
Untuk beberapa saat lamanya Bima
memainkan, bibir mungil Seila dengan
lembut. Bima menarik tengkuk Seila
agar bisa memperdalam permainan
bibirnya, awalnya Seila memberontak
kecil tapi akhirnya dia pun terbuai akan
permainan lembut Bima.
Setelah merasa cukup puas, Bima
melepaskan ciuman nya, wajah, Seila
semakin merah merona bagaikan buah
apel yang sudah masak.
Seila menundukkan wajahnya sambil
menggigit bibir bawahnya.
Melihat sikap Seila, Bima, semakin gemas.
Andai saja ini bukan tempat terbuka dan
andai saja mereka ada di dalam kamar mungkin yang terjadi akan lebih dari ini.
"Kenapa menunduk !'aku kan Suami kamu
jadi untuk apa malu, tuh, kenapa juga
masih menggigit bibir bawahnya, apa
masih mau lagi, kalau masih mau, sini
sayang, aku juga masih kurang,"Ucap
Bima gemas.
Perkataan Bima yang bertanya apa masih
mau lagi, membuat Seila mendongakkan
wajahnya, Seila mengkrucutkan bibirnya
dan kedua bola matanya membulat dengan
sempurna, kemudian Seila memukul dada
Bidang Bima.
"Ngomong apaan sih!"Seru Seila sambil
terus memukuli dada bidang Bima.
Bima semakin tersenyum lebar melihat
tingkah istri, tercintanya yang sangat
menggemaskan.
Melihat Bima justru menertawakan nya
dengan gemas Seila mencubit pinggang
Bima, cubitan kecil Seila, sukses membuat
Bima meringis kesakitan, pasalnya jari
kuku Seila sangat panjang.
"Auuuuuhh, sakit sayang..!"
"Berani ngeledek lagi tidak?"
"Iya....ya..! tidak."
"Awas, kalau ngomong lagi..!"
"Janji deh, swer."Ucap Bima dengan
menggangkat tinggi tinggi kedua jari nya
ke atas.
Melihat Bima sudah berjanji Seila mulai
melepaskan cubitan nya.
"Sayang, kita pulang yuk..!"Ajak Bima.
"Bentar, nunggu ijab kabul nya dulu,"
"Ya, lama, ngak bisa berduaan di kamar ini,"
"Ngomong apa sih?"
"Ngomongin tentang kita berdua,"
"Sudah ayo, masuk,"
"Ngak mau lah sayang, aku tunggu di sini
saja,"
"Tadi Rini nyariin kamu, katanya mau
kenalan gitu,"
"Males, nanti juga di sana, aku, kamu
cuekin,"
"Maksudnya bagaimana?"Tanya Seila
ingin tau."
"Ya, kamu, sibuk, dengan temanmu, dan
aku kamu biarkan di sana seperti orang
__ADS_1
hilang, ogah lah, lebih baik aku di sini, aku
malu jika di lihat orang."
"Ngak, ngak akan, aku cuekin lagi, kamu
kan Suamiku, lagi pula kesalku sudah
hilang, ternyata kan Bondet yang matiin
hape kamu, nanti biar aku kasih hadiah
itu bondet biar tau rasa," Ucap Seila
bersemangat.
Ucapan Seila yang mau memberikan
hadiah kepada Bondet, membuat
Bima menelan ludahnya dengan kasar
pasalnya dia lagi berbohong.
"Wah, gawat kalau sampai Seila tanya pada
Bondet, ini akan membuat ku ketahuan
kalau aku lagi berbohong, smoga Bondet
dan Seila tidak bertemu,".Gumam Bima
dalam hati.
"Kenapa bengong, ayo!"
Seila menarik tangan Bima masuk ke dalam
pelaminan, di mana sangat ramai para
tamu dan undangan datang silih berganti.
Senyum Bima tersungging ketiika tangan
putih halus milik Seila mengengam tangan
nya. langkah mereka yang bergandengan
tangan sempat menjadi pusat perhatian
orang.
Sampai di pintu kamar Seila segera
membuka pintu.
"Hey, kalian sudah datang?" lama sekali,
Seila, apa dia suamimu ?"
