
Di tengah derasnya hujan yang datang, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, petir dan guntur yang beesahut sahutan tak membuat laju kecepatan nya menurun, tidak berapa lama mobil itupun berhenti di depan sebuah Rumah megah dengan di penuhi beraneka ragam bunga di sekitarnya, sang pengemudi mobil pun menghentikan mobilnya dan memasukkan ke dalam garasi, setelah itu dia keluar dengan cepat menuju pintu rumah, tanpa memencet bel langsung saja pintu itu di buka dengan kunci cadangan yang dia punya. Setelah pintu terbuka bergegas dia berlari ke kamar atas di mana harus menaiki tangga beberapa baris yang mana karena keras dan cepat nya langkah kaki yang menaiki tangga sehingga meninggalkan suara bunyi yang cukup keras sehingga menarik perhatian siapapun yang kebetulan melintas dan melihat nya.
"Ada apa dengan Non Seila ya?"kenapa seperti orang marah," Gumam Bik Inah dalam hati.
Bik Inah pembantu dan pengasuh yang sudah sangat lama berada di rumah itu tentunya dia sangat paham jika saat ini majikan nya lagi tidak dalam kondisi suasana hati yang baik-baik saja, sehingga yang awal tadinya mau menyapa Bik Inah urungkan, Bik inah memilih menghindar dan melihat dari kejauhan tanpa berani bertanya mengapa dan kenapa Boss majikan perempuannya bertingkah seperti itu, meskipun rasa penasaran dan tanda tanya hadir dan berkecamuk di dalam hati Bik inah memilih diam dan tidak mengaggu. Pintu kamar di tutup dengan keras dan kasar, setelah itu beraneka bunyi benda berjatuhan terdengar bagaikan suara tembakan, Bik Inah yang dalam pose mode pemantauan jarak jauh dapat memprediksi keadaan di mana pasti nya di dalam kamar itu majikan nya lagi menghambur dan memberantakan semua yang ada di sana.
******
Bima yang gundah gulana karena telpon nya secara tiba-tiba di matikan bahkan langsung di nonaktifkan, membuat nya berinisiatif segera pulang kerumah, Bima sangat khawatir jika Seila marah dengan apa yang di mintanya. Setelah mengenakan mantel pelindung anti hujan Bima dengan cepat melaju kan motor nya dengan kecepatan tinggi agar bisa dengan cepat, sampai di rumah. Hati dan pikiran Bima mendadak struck dan takut ketika dengan tiba-tiba telpon nya langsung di nonaktifkan, Bima bisa merasakan Seila lagi dalam keadaan marah, tiga puluh menit kemudian Motorpun sudah berhenti di depan rumah, dengan cepat Bima membuka mantel pelindung nya dan masuk ke dalam rumah, sebelum itu bibirnya tersenyum menggembang ketiika netranya melihat mobil istri tercintanya sudah ada di bagasi rumah itu artinya istrinya sudah ada di rumah. Bima melangkah masuk kedalam Lantaran pintu tidak di kunci.
Melihat Bik inah sudah ada di ruang tamu dengan berdiri mematung Bima mengeryitkan dahi dan matanya seolah olah memberikan isyarat pertanyaan.
"Bik, Non Seila mana?"
"Itu, Den!Non Seila ada di dalam kamar atas,'
"Ya, sudah aku pergi ke dalam kamar atas dulu,"
"Jangan, Den!"
Bima kembali mengeryitkan dahinya.
"Kenapa, Bik?"
"Seperti nya Non Seila lagi marah,"
"Aku tau Bik, gak papa," ucap Bima seraya berlari pergi menaiki anak tangga.
__ADS_1
Dengan hati-hati dan pelan pelan Bima membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, alangkah terkejutnya Bima ketiika mendapati semua barang dan benda benda jatuh berhamburan di lantai kamar bagaikan kapal pecah dan Seila dalam keadaan menanggis tersedu dan sesenggukan di pojok ruangan, hati Bima bagaikan di sayat sayat melihat gadis yang dicintainya sedang bermuram durga, dengan hati-hati Bima mendekati istrinya, di sentuh nya lengan Seila.
"Sayang, kamu kenapa?"tanya Bima lembut.
Mendengar ada seseorang yang mengajaknya Bicara Seila yang masih berurai air mata segera menoleh, mengetahui siapa yang datang dengan cepat Seila kibaskan tangan Bima yang menyentuh lengannya.
"Jangan, sentuh aku, pergi kau....!"
"Seila, kamu kenapa sayang?"
"Aku bilang, pergiiiiiii...!"aku benci kamu," ucap Seila dengan berurai air mata dan mendorong tubuh Bima ke arah pintu agar cepat keluar dari kamar, Bima yang tidak mengerti kenapa Seila begitu emosional dan sangat marah membuat nya tak mampu berkata apa-apa selain menelan ludahnya dengan kasar, hatinya tiba tiba serasa sesak dan sakit, ketika Seila bilang membencinya.
