Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.209.BINGUNG


__ADS_3

Sebagai seorang teman yang sudah seperti saudara sendiri Santi ikut prihatin dengan keadaan biduk Rumah tangga sahabatnya, satu biduk Rumah tangga yang di jalani atas dasar terpaksa dan tanpa cinta.


Demi menuruti apa yang menjadi pesan terakhir sang Bunda tercinta Seorang Pemuda Tampan terpaksa meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan seorang gadis pilihan dari orang tuanya, awalnya sangat indah dan terlihat biasa saja akan tetapi lambat laun semua berubah ketika tanpa sengaja sang istri menemukan sebuah buku harian dan juga satu foto manis yang masih tetap terpajang di dompet nya, serta satu kenangan berupa syal yang entah mengapa suaminya simpan, hal itulah yang membuat Ratna menjadi marah dan kesal yang akhirnya memutuskan untuk minta berpisah.


Bibir dan hati tidak sinkron mungkin itulah yang sedang dirasakan Ratna, di satu sisi sangat kesal dan ingin berpisah tapi di sisi lain masih sangat mencintai hingga membuat dirinya sering melamun dan menyendiri.


Santi lagi-lagi menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Sudah deh Rat, kamu harus bisa turunin Egomu lagipula kalian kan juga sudah punya anak, mengalah dan bersabarlah demi anakmu, toh hubungan mereka berdua juga tidak akan bisa bersatu, bukankah kamu bilang kekasihnya suamimu juga sudah memiliki suami yang juga menyayangi istrinya jadi apalagi yang harus kamu risaukan."tanya Santi bingung, dia benar-benar dibuat tidak mengerti dengan sikap sahabat nya yang sangat membingungkan di satu sisi masih cinta disisi lain merasa kecewa dan terhina karena tidak di cintai sang Suami.


Terlihat Ratna menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan serta beberapa kali mengusap wajahnya kemudian memejamkan kedua bola matanya sesaat.


"Aku ingin dicintai dan Aku ingin orang yang mendampingi Aku itu bisa mencintaiku, bukan hanya diam dan pura-pura cinta itu sangat menyakitkan."ucap Ratna dengan suara berat.


Ratna yang ikut pusing merasakan kerongkongan nya kering sehingga dia berjalan menuju meja dan menuang segelas jus jeruk kemudian meneguknya beberapa kali.


"Apa kau mau, mungkin dengan minum dulu pemikiran kamu bisa segar dan fress."


"Ah tidak kamu saja yang minum."tolak Ratna hatinya masih galau dan tidak tenang.Ratna Kembali menatap jalanan yang ada di bawah tempatnya berdiri.

__ADS_1


Tak menunggu berapa lama terdengar sebuah suara menaiki anak tangga.


"Non,Tuan sudah pulang."ucap wanita paru baya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga nya.


"Tanya mau makan apa, Bibik yang siapin ya?"


"Baik Non," jawab wanita paruh baya yang kemudian pergi menuruni anak tangga.


"Suami kamu pulang, apa kamu tidak mau menemuinya ini kesempatan kamu bisa bicara dari hati ke hati dengan nya, cepat pergilah bukankah kamu mencintai suamimu."tanya Santi penuh selidik.


Sementara Ratna diam terpaku seolah olah sedang berpikir mementingkan ego atau kah menuruti saran dari teman terdekat nya.


"Cepatlah, jangan banyak berpikir Hendrato itu laki-laki yang cukup baik dan bertanggungjawab meskipun tidak mencintai dirimu akan tetapi selalu siap dan bisa memberikan nafkah padamu baik itu nafkah lahir maupun batin." crocos Santi panjang lebar.


"Iya kau benar Aku tidak pernah kekurangan nafkah lahir maupun batin kapan pun dia siap untuk Aku minta bertempur tapi masalah nya dia bertempur dengan membayangkan wajah wanita lain apa itu tidak menyakitkan?"


"Terserah kamu sajalah Rat, pusing Aku kalau mau pisah ya sudah pisah tapi jangan perlihatkan drama seperti orang yang sedang berduka cita, bosen Aku melihat nya." Tukas Santi pada akhirnya.


Sementara Ratna mendelik Mendengar semua celoteh sahabatnya yang Panjang bagaikan kereta api yang sedang berjalan.

__ADS_1


"Enak saja menggambarkan Aku seperti orang yang sedang berduka, apa tidak ada gambaran yang lebih manusiawi?"


"Cihh, kamu itu bikin kesel dan gemes orang dah Rat, sudah Aku tidak mau tau apapun keputusan mu terserah Aku cuma berharap agar kamu bisa hadir di pesta Rike Nanti malam awas kalau ada Acara sedih sedih nya.'ucap Santi memutuskan.


Bibir Ratna tersenyum ketika melihat sahabatnya marah-marah tidak jelas, yang sedih dia yang bingung dia dan yang kecewa dia tapi yang pusing kepala memikirkan sahabat nya ini kan lucu jadinya tapi itulah sahabat yang sejati jika sahabat sedih maka kesedihan itu juga terasa milik kita pribadi.


"Kenapa tertawa, ngak lucu tauk." sungut Santi kesal dan berpura-pura marah.


"Baiklah saran mu akan. Aku pertimbangkan, apa yang kamu katakan benar dan memang seharusnya Aku berpikir seperti mu tapi terkadang Aku malu."


Santi mengeryitkan dahinya ketika mendengar sahabat nya bilang malu.


"Malu? kok bisa malu bagaimana ceritanya bukankah Hendrato itu suami mu jadi buat apa malu, kamu benar-benar lucu dan ngeselin, bilang saja gengsi itu gengsi bukan malu.'


"Aduh San, galak dan sadiis amat ucapanmu, tega Nian kau katakan Aku Begitu."


"Baiklah, Aku tidak akan meledek mu lagi, cepat temui dan bersikap manis lah pada Suamimu, bukankah ada pepatah yang bilang sekeras kerasnya batu jika tiap hari terkena tetesan air lama-kelamaan akan hancur juga."


"Tapi suamiku bukan batu jadi tidak hancur sampai sekarang."ucap Ratna.

__ADS_1


"Sudah cepat kamu temani suamimu, Aku langsung pulang saja."


Tanpa menunggu jawaban dari Ratna sahabatnya segera pergi meninggalkan tempat itu, sementara Ratna akhinya pergi untuk menemui suaminya.


__ADS_2