Kabut Cinta

Kabut Cinta
23. Mengalihkan Dunia


__ADS_3

"Mbak... Mbak Laras,"


Temmi mengejar Laras yang tampak buru-buru keluar dari ruangan kantor pengacara Hendrawan begitu melihat Temmi juga datang ke sana,


Tentu saja, ini terlalu tidak nyaman untuknya, mengurus perceraian dibantu orang yang mengenal adik iparnya dan Temmi juga berada di sana pula, itu jelas akan sulit untuknya bisa bicara panjang lebar,


Arin sendiri, yang tak begitu mengenal keluarga suami Laras jadi bingung dan jadi ikut keluar dari ruangan pengacara Hendrawan,


Arin tak lupa mewakili semuanya untuk permisi pada staf perempuan yang terlihat lebih bingung daripada Arin karena tamu atasannya tiba-tiba malah kabur semua,


"Mbak... Mbak Laras, tunggu sebentar, kita bisa bicara baik-baik Mbak,"


Kata Temmi sambil berusaha mengejar,


Begitu sudah agak dekat dan keduanya kini telah sampai di luar kantor milik pengacara Hendrawan itu, Temmi pun dengan langkah yang lebih cepat akhirnya mampu mengejar Laras dan berhasil meraih tangan Laras untuk kemudian menariknya,


Laras yang tak siap seketika tubuhnya jadi limbung, ia nyaris saja jatuh karena ditarik tiba-tiba,


Untungnya Temmi cepat meraih tubuh Laras dan kemudian merengkuhnya,


(Adegan klasik seluruh dunia pun terjadi, keduanya sejenak saling berpandangan, seketika pula waktu di sekitar mereka turut berhenti untuk beberapa saat)


Sampai kemudian,


Laras tiba-tiba tersadar dan cepat memperbaiki sikapnya, dilepaskannya tangannya dari genggaman tangan Temmi,


Posisi mereka yang terlalu dekat dan jelas membuat Laras tak nyaman itupun seketika membuat Laras harus mendorong tubuh Temmi agar bisa sedikit menjauh,


Keduanya sejenak tampak jadi gugup dan canggung, meskipun kemudian Temmi yang akhirnya berusaha mencairkan suasana di antara mereka terlebih dahulu,


"Mbak, maaf, aku..."


"Tidak apa, tidak apa, jangan dibahas,"


Potong Laras saat kalimat Temmi belum selesai,


Temmi pun memaksakan senyuman, Laras sekilas tanpa sengaja melihat pada wajah Temmi,


Tadi saat mereka berpandangan dalam jarak yang cukup dekat, Laras merasa ia melihat wajah Temmi terdapat beberapa luka dan lebam,


"Kamu, ada kasus apa Tem? Seseorang menyerang mu? Atau..."


"Mas Yoga,"


Sahut Temmi cepat, gantian ia yang kini memotong kalimat Laras yang belum selesai,


Mendengar nama Yoga disebut, Laras jadi menatap Temmi lagi,


Adik iparnya, yang wajahnya tak kalah tampan dengan kakaknya, namun lebih lembut dan santun itu tampak menatap Laras pula dengan tatapan yang juga kini tampak iba melihat luka gores di wajah Laras,

__ADS_1


"Mbak juga terluka?"


Tanya Temmi seraya mengulurkan tangannya ke arah sebelah wajah Laras yang terkena luka gores,


Namun, tentu saja Laras cepat menghindari sentuhan tangan Temmi atas wajahnya,


Tidak!


Tidak boleh adik iparnya melakukan hal sejauh itu, bagaimanapun ia masih dalam status pernikahan dengan kakaknya, jadi apapun alasannya, Laras tak akan pernah mengijinkan siapapun laki-laki lain menyentuhnya,


"Oh maaf Mbak, aku..."


Temmi akhirnya jadi gugup sendiri, ia tahu jika ia terlalu terbawa suasana atau apa, ia juga jadi tidak mengerti,


Lalu...


