Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.156.PUSING


__ADS_3

Dalam kegusaran hatinya Hendrato berusaha mencari Ningsih dalam gelap yang tak berselang lama lampu pun menyala.


"Byaaaaaarrrr...!" lampu sudah menyala kembali semua yang berdansa kini mencari pasangan nya yang tertukar senyum tersungging dari bibir mereka masing-masing karena merasa sudah di kerjai sang pemilik hotel.


Perasaan kikuk , kaku dan canggung terlihat jelas di wajah Ningsih yang menunduk malu setelah lampu di nyalakan.


"Pak Bima, saya pergi mencari mas Hendrato dulu ya?saya khawatir dia akan mencari saya."


"Kenapa harus kamu yang mencari biarkan saja dia yang mencari mu."


"Tidak apa-apa pak, biar saya saja." ucap Ningsih sambil berdiri tapi kemudian Bima menarik tangannya untuk duduk kembali.


"Tidak pantas seorang cewek mencari seorang cowok jadi duduklah biarkan Hendrato sendiri yang akan mencari mu."ucap Bima lirih.


Dengan terpaksa Ningsih menuruti perkataan Bima dia duduk kembali, di tempat umum dan terbuka sangatlah tidak nyaman bagi Ningsih duduk berdekatan dengan Bima terlebih pemilik hotel juga menggetahui jika dirinya adalah calon istri dari sahabat nya Hendrato.Bima memperhatikan Ningsih dengan tatapan mata yang sendu hatinya juga meronta ingin segera Ningsih bisa ingat kembali siapa dirinya, tapi bagaimana caranya agar ingatan Ningsih bisa kembali, sangat tidak nyaman duduk berdekatan dengan istri tapi istri tidak mengetahui dan menggingat semuanya Bima mengusap wajahnya dengan kasar, ada kesedihan yang tiba-tiba terbersit dalam dirinya terlebih sikap dan perkataan Hendrato yang tak bersahabat.


"Apa yang kau pikirkan?"tanya Bima ketika melihat Ningsih melamun.


"Tidak ada, pak!"


Bima tersenyum getir melihat sikap kaku dari Ningsih yang berusaha menjaga jarak di antara mereka.


Hendrato yang mencari Ningsih tak juga bertemu, lokasi tempat peresmian Hotel memang cukup luas akan tetapi tidak mungkin jika hanya untuk mencari satu orang saja tidak ketemu, rasa kesal mulai hadir menyelimuti hati dan pikiran Hendrato, melihat sahabatnya sang pemilik Hotel senyum senyum Karena telah berhasil mengerjai semua pengunjung dan tamu undangan.Dengan langkah pasti Hendrato berjalan mendekati.


"Roby...!"sini kau."


"Hei..Hen! ada apa wajahmu kusut begitu"


"Brengsek loe, gara-gara Acara konyolmu aku kehilangan Ningsih, kenapa loe matikan lampu segala mana matinya cukup lama."grutu Hendrato pada Roby.


"Sabar... rileks bro..!" jangan tegang begitu ini mau memutar video rekaman dansa kalian karena kami mencari pemenangnya tenang nanti akan terlihat calon istrimu berdansa dengan siapa, sudah duduk dan tenanglah." Seru Roby sambil menepuk bahu Hendrato yang akhirnya mau tidak mau Hendrato duduk dan menunggu Video dansa di putar.


Tidak menunggu lama setelah di umumkan semua peserta lomba dansa yang hampir seluruh pesertanya adalah tamu undangan tiba-tiba terdiam dan menatap layar putih lebar yang biasanya kita lihat ketika ada layar tancap.

__ADS_1


Semua merasa tegang karena akan di umumkan juga pemenangnya sepuluh menit kemudian video dansa telah di putar, Hendrato mendelik tak percaya ketika melihat detik detik terlepasnya Ningsih dari tangan nya ketika Acara dansa lampu di matikan terlihat lah seorang gadis yang hampir terjatuh akibat putaran dansa yang di lakukan pasangan nya gadis itu hampir nyungsep ke tanah lantai dansa seandainya tidak ada satu tangan yang menariknya memegang dan mengajaknya berdansa, mata Hendrato membulat tak percaya ketika tau siapa yang menolong Ningsih agar tidak terjatuh dan yang mengajaknya berdansa.


"Kenapa Bima ada di sini?" apa jangan jangan dia sengaja membuntuti kami dan tau aku mengajak dansa Ningsih maka dia mencari kesempatan."Gumam Hendrato dalam hati.


Ketika Hendrato dalam mode melamun Roby mencolek bahunya.


"Lihat, calon istri mu dia berdansa dengan sangat bagus pasangan nya juga terlihat menguasai dansa mereka bener bener keren."Seru Roby memuji.


