Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.82.SHOLAT SUBUH BERSAMA


__ADS_3

Untuk beberapa saat lamanya Bima


memainkan, bibir mungil Seila dengan


lembut. Bima menarik tengkuk Seila


agar bisa memperdalam permainan


bibirnya, awalnya Seila memberontak


kecil tapi akhirnya dia pun terbuai akan


permainan lembut Bima.


Setelah merasa cukup puas, Bima


melepaskan ciuman nya, wajah, Seila


semakin merah merona bagaikan buah


apel yang sudah masak.


Seila menundukkan wajahnya sambil


menggigit bibir bawahnya.


Melihat sikap Seila, Bima, semakin gemas.


Andai saja ini bukan tempat terbuka dan


andai saja mereka ada di dalam kamar mungkin yang terjadi akan lebih dari ini.


"Kenapa menunduk !'aku kan Suami kamu


jadi untuk apa malu, tuh, kenapa juga


masih menggigit bibir bawahnya, apa


masih mau lagi, kalau masih mau, sini


sayang, aku juga masih kurang,"Ucap


Bima gemas.


Perkataan Bima yang bertanya apa masih


mau lagi, membuat Seila mendongakkan


wajahnya, Seila mengkrucutkan bibirnya


dan kedua bola matanya membulat dengan


sempurna, kemudian Seila memukul dada


Bidang Bima.


"Ngomong apaan sih!"Seru Seila sambil


terus memukuli dada bidang Bima.


Bima semakin tersenyum lebar melihat


tingkah istri, tercintanya yang sangat


menggemaskan.


Melihat Bima justru menertawakan nya


dengan gemas Seila mencubit pinggang


Bima, cubitan kecil Seila, sukses membuat


Bima meringis kesakitan, pasalnya jari


kuku Seila sangat panjang.


"Auuuuuhh, sakit sayang..!"


"Berani ngeledek lagi tidak?"


"Iya....ya..! tidak."


"Awas, kalau ngomong lagi..!"


"Janji deh, swer."Ucap Bima dengan


menggangkat tinggi tinggi kedua jari nya


ke atas.


Melihat Bima sudah berjanji Seila mulai


melepaskan cubitan nya.


"Sayang, kita pulang yuk..!"Ajak Bima.


"Bentar, nunggu ijab kabul nya dulu,"


"Ya, lama, ngak bisa berduaan di kamar ini,"


"Ngomong apa sih?"


"Ngomongin tentang kita berdua,"


"Sudah ayo, masuk,"


"Ngak mau lah sayang, aku tunggu di sini


saja,"


"Tadi Rini nyariin kamu, katanya mau


kenalan gitu,"


"Males, nanti juga di sana, aku, kamu


cuekin,"


"Maksudnya bagaimana?"Tanya Seila


ingin tau."


"Ya, kamu, sibuk, dengan temanmu, dan


aku kamu biarkan di sana seperti orang

__ADS_1


hilang, ogah lah, lebih baik aku di sini, aku


malu jika di lihat orang."


"Ngak, ngak akan, aku cuekin lagi, kamu


kan Suamiku, lagi pula kesalku sudah


hilang, ternyata kan Bondet yang matiin


hape kamu, nanti biar aku kasih hadiah


itu bondet biar tau rasa," Ucap Seila


bersemangat.


Ucapan Seila yang mau memberikan


hadiah kepada Bondet, membuat


Bima menelan ludahnya dengan kasar


pasalnya dia lagi berbohong.


"Wah, gawat kalau sampai Seila tanya pada


Bondet, ini akan membuat ku ketahuan


kalau aku lagi berbohong, smoga Bondet


dan Seila tidak bertemu,".Gumam Bima


dalam hati.


"Kenapa bengong, ayo!"


Seila menarik tangan Bima masuk ke dalam


pelaminan, di mana sangat ramai para


tamu dan undangan datang silih berganti.


Senyum Bima tersungging ketiika tangan


putih halus milik Seila mengengam tangan


nya. langkah mereka yang bergandengan


tangan sempat menjadi pusat perhatian


orang.


Sampai di pintu kamar Seila segera


membuka pintu.


"Hey, kalian sudah datang?" lama sekali,


Seila, apa dia suamimu ?"