"Apa, salah ku, kenapa kau bicara begitu, membenciku," ucap Bima lirih seakan memohon penjelasan hatinya betul betul bagaikan di iris iris, tak sanggup mendengar kata benci dari seorang gadis yang sangat dicintainya.
"Pergi...!" aku mau kau pergi tinggalkan aku sendiri, aku benci, kamu....!aku benci kamu kak Bima...!" aku benciiiii......!" ucap Seila yang masih terus mendorong sambil menangis.
Bima yang tak tahan melihat Iskan tangis dari gadis yang sangat di cintainya dengan segera mendekap dan memeluk istrinya agar bisa sedikit tenang. Seila terus menangis bahkan memukul mukul badan Bima dengan membabi buta bahkan terkadang mengigit tangan Bima karena masih saja memeluknya, Bima yang ikut merasakan sedih tidak perduli jika dirinya di jadikan pelampiasan kemarahan dari istrinya rasa sakit dan perih karena pukulan dan gigitan Seila tak lagi dia rasakan, Bima Hanya mau dan berharap istrinya berhenti menangis dan tenang, Bima sangat yakin pasti di luar sana ada sesuatu yang sangat menyakiti nya.
Dengan pelan dan berhati hati sekali Bima meraih wajah Seila agar mau menatapnya dan ketika Bima bisa melihat dengan jelas wajah Seila, Bima begitu terkejut ketika mendapati pipi kiri istrinya memar.
"Sayang! si...siapa yang telah melakukan ini padamu, kenapa ini memar begini,"tanya Bima gugup dan khawatir.
Karena Bima bermaksud kembali menyentuh pipinya yang sakit Seila segera mendorong dengan kuat tubuh Bima hingga jatuh terduduk di lantai.
"Kau, masih, berani bertanya sispa? siapa lagi kalau bukan pacar kamu itu,"jawab Seila keras dan dengan suara yang tinggi.
"Pacar?pacar apa ?" aku tidak mengerti maksud mu,"
__ADS_1
"Jangan berpura pura bodoh, kamu!" bukankah kau juga memberikan uang cek kepadanya," ucap Seila emosi yang masih dengan terus menangis Seila kembali berucap.
"Aku mau, kita bercerai, secepatnya,"
Perkataan Seila yang tidak pernah Bima bayangkan sama sekali, hatinya tiba-tiba bergetar dan serasa seluruh persendian tulang nya remuk, Bima betul betul shock mendengar perkataan Seila yang Ingin bercerai darinya dengan cepat Bima bangkit dari jatuhnya dan mencengkram dengan kuat bahu dan wajah Seila.
"Kau, bilang apa? bercerai apa kau sudah hilang akal,"
"Lepaskan, aku tidak hilang akal, aku mau kita bercerai, biar kamu puas dengan pacarmu dari pada kau selingkuh di belakang ku,"
"Seila?" jaga bicaramu!"aku tidak punya pacar aku hanya punya kamu tidak ada yang lain," ucap Bima yang juga mulai tersulut emosi.
"Oh,ya!"semua laki-laki itu sama, di depan manis sok cinta tapi di belakang dia tidak lebih dari seorang yang suka mempermainkan,"
"Cukup...Seilaaaaa...!"
"Plaaaakk," sebuah tamparan keras mendarat di wajah Seila.
Bima terkejut dan tertegun dengan apa yang telah dia lakukan tubuh nya bergetar hebat hatinya perih dengan cepat Bima menyentuh tangan Seila.
"Sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud menampar mu, kamu boleh marah, ayo sayang balas pukul aku, aku sudah menyakiti mu," ucap Bima memelas dengan tatapan sendu penuh penyesalan sedangkan Seila berhenti dari isak
menangis dan menepis dengan pelan tangan Bima tanpa bicara, tanpa amarah lagi Seila pergi ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Bima semakin di buat kelimpungan dengan sikap Seila.
"Seila...! sayang, buka pintunya, jangan begini aku tidak tahan, ayolah, lebih baik marahi aku, pukul aku tapi jangan seperti ini," ucap Bima yang tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, karena pintu kamar mandi tidak juga di buka
Bima melampiaskan kemarahannya dengan menendang semua yang ada di dekatnya, tidak puas dengan itu Bima menatap tangan yang di gunakan untuk menampar Seila dengan sangat geram, Bima meninjukan tangan itu ke dinding hingga menggeluarkan darah.
__ADS_1
"Semua gara-gara kau Arina!" jika terjadi apa apa dalam rumah tangga ku, aku tidak akan memaafkan dan melepaskan mu, akan ku buat kau membayar semua ini,"Teriak Bima keras.
"Araaaaaagghhh, dusss....dusss,"Suara tinju tangan Bima yang berkali kali dia tinjukan ke dinding, rasa sakit dan perih tak lagi di rasakan.