Laras menoleh ke arah pintu masuk keluar kantor pengacara Hendrawan yang di mana kini Arin tampak berdiri di sana dan menatap Laras yang tengah bersama Temmi,


Laras pun cepat bicara pada Temmi,


"Ngg... Tem, sepertinya Mbak harus pergi, kamu... kamu kalau ada urusan dengan pengacara Hendrawan silahkan masuk lagi,"


Kata Laras yang bersiap berbalik untuk pergi menemui Arin lagi dan akan minta pulang saja,


Tapi, Temmi menahan Laras,


Kata Temmi kemudian,


Laras memandang adik iparnya,


"Mbak ke sini apa ada hubungannya dengan Mas Yoga? Dan ijinkan aku tahu Mbak dan Angga sekarang tinggal di mana,"


Laras yang mendengar pertanyaan Temmi tampak menggeleng pelan,


"Maaf Tem, aku tidak bisa bicara apapun padamu, terlebih niatku datang ke sini dan juga memberitahu di mana sekarang aku tinggal,"


Temmi pun seketika tampak kecewa, tapi Laras tak mau terlalu peduli, ia lantas kembali pamit,


"Aku harus pergi,"


Kata Laras, yang kemudian melangkah cepat meninggalkan Temmi yang terus menatapnya menjauh,


"Maaf Rin, bisa kita pergi sekarang, aku akan jelaskan sambil pulang,"


Kata Laras,


Arin yang mencoba memahami kondisi Laras akhirnya mengangguk, ia pun mengajak Laras menuju ke mobil miliknya untuk pergi dari sana,


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berwarna hitam memasuki area parkir dan kemudian langsung menuju tempat di mana Arin memarkir dan kini menjauh dari sana,

__ADS_1


Seorang laki-laki muda tampak kemudian turun dari mobil yang baru datang tersebut, ia melihat Temmi yang berdiri sambil menatap ke arah jalan besar di mana mobil Arin kini terlihat sudah di sana dan tak lama langsung tidak tertangkap oleh mata,


"Tem,"


Laki-laki itu memanggil Temmi,


Temmi yang merasa dipanggil menoleh ke arah laki-laki yang kini menghampirinya sambil menenteng tas hitam dan beberapa berkas,


"Ah kau sudah datang?"


Temmi memaksakan senyuman begitu melihat laki-laki yang tak lain adalah sang pengacara,


Keduanya kemudian saling berjabat tangan,


"Apa kabar?"


Tanya Hendrawan,


Temmi tersenyum,


"Ya beginilah,"


Jawab Temmi,


Hendrawan pun balas tersenyum, sambil melepas jabat tangan mereka,


"Maaf aku ada urusan dengan seseorang, agak lama sejak pagi, ayolah masuk, kita mengobrol tujuanmu datang, siapa tahu aku bisa bantu,"


Kata Hendrawan,


Temmi pun mengangguk,


"Ya, aku memang membutuhkan bantuanmu saat ini Tuan pengacara,"


Kata Temmi membuat Hendrawan tergelak,


Hendrawan dan Temmi kemudian berjalan menuju ke gedung Kantor milik Temmi,


Namun, saat akan masuk, tiba-tiba Hendrawan kembali melihat Temmi yang lagi-lagi melihat ke arah jalan besar, membuat Hendrawan jadi merawa tergelitik untuk bertanya,


"Kau ini seperti kucing kehilangan mangsa, ada apa?"


Tanya Hendrawan pada Temmi yang lagi-lagi tampak kembali melihat ke arah jalan besar itu, Temmi yang mendengar pertanyaan seperti itu dari Hendrawan pun jadi terpaksa nyengir sambil menggelengkan kepalanya,


"Tidak apa-apa, tidak ada apa-apa,"


Kata Temmi cepat, lalu memilih melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kantor bersama teman pengacaranya itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2