
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Seila menerima tugas yang di berikan Bima kepadanya.
iqbal yang bertugas memberikan informasi kepada beberapa temannya yang lain dan menghubungi pihak kepolisian setempat segera melaksanakan tugas itu.
Sedangkan Bondet menggikuti Bima dan Seila.
"Sekarang waktunya, ayo masuk lah dan pancing mereka keluar,"
Dengan sedikit ragu, Seila berjalan memasuki goa, di ambilnya beberapa batu yang ada di sekitar tempat itu, kemudian di lemparkan nya
ke dalam, di mana beberapa preman laki laki
menjaga tawanan mereka.
Klotak....suara lemparan batu pertama, hasil nya nihil, karena tak menimbulkan bunyi yang keras juga tak tepat sasaran.
Seila menggulang kembali lemparannya, kali ini dia melempar dengan sedikit keras dan fokus.
Lemparan yang tepat, karena lemparan itu, menggenai salah satu kepala preman laki laki yang ada disana.
"Woi...."siapa yang berani melempar ku ?
"Ada apa, kau berteriak teriak begitu?
"Ada yang melempar ku, dengan batu,"
"Ha... ha... .ha...ha !"
kamu ngigau ya.
ketiga temannya tidak percaya, Mereka saling menertawakan.
Namun beberapa detik kemudian.
"Aduh,"
"Kenapa?"
"Kepalaku, seperti nya ada yang melempar dengan batu juga,"
"Ha ..ha .ha...ha..! kalian berdua benar benar payah,"
"ini benar, lihat ini, batunya,"
"Wah, benar juga, ayo kita lihat,"
Serentak ke empat preman laki laki itu, keluar dari goa mencari siapa yang sengaja melempar mereka.
Seila yang sengaja, memancing Mereka keluar
menampakkan dirinya. Setelah ke empat laki laki itu melihat Seila dengan lantang Seila berteriak.
"Woi....!tangkap aku, kalau kalian bisa,"
"Wah, dia lagi rupanya..!bener bener mau cari mati, gadis itu, ayo kita tangkap,"
Ke empat laki laki itu dengan segera berlari menghampiri Seila. Sengaja Seila berlari dengan lambat, tujuannya agar Iqbal dan teman teman yang lain sudah berada di tempat ini.
Ketika ke empat laki laki itu hampir mendekati
Segera Seila mempercepat larinya.
Akhirnya Seila berhasil memancing ke empat
__ADS_1
laki laki itu Keluar dari goa.
Ketika ke empat laki laki itu sudah berada di luar, Bima dan Bondet segera memasuki goa.
Padangan mata mereka nanar ke depan dan mencari di mana Nafa di sembunyikan.
"Bal, goa ini cukup dalam dan bercabang, kita tidak tau Nafa ada di sebelah mana, bagaimana kalau kita berpencar kau kearah utara sedangkan aku lurus kedepan?"
"Baik, Kak,"
"Ok, jika kamu yang lebih dulu menemukan Nafa cepat kabari aku, dan jika aku yang lebih dahulu menemukan nya, aku akan menghubungi mu,"
"Baik, kak,"
Bergegas Bondet berjalan ke arah Utara sedangkan Bima lurus ke depan.
Suasana goa yang gelap dan remang remang
sedikit menghalangi pandangan mata Bima, namun semangat nya untuk bisa menolong
Nafa tak luruh ke tanah, masih tetap menyala dan berkobar kobar.
Samar samar Bima melihat sedikit cahaya, di ikutinya kemana cahaya itu berasal, lama semakin lama berjalan semakin kedalam cahaya itu semakin terang,
Ada empat lampu obor dari bambu yang berada di sekitar tempat itu, Ketika Bima sedang mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, tiba tiba matanya melihat sebuah Altar dan yang di atasnya terdapat sosok tubuh
manusia yang terikat.
"Nafa ...! Desis Bima.
Dengan cepat Bima menghampiri tubuh Nafa yang terikat kuat di atas Altar.
Setelah ikatan itu terbuka, dengan hati hati
Bima nengoyang goyangkan tubuh Nafa.
Bima terus menguncang guncangkan tubuh Nafa, perlahan lahan kedua mata nafa terbuka,
ketika dia melihat Bima ada di depannya dengan cepat Nafa memeluk erat Bima.
"Kak Bima..!Nafa takut kak,"
"Sudah, jangan takut ayo kita keluar dari goa in," Seru Bima pada Nafa.
Bima membantu Nafa turun dari Altar, tempat dimana Nafa d ikat.
Namun ketika Nafa sudah turun dari Altar dan Bima hendak melangkah pergi bersama Nafa
tiba tiba berkelebat di depannya sebuah bayangan, yang datang dengan tawa yang sangat menekankan telunga mereka.
Seketika langkah kaki Bima dan Nafa terhenti.
****
Sedangkan di tempat yang berbeda Arina yang sudah sampai di rumah kontrakan nya dan Arya
yang sudah pamit pulang, kini ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, pikiran nya lagi mengembara entah kemana.
Apa yang di minta Arya, baginya sangatlah sulit
bagaimana mungkin dia akan menerima Arya, sedangkan dia sama sekali tidak mencintai orang itu.
Namun jika dia menolak, akankah cinta lamanya bersama Bima bisa kembali terjalin,
__ADS_1
...sejak pertemuan nya dengan Bima dan melihat...
sikap Bima, yang sudah berubah membuat keyakinannya pudar.
Rasa capek Ingin segera tidur namun mata sulit
untuk di pejamkan.
Dengan langkah gontai Arina berjalan ke dapur
mengambil sebuah es krim yang ada di kulkas.
Dengan makan es krim Arina berharap pikiran nya yang kacau bisa sejuk dan segar sesejuk dan sesegar es krim yang dia makan.
Ketika sedang asik asiknya menikmati es krim,
tiba tiba ponselnya hapenya berbunyi.
"Tululit....Tululit.... Tululit....!
"Halo,"
"Halo, Arina, apa kamu sudah tidur ?"
"Kamu, Arya, ada apa malam malam telpon,"
"Ya, aku, tidak bisa tidur makanya aku telpon kamu, angkat telponya ya, aku mau video call
sebentar,"
"Halah, ngapain pakai Video Call, segala,udah ngomong saja langsung,"
"Ayolah Rin, Sebentar saja, mau ya, please, lagi kangen nih,"
"Gombal,"
"Serius, nih, mau ya?"
"Ogah, aku mau tidur, sudah malam capek,"
"Ngak lama kok, aku janji, please !"
"Ngak mau, udah ya aku mau tidur, bye ,"
Tanpa menunggu jawaban dari Arya,
Arina segera mematikan telpon hapenya.
Tak lama kemudian terdengar suara.
Tit..Satu pesan masuk.
Arina membuka dan membaca pesan yang masuk, mata Arina seketika terbelalak tak kalah
pesan masuk itu, berupa sebuah poster gambar gede, Wajah Arya yang sedang tersenyum, lebih terkejut lagi ketika membaca
tulisan yang tertera di bawah nya.
"Andai kau tau, rasa dalam jiwa, setiap saat hanya namamu yang terukir disana.
Selamat tidur dan selamat malam pujaan hatiku, cintaku hanya untukmu.
"Idih, gombal amat, nih orang, preet lah dengan gombal mu,"Gumam Arina.
__ADS_1
Arina dengan cepat mematikan ponsel hapenya.
"Biar ngak, bisa lebay...lagi,"