Kabut Cinta

Kabut Cinta
19. Tersadar


__ADS_3

Sepeninggal Laras dan Angga yang dijemput oleh Kiki, karyawan di rumah makan Arin, tampak Yoga pun kemudian akhirnya dipesankan taksi oleh pihak sekolah Angga untuk mengantar Yoga pulang,


Kenapa Laras berubah begitu cepat?


Kenapa Laras tiba-tiba tega meninggalkannya?


Kenapa semuanya jadi berantakan begini?


Apa yang membuat Laras jadi berubah?


Sepanjang jalan Yoga terus memikirkannya, termasuk rencana hidupnya ke depan akan seperti apa setelah Laras dan Angga tak lagi bersamanya,


Ya, yang tadinya Yoga pikir Angga akan mudah ia ajak pulang, yang Yoga pikir Laras akan dengan mudah diajak kembali, ternyata...


Yoga menghela nafasnya yang berat, tampak ia bersandar lemah ke sandaran kursi taksi di belakang supir,


Matanya meremang menatap jalanan,


Semua kini terasa kosong,


Jauh di lubuk hatinya sebetulnya ia begitu sedih karena tiba-tiba harus kehilangan keduanya,


Tapi kesedihan itu membuatnya jadi marah dan justeru akhirnya malah kehilangan kontrol,

__ADS_1


"Ke mana ini Mas?"


Tiba-tiba terdengar suara pak supir taksi bertanya, membuat Yoga yang tenggelam dalam lamunan panjang terkejut,


Pak supir yang tak mendapat jawaban lantas bertanya lagi di mana alamat rumah Yoga yang jelas,


Yoga pun kemudian memberikan alamat jelasnya pada pak supir taksi, dan pak supir taksi mengangguk mengerti yang kemudian melajukan taksi nya menuju alamat rumah yang diberikan penumpangnya,


Yoga kembali menatap jalanan lagi dari kaca taksi, saat kemudian di sebuah perempatan dan tampak lampu merah menyala, taksi berhenti di antara kendaraan lain,


Namun, betapa hati Yoga kemudian terasa langsung kembali teriris saat melihat di samping taksi yang ia tumpangi tampak sebuah sepeda motor yang ditumpangi sebuah keluarga kecil,


Seorang laki-laki dengan isterinya dan dua anaknya yang satu masih berusia sekitar seusia Angga yang masih duduk di Taman Kanak-kanak duduk di depannya sang Ayah, sementara adiknya sekitar dua tahunan duduk di antara sang Ayah dan Ibunya di belakang,


Sepeda motor yang mereka tumpangi adalah sepeda motor keluaran tahun lama, dari penampilan mereke juga terlihat mereka hanyalah keluarga dengan ekonomi sederhana saja,


Yoga melihat perempuan yang merupakan isteri si laki-laki itu terlihat bicara sambil sesekali tertawa dan sang suami juga tampak tertawa seolah mereka tengah membicarakan sesuatu yang lucu,


Tampak Yoga tanpa sadar menitikkan air mata,


Apa ada yang salah dalam hidupnya? Batinnya sakit.


Lampu lalu lintas di perempatan lantas tampak menyala hijau, dan mobil pun satu persatu melaju, termasuk juga taksi yang Yoga tumpangi, pun sepeda motor yang berhenti di samping taksi,

__ADS_1


Yoga lantas membenahi duduknya, matanya kemudian berganti menatap ke depan, di mana kemudian ia juga menyadari di dashboard depan pak supir, ada semacam hiasan yang seperti berisi foto keluarga pak supir taksi,


"Apa itu keluargamu Pak?"


Tanya Yoga dengan suara lirih,


"Ya kenapa Mas?"


Tanya pak supir yang kurang jelas mendengar pertanyaan dari Yoga,


"Itu, yang di dashboard, apakah itu foto keluargamu?"


Tanya Yoga mengulang,


Pak supir taksi pun kemudian mengangguk mengiyakan sambil tersenyum lebar,


"Iya benar Mas, itu isteri saya dan anak-anak saya,"


Ujar Pak supir taksi,


Yoga terdiam menatap foto keluarga Pak supir taksi yang mengingatkannya pada keluarga sederhana yang tadi ia lihat dengan motor jadulnya di perempatan lampu merah,


"Mereka adalah harta saya yang paling berharga Mas, buat saya saat ini, merekalah satu-satunya semangat saya untuk menjalani hidup, tanpa mereka apalah arti hidup saya ini Mas,"

__ADS_1


Kata pak supir taksi, membuat Yoga semakin terdiam karena dadanya merasa tercabik, lalu...


...****************...


__ADS_2