
Pagi hari di tempat Arin, tampak Laras sudah bangun sebelum karyawan lain datang pastinya,
Laras turun dari lantai dua, dan langsung bebenah, dari mengelap meja-meja, sampai menyapu dan mengepel lantai di ruangan rumah makan milik Arin itu,
Bagi Laras, memutuskan untuk akhirnya keluar meninggalkan rumah mertuanya tentu bukanlah hal yang mudah seandainya ia belum tahu akan bekerja apa,
Beruntunglah ia sudah bertemu Arin, hingga paling tidak ia tahu begitu keluar dari rumah mertua, ia harus pergi ke mana,
Arin, ya Arin, untuk saat ini untuk Laras tentu Arin adalah dewi penolong yang sampai kapanpun Laras pastikan akan selalu ingat kebaikannya,
Laras setelah menyelesaikan pekerjaannya membersihkan seluruh ruangan untuk makan para pengunjung di rumah makan itu, kini tampak beralih ke dapur di mana di sana semua makanan diolah,
Jam masih berkisar di angka lima pagi, di mana di luar sana masih belum begitu terang karena matahari belum naik ke atas,
Laras memperhatikan setiap sudut dapur rumah makan Arin, agak berantakan sebetulnya di mata Laras, tapi ia tak mau menggeser alat-alat masak ke tempat lain, ia takut para karyawan yang bertugas masak sudah terbiasa dengan letak alat masak yang menurut Laras berantakan itu,
Jadi Laras pun memutuskan hanya mengelap meja dapur saja, dan mengeluarkan beberapa kantong sampah yang masih tersisa, yang mungkin lupa dibawa keluar semalam,
Sekitar jam setengah enam pagi, Laras akhirnya telah menyelesaikan semua pekerjaannya, tepat saat itu karyawan yang sepertinya piket pagi datang menggunakan motor dan langsung parkir di dekat pintu yang menuju dapur,
Melihat Laras ada di sana dan dapur tampak bersih tentu saja membuat mereka senang,
"Wah Bu Laras, ini Bu Laras kerjain sendirian?"
Tanya seorang karyawan yang juga seorang Ibu dengan usia sekitar empat puluh lima tahunan,
Laras tersenyum,
"Sekalian olahraga Bu,"
Kata Laras,
"Panggil saja saya Bu Hasmi, ini anak saya Hasmi juga bekerja di sini,"
Kata Bu Hasmi, tampak pemuda bernama Hasmi membungkuk memberi salam pada Laras dengan sopan,
"Anak pertama Bu?"
Tanya Laras,
Bu Hasmi menggeleng,
"Anak bungsu, anak pertama bantu anak saudara jualan di pasar, buka cabang tidak ada yang jagain, jadi kakak nya si Hasmi yang suruh jaga,"
Kata Bu Hasmi,
"Ooh, sekalian belajar wirausaha ya Bu,"
Ujar Laras,
Bu Hasmi menganggukkan kepala,
"Oh Bu Laras pasti belum sarapan kan?"
