan badan segar.
__ADS_1
"Ningsih, ayo ajak pak Bima makan malam bersama."
Ningsih mengagguk patuh pada perintah Bapak nya.
"Mari, pak!" kita makan malam bersama." ajak Ningsih sopan.
Bima menatap tajam Ningsih dengan tangan mengepal menahan geram Tatapan mata tak trima dirinya di panggil pak yang jelas jelas Ningsih sudah tau kalau Bima adalah suaminya.
Suasana makan hening untuk beberapa saat kemudian sang Ayah membuka percakapan.
"Nak, Bima Nanti pulang kan?'tanya Ayah Ningsih memastikan kalau tamunya tak kan menginap di rumahnya. Bima yang tak menyangka mendapatkan pertanyaan itupun terbatuk batuk.
"Uhuk...Uhuk..!"
"Minum, pak!" seru Ningsih sambil menyodorkan satu gelas air putih yang langsung di trima dan langsung di minum Bima.
"Kan hari sudah malam jadi pak Bima mau nginap di sini apa ibu dan Bapak keberadaan?"tanya Ningsih ragu .
"Oh, jadi Nak Bima rencana mau mengginap di sini?"
"Iya, Pak! kalau boleh."ucap Bima malu malu rasaanya tidak rela jika harus jauh dari sang istri.
"Ya, baiklah antar Nak Bima ke kamar tamu Ningsih setelah itu kamu cepet tidur."
"Baik, pak!"
Selesai makan malam semua kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat, sesuai perintah Ayah nya Setelah mengantar Bima ke dalam kamarnya Ningsih langsung keluar hendak meninggalkan Bima akan tetapi tangan kekar Bima lebih dulu menahannya.
"Jangan pergi dulu, aku masih kangen, masak iya sih nasibku apes banget, sekian lama tak bersama istri giliran sudah bisa bersama harus pura-pura tidak saling mengenal dekat, duduk gak boleh berdekatan memanggil ngak boleh dengan sebutan sayang apalagi mencium nya, Seila...aku ngak tahan dengan kepura-puraan begini,"
"Sabar lah kak!" Kita harus menjaga hati Ayah dan ibu angkat ku, mereka tidak tau kalau Kak Bima suamiku, nanti bakalan kaget dan shock mereka, jadi Kak Bima bersabar ya, bila waktunya sudah tepat aku janji akan menggatakan semuanya, Kak Bima harus ingat karena kebaikan mereka lah aku masih bisa bernafas sampai detik ini selain dari takdir Allah yang masih melindungi ku."
"Baiklah, sayang tapi kiss dulu udah lama semuanya puasa, nih!"
__ADS_1
"kan di rumah ada Seila palsu."Cletuk Ningsih sambil mengibaskan tangan Bima dan berlari keluar kamar, Ningsih benar benar khawatir jika Bapak dan ibu nya tau.