Sedangkan Hendrato membuang muka rasanya muak dan kesal melihat calon istrinya berdansa dengan orang lain terlebih orang itu adalah Bima, orang yang dianggapnya telah menggambil kekasihnya.


"Kenapa ada orang itu di sini?" apakah dia juga tamu undangan.'tanya Hendrato kesal


"Tentu saja Bima ada di sini, kan dia juga tamu undangan , ku pikir dia datang bersama istrinya ternyata sendiri tapi aksi dansanya sungguh keren.


Merasa sudah tidak tahan mendengar temannya Roby memuji muji Bima, Hendrato memilih pergi dan mencari di mana Bima dan Ningsih sekarang berada, langkah nya yang tergesa-gesa membuat Hendrato tanpa sadar menabrak orang yang ada di depannya.


"Bruuuuugggh..!bunyi suara tabrakan tubuh mereka membuat seorang wanita yang di tabrak nya menggumpat marah.


"Kalau jalan tuh lihat lihat dong jangan main tabrak orang saja."seru gadis berkacamata yang ada di depannya.


Gadis itu merasa kesal dan pergi baginya laki-laki di depannya tidak penting dan hanya membuang waktu, karena ada hal yang lebih penting untuk saat ini yaitu merencanakan niatnya untuk bisa memiliki apa yang selama ini dia perjuangkan langkah nya sudah jauh dan tak kan berhenti sebelum mendapatkan hasil.


"Mas, sini..!" seru seorang wanita berkacamata melambaikan tangan pada seorang pelayan penyaji minuman.


"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong berikan minuman ini pada tuh..! laki laki yang duduk di sana itu."


"Oh,baik mbak!


"Permisi mas, ini minuman nya?"


"Oh, ya trimakasih!"

__ADS_1


Tanpa curiga Bima langsung meneguk minuman yang di sajikan pelayan hotel padanya sedangkan Ningsih pergi meminta ijin ke kamar kecil.


Tak jauh dari tempat Bima duduk tampaklah seorang wanita berkacamata sedang tersenyum menatap nya, tinggal menunggu obat itu bekerja, setelah ini kau akan jadi milikku selamanya.


Tak lama kemudian reaksi obat pun bekerja Bima mulai pusing dan merasa sedikit gerah.


"Kenapa Ningsih lama sekali dan Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing berkali-kali Bima mengerjakan mata dan mengusap wajahnya dengan kasar, karena merasa sudah tidak baik-baik saja, Bima melambaikan tangan pada pelayan hotel.


"Kepala ku pusing dan berat apakah bisa aku beristirahat di kamar sebentar."


"Bisa mas, mari saya tunjukkan kamarnya."


Dengan sedikit sempoyongan Bima berjalan dengan di bantu pelayan Hotel beristirahat di kamar. Ketika pelayan itu hendak pergi Bima kembali berseru.


"Mas tolong katakan pada gadis yang tadi duduk dengan ku, aku sakit dan beristirahat di kamar ini sebentar."


"Baik, mas .!


Setelah pelayan itu pergi Bima menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tanpa sepengetahuan siapa pun gadis berkacamata yang diam diam menggikuti Bima tersenyum penuh kepuasan.


"Kali ini, kau tidak bisa pergi dan lepas dariku."Desis gadis itu.


Di bukanya perlahan-lahan pintu kamar Hotel tempat Bima beristirahat dan di tutupnya kembali pintu kamar dengan pelan pelan, cahaya lampu yang remang remang membuat pandangan Bima sedikit kabur.


"Ningsih..!" kau kah itu, kepalaku pusing, maaf aku beristirahat dulu."


" Ya, beristirahat lah." jawab gadis berkacamata hitam sambil meletakkan kaca mata hitamnya di atas narkas, di dekatinya tubuh Bima yang terlentang di atas Ranjang, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Kali ini kau akan menjadi milikku dan gadis sialan itu tidak akan bisa memiliki mu.


Perlahan-lahan gadis berkacamata hitam membuka kemeja atas Bima terlihat lah sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan jantung tubuh kotak kotak dengan bulu rambut yang tidak begitu lebat. Debar jantung yang semakin kuat tak menyurutkan niatnya untuk bisa mendapatkan laki-laki yang ada di depannya. Perlahan Bima mengeliat ketika merasakan sebuah sentuhan asing Bima membuka matanya dan tangannya memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.


"Apa yang kau lakukan kenapa kemejaku kau buka," desis Bima yang masih dengan kepala pusing.

__ADS_1


"Aku membantu agar kamu tidak kepanasan."


"Trimakasih, Ningsih."ucap Bima sambil menatap gadis yang ada di depannya, samar samar Antara sadar dan tidak Bima masih bisa melihat siapa gadis yang ada di depannya ternyata dia bukan Ningsih, dengan cepat Bima mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.


__ADS_2