Seila mengangguk


"Kenalin, ini Rini temanku, dan itu Wina


pasti kamu sudah kenal kan ?"


Ucap Bima sambil menggulurkan tangan.


Acara demi Acara semua telah selesai


Bima dan Seila memutuskan pulang dengan


menggunakan taxi.


****


Pagi ini wajah Bima berseri dan terlihat


sangat segar, dengan rambut basah yang


masih menetes, di tatapnya Seila yang


masih tertidur, Bima menunggu Seila


bangun untuk mengajaknya sholat subuh


berjamaah.


Ingin membangunkan, tapi, tidak tega


menggingat semalaman Bima menggempur


Seila dari pukul' 10.00 sampai pukul 2.00


pagi, Bima tersenyum simpul menggingat


betapa rakusnya dia semalam.


Senyum kepuasan tersungging di bibirnya.


Kini, tidak perlu lagi, harus menunggu jika


mau tinggal minta pasti boleh,Gumam Bima


dalam hati sambil terkekeh.


Melihat Seila mengeliat, segera di dekatinya


"Sayang, sudah bangun, sholat subuh, ayo."


"Sudah, pagi kah?"


Bima mengangguk.


"Aku bantu ke kamar mandi, ya,?"


"Ngak usah, aku bisa sendir,"


Namun ketika Seila hendak turun dari


ranjang badan nya tiba-tiba serasa tidak


bertenaga.


"Kenapa, badanku, serasa remuk semua,"

__ADS_1


"Iya, kan habis bekerja, makanya sini


aku bantu,"


Bima langsung mengendong tubuh Seila


ke kamar mandi.


Seila melingkar kan tangannya ke leher


Bima.


"Makanya, jangan suruh aku kerja keras


lagi,"Ucap Seila manja.


Bima terkekeh,


"Ngak, janji sayang," Ucap Bima sambil


menutup pintu kamar mandi,


Bima masuk ke dalam kamar kecil yang


khusus untuk mengambil Air wudhu.


Setelah selesai Bima duduk menanti


sang istri, tak Lama kemudian, Seila


datang dengan mengenakan mukena


lengkap siap melakukan sholat subuh


berjamaah, setelah salam Bima


Mengulurkan tangannya ke arah Seila.


"mau apa itu?


"Cium, tangan Suami biar nanti bisa


masuk surga,"


Tidak berdebat atau membantah Seila


mencium tangan Bima.


"Smoga kita menjadi keluarga yang sakinah


mawadah warahmah, ya sayang, dan kamu


smoga cepat memberikan aku anak."


"Kan kita sudah punya anak vira,"


"Beda lah, sayang, Vira bukan buah cinta


kita, bukan darah daging kita, aku mau


anak dari cinta kita,"


Seila diam mematung mendengar ucapan


suaminya.


"Sayang, kamu kan masih lelah dan lemas


jadi di rumah saja, jangan kemana mana,


aku pergi kerja dulu,"


Seila mengagguk,


"Oh, ya sayang, mau oleh oleh apa, kalau


aku pulang nanti,'


"Apa, ya ?


"Sudah, pernah makan semua nya bosen,


buku Novel saja, yang bagus ceritanya,"


"Apa..? Bulu Novel, Astaga sayang, mana


bisa aku memilih Buku Novel cerita yang


bagaimana aku juga tidak tau,"


"Ngak mau tau, pokok nya pulang harus


bawa buku Novel, empat,"


"Astaga.. banyak banget, mana aku


tidak tau, Buku yang bagaimana yang kamu


suka,"


"Nanti, kan bisa tanya sama penjual nya,"


"Ya, baiklah aku berangkat kerja dulu sayang,"


Bima mengecup kening Seila sebelum


keluar kamar.


Sampai di ruang tamu Bima berpesan pada


Bik Inah.


"Bik, bawa makanan ke kamar Non Seila ya,


hari ini Non Seila lagi tidak enak badan,"


"Baik, Den,"


"Ya, sudah saya pergi dulu,"


Setelah Bima keluar dari Rumah Bik Inah


justru senyum senyum.


"Yang membuat Non Seila sakit, pasti ulah

__ADS_1


Den Bima," Gumam Bik Inah dalam hati


sambil senyum senyum.


__ADS_2