Seila mengangguk
"Kenalin, ini Rini temanku, dan itu Wina
pasti kamu sudah kenal kan ?"
Ucap Bima sambil menggulurkan tangan.
Acara demi Acara semua telah selesai
Bima dan Seila memutuskan pulang dengan
menggunakan taxi.
****
Pagi ini wajah Bima berseri dan terlihat
sangat segar, dengan rambut basah yang
masih menetes, di tatapnya Seila yang
masih tertidur, Bima menunggu Seila
bangun untuk mengajaknya sholat subuh
berjamaah.
Ingin membangunkan, tapi, tidak tega
menggingat semalaman Bima menggempur
Seila dari pukul' 10.00 sampai pukul 2.00
pagi, Bima tersenyum simpul menggingat
betapa rakusnya dia semalam.
Senyum kepuasan tersungging di bibirnya.
Kini, tidak perlu lagi, harus menunggu jika
mau tinggal minta pasti boleh,Gumam Bima
dalam hati sambil terkekeh.
Melihat Seila mengeliat, segera di dekatinya
"Sayang, sudah bangun, sholat subuh, ayo."
"Sudah, pagi kah?"
Bima mengangguk.
"Aku bantu ke kamar mandi, ya,?"
"Ngak usah, aku bisa sendir,"
Namun ketika Seila hendak turun dari
ranjang badan nya tiba-tiba serasa tidak
bertenaga.
"Kenapa, badanku, serasa remuk semua,"
__ADS_1
"Iya, kan habis bekerja, makanya sini
aku bantu,"
Bima langsung mengendong tubuh Seila
ke kamar mandi.
Seila melingkar kan tangannya ke leher
Bima.
"Makanya, jangan suruh aku kerja keras
lagi,"Ucap Seila manja.
Bima terkekeh,
"Ngak, janji sayang," Ucap Bima sambil
menutup pintu kamar mandi,
Bima masuk ke dalam kamar kecil yang
khusus untuk mengambil Air wudhu.
Setelah selesai Bima duduk menanti
sang istri, tak Lama kemudian, Seila
datang dengan mengenakan mukena
lengkap siap melakukan sholat subuh
berjamaah, setelah salam Bima
Mengulurkan tangannya ke arah Seila.
"mau apa itu?
"Cium, tangan Suami biar nanti bisa
masuk surga,"
Tidak berdebat atau membantah Seila
mencium tangan Bima.
"Smoga kita menjadi keluarga yang sakinah
mawadah warahmah, ya sayang, dan kamu
smoga cepat memberikan aku anak."
"Kan kita sudah punya anak vira,"
"Beda lah, sayang, Vira bukan buah cinta
kita, bukan darah daging kita, aku mau
anak dari cinta kita,"
Seila diam mematung mendengar ucapan
suaminya.
"Sayang, kamu kan masih lelah dan lemas
jadi di rumah saja, jangan kemana mana,
aku pergi kerja dulu,"
Seila mengagguk,
"Oh, ya sayang, mau oleh oleh apa, kalau
aku pulang nanti,'
"Apa, ya ?
"Sudah, pernah makan semua nya bosen,
buku Novel saja, yang bagus ceritanya,"
"Apa..? Bulu Novel, Astaga sayang, mana
bisa aku memilih Buku Novel cerita yang
bagaimana aku juga tidak tau,"
"Ngak mau tau, pokok nya pulang harus
bawa buku Novel, empat,"
"Astaga.. banyak banget, mana aku
tidak tau, Buku yang bagaimana yang kamu
suka,"
"Nanti, kan bisa tanya sama penjual nya,"
"Ya, baiklah aku berangkat kerja dulu sayang,"
Bima mengecup kening Seila sebelum
keluar kamar.
Sampai di ruang tamu Bima berpesan pada
Bik Inah.
"Bik, bawa makanan ke kamar Non Seila ya,
hari ini Non Seila lagi tidak enak badan,"
"Baik, Den,"
"Ya, sudah saya pergi dulu,"
Setelah Bima keluar dari Rumah Bik Inah
justru senyum senyum.
"Yang membuat Non Seila sakit, pasti ulah
__ADS_1
Den Bima," Gumam Bik Inah dalam hati
sambil senyum senyum.