Tanya Bu Hasmi,
__ADS_1
"Gampang Bu, nanti sekalian antar anak sekolah cari nasi uduk, ini saya mau bangunkan Angga dulu biar mandi siap-siap sekolah,"
Kata Laras,
"Lho kelamaan sarapan nunggu antar anak sekolah, ini saya bawa bekal agak banyak, ayuk sarapan bareng sekalian,"
Kata Bu Hasmi yang meletakkan tas bekalnya di atas meja dapur,
"Iya Bu Laras, lebih baik sarapan dulu, sekalian temani Ibu saya makan, kalau tidak ada yang temani juga Ibu suka malas makan, sementara saya kalau pagi begini enaknya minum kopi sama merokok saja, makan gorengan gerobakan itu dekat sini juga sudah cukup,"
Kata Hasmi,
"Dasar anak cowok ya begini ini Bu Laras, tidak tahu perjuangan Ibu masak sampai jungkir balik kalau pagi di dapur,"
Kata Bu Hasmi membuat Laras tertawa,
"Ibu masak apa main sirkus,"
Seloroh Hasmi membuat Ibunya menabok lengan sang anak,
Hasmi pun jadi ikut tertawa dan langsung ngeloyor ke dapur untuk menyeduh kopi,
"Senang dia tidak usah bebenah karena semua sudah rapi bersih oleh Bu Laras, tugasnya tinggal menyiapkan bahan masakan dari gudang dan membuka pintu-pintu rumah makan saja,"
Kata Bu Hasmi sambil mulai sibuk membongkar bekal sarapannya,
"Ayo Bu Laras, kita sarapan dulu, saya juga sudah bawa air teh lho ini, panas ini enak kalau diminum pagi,"
Ujar Bu Hasmi,
Laras pun mengangguk,
Kata Laras,
Melihat bekal yang dibawa Bu Hasmi, nyatanya membuat perut Laras yang lapar jadi makin terasa keroncongan,
"Oh iya iya, bangunkan dulu anaknya, sarapan baru kemudian mandi, jadi tidak masuk angin,"
Ujar Bu Hasmi pula,
Laras mengangguk, lantas permisi sebentar meninggalkan dapur rumah makan untuk menuju ke lantai dua di mana Angga masih tertidur di kamar,
Ya kamar baru, yang meski lebih kecil dari kamar di rumah mertua, tapi perabotnya tak kalah bagus,
Kasurnya empuk dan semuanya tampak ditata rapi,
Angga bahkan sama sekali tidak rewel semalaman ini, dia langsung tidur pulas dan sama sekali tak minta pulang menandakan ia langsung merasa nyaman di sana,
"Angga... Angga sayang, bangun..."
Panggil Laras sambil kemudian masuk ke dalam kamar,
Angga di kamar masih tampak tidur pulas, padahal biasanya dia sudah menangis jika bangun tak ada Laras,
Perempuan cantik itu terlihat tersenyum, berjalan menghampiri Angga, dan duduk di sisi tempat tidur,
__ADS_1
Ditatapnya wajah Angga yang di sana juga terpahat wajah Ayahnya,
Ya, Angga memang mirip sekali dengan Yoga, sang Ayah, begitu juga dengan sifat manja dan kolokannya,
Tapi, anak tetaplah anak, buah hati bagi setiap Ibu, tak peduli seperti apa menyebalkannya mereka di mata orang lain, bagi Ibu anak tetaplah sosok yang menyenangkan hati,
Laras mengusap kepala Angga dengan penuh kasih sayang, rasa sesal kembali menyeruak di dalam dada,
Andai ia bisa melahirkan Angga di dalam pernikahan yang jauh lebih sehat, andai Ia bisa melahirkan Angga dengan seorang Ayah yang pekerja keras dan memiliki tanggungjawab penuh pada keluarga,
Mungkin semua akan berjalan jauh lebih baik daripada hari ini,
"Hmmmh..."
Angga tiba-tiba menggeliat,
Laras menepuk pipi kecilnya dengan lembut,
"Bangun Angga,"
Kata Laras mengulang,
Angga, tampak anak kecil itupun membuka matanya pelahan, melihat Mamanya berada di sana membuat senyumnya seketika terkembang,
"Selamat pagi Angga,"
Sapa Laras dengan senyuman terkembang pula,
Angga bangun dari posisinya, lalu langsung memeluk sang Mama,
"Nah anak pintar, sekarang bangun tidak nangis lagi,"
Kata Laras memuji,
Tentu harapannya itu akan memotivasi Angga agar setiap bangun di pagi-pagi berikutnya Angga tak perlu menangis lagi,
"Angga tidak nangis Ma, kalau tidak ditabok,"
Kata Angga sambil merenggangkan pelukan dan menatap wajah Mamanya dari dekat dengan matanya yang bening,
Laras mengerutkan kening,
"Ditabok? Memangnya siapa yang nabok?"
Tanya Laras,
"Papa, kalau Angga bangun dan manggil Mama, Papa kan nabok Angga dengan keras, katanya Angga berisik,"
Tutur Angga,
Laras terkesiap,
Jadi selama ini, Yoga yang membuat anaknya selalu menangis setiap pagi,
Laras mengelus dadanya, sungguh luar biasa suaminya itu, sama sekali seperti tak ada fungsinya menjadi seorang suami dan maupun juga sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Kesal sungguh hati Laras jadinya.
...****************...