Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.204. BERLARI


__ADS_3

Arina tak lagi meminta suaminya untuk pergi, dengan cepat Arina pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Nenek benar-benar keterlaluan aku harus cepat pergi menemui Nenek dan membicarakan ini semua, Aku tidak mau Arina di Rumah ini tertekan, tak kan kubiarkan kehidupan Rumah tangga ku di campuri orang lain meskipun itu dari keluarga ku, kehidupan ku itu hak ku jadi siapapun tidak ada yang boleh menggaturnya."


Dengan sangat tergesa-gesa Arya menuruni anak tangga dan bergegas menemui sang Nenek yang masih ada Ruang Tamu.


Arya yang sangat kesal dan emosi pada sang Nenek segera menghampiri Nenek yang masih duduk di Ruang tamu.


"Nek, Arya mau bicara sebentar."ucap Arya antusias dengan tatapan mata tajam.


Sang Nenek mengeryitkan dahinya, menatap dengan tatapan mata tidak suka.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, jika kamu hanya ingin membicarakan tentang wanita jahat itu, lebih baik kamu pergi, karena Aku tidak mau membahas tentang wanita itu."


"Nenek ?"apa yang bicarakan."


"Sudah kubilang aku tidak mau membicarakan wanita itu, ingat Arya gara-gara dia, kau hampir saja mati, semua karena siapa? Novi jadi lupakan Istri jahatmu dan menikahlah dengan Novi.


"Nenek..!" kenapa Nenek jadi begini Bukankah Nenek juga tau Aku sangat mencintai Arina jadi tolong lupakan keinginan buruk Nenek."


"Arya?";berani sekali kau bicara begitu padaku,"


"Sudahlah Aku tidak mau berdebat lagi dengan Nenek cukup Nenek tau Aku tidak akan meninggalkan istriku."jawab Devan tegas.yang mana langsung meninggalkan sang Nenek yang sedang kesal.


***

__ADS_1


Waktu berlalu dengan begitu cepat pagipun kini telah datang untuk menyapa, Bima yang sudah menyelesaikan sarapan paginya bersama istri dan anaknya segera pamit untuk. berangkat ke tempat kerja di mana selama ini Bima mengajar sebuah karate.


Merasa jenuh berada di Rumah Seila berniat mengajak Vira kecil untuk jalan-jalan , pada awalnya di cegah sama Bik Ijah pasalnya Bik Ijah sudah mendapatkan pesan dari Bima, agar Seila dan Vira tidak boleh pergi kemana mana tanpa Bima.


"Maaf Non Seila, lebih baik ikuti apa yang dikatakan Den Bima jangan pergi kemana-mana."


"Bik Ijah tidak usah terlalu panik begitu cuma ngajak jalan-jalan di sekitar Rumah ini saja kalau Bibik mau ikut boleh lah, kita pergi bareng."


"Sebenarnya saya ngak enak maksud saya perasaan saya tidak enak tapi, baiklah Non kita berangkat bareng."


Seila sengaja membawa mobil putihnya berkeliling di kota itu hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti di taman Safari XX di mana banyak sekali orang yang membawa anak kecil untuk bermain di tempat itu, Vira terlihat sangat senang dan bahagia bisa bermain dengan teman sebayanya, tidak disini tidak perlu binggung mencari Vira karena dari semua Anak kecil yang ada di tempat itu Vira lah yang paling menonjol dan bisa di kenali dengan cepat.


Hal itu di karena kan Vira gadis kecil berambut keriting dan berkulit hitam, bisa di bilang kribo


Seila tersenyum senang ketika melihat Vira begitu bahagia dan nyaman bermain dengan teman-teman sebayanya.


"Iya, Non Bibik juga bisa melihat kebahagiaan dari pancaran mata Vira."


"Bik Ijah tunggu disini saja biar Aku yang temani."


"Baik, Non!"jawab Bik Ijah sambil mendudukkan bokongnya di tempat yang sangat teduh di mana ada beberapa pohon dan tempat duduk yang cukup nyaman.


Seila menggelengkan kepalanya melihat Vira yang sudah berumur lima tahun berjalan dan merebut bola dan tangan anak laki-laki seusianya.


Karena ulah Vira anak laki-laki itupun menangis dengan kencang.Orang tua Anak laki-laki itu pun mencoba menenangkan anaknya dengan memberikan bola baru yang ada di tempat itu tapi si Anak sepertinya tidak mau diam dan terus saja menangis sampai aku datang dan menemui putri jahil ku.

__ADS_1


"Vira sayang, sini Nak bolanya kasih kan ke mama,"ucapku sambil berjongkok di depannya.


Vira yang belum lancar dalam bicara tapi dia memahami apa yang aku minta, segera menyembunyikan bola itu di balik punggung nya.


"Hmm, anak gadis sini bolanya kasih ke Mama."


Vira tak bergeming dan tetap menyembunyikan bola di balik punggung nya


"Sudah Jeng, tidak apa-apa tidak perlu di paksa Nanti Anaknya ikut Nangis," seru Ibu bocah laki-laki yang menangis itu.


Seila tersenyum dan mengagguk, akan tetapi dia ingin menunjukkan sikap disiplin untuk itu Seila masih memaksa Vira untuk menggembalikan bola yang dirampas nya.


"Ayo, berikan, jika tidak Mama adukan ke Papa." mendengar ancaman Seila rupanya Vira kecil sangat takut, sehingga dengan cepat bola yang di pegang nya dia lempar, Seila tersenyum karena ancaman nya berhasil, akan tetapi Seila terkejut ketika selepas melempar Bola Vira kecil berlari pergi.


Tentu saja hal itu membuat Seila menjadi panik dan langsung mengejar Seila kecil.


"Vira sayang tunggu Mama jangan pergi Nak."seru Seila yang mana langsung menjadi pusat perhatian orang. beberapa di antaranya langsung menoleh ada yang mencibir ada juga yang prihatin.


a


Begitu juga dengan Mbok Ijah yang sedari tadi duduk bersantai menjadi ikut panik dan segera ikut mengejar.


Ternyata meskipun kecil langkah kaki Vira sangat cepat buktinya Seila belum berhasil menangkap nya


Bukannya takut Vira justru semakin senang karena sang Mama mengajak nya berlari kejar kejaran.

__ADS_1


Tidak jauh dari tempat Vira berlari Tampak sepasang mata sedang tersenyum.


"Bagus, punggu di cinta ulampun tiba, Aku tidak perlu bersusah payah mencari dan mendapatkan nya karena Anak itu sendiri yang akan datang kepadaku.


__ADS_2