
Tidak pernah terpikirkan Ningsih yang baru saja dia ketahui adalah istrinya secepat ini akan menikah dengan laki-laki lain, rasa gundah dan gusar meliputi hati dan perasaan Bima dia tidak tau harus bersikap bagaimana, melihat raut wajah gadis di depannya, yang sangat ceria dan terlihat bahagia sungguh tak tega jika dia harus merusaknya. Cinta yang begitu dalam tidak mungkin sangup bila melihat orang yang kita cintai berduka. Rasa sesak yang tiba-tiba hadir membuat hati Bima seakan akan terhimpit batu besar membuat nya sulit bernafas bahkan untuk sekedar memberikan senyum pun terasa susah. Berkali-kali Bima menelan ludahnya dengan kasar Bima merasa tengorokkan nya sangat kering.
"Pak! kenapa bapak diam saja?" apa bapak tidak mau memberikan ucapan selamat kepada ku?"tanya Ningsih membuat Bima tersadar dari lamunannya dengan susah payah Bima tersenyum.
"Selamat, ya!"ucap Bima lirih.
"Bapak, kenapa, sih? lagi ada masalah dengan Bu Boss ya! murung amat, makanya pak punya istri itu di sayangi di jaga, biar istri bapak ngak marah marah." crocos Ningsih yang membuat Bima mendelik.
"Sok, tau! kamu sudah makan pagi belum?"
"Belum, tadi mas Hendrrto mau ngajak makan di warung pinggir jalan tapi aku males masih pagi dan Belum lapar jadi ku tolak."
"Apa kamu bisa bikin mie?"
"Tentu saja bisa, itu sangat mudah."
"Baiklah, buatkan aku, sekalian kamu juga nanti kita makan bareng."
"Siap! pak! tunggu sebentar."
Setelah kepergian Ningsih Bima mengacak-acak rambutnya sambil memejamkan mata, hatinya betul betul di landa resah hatinya sungguh sakit dan tak akan bisa menerima jika istrinya akan menjadi milik orang lain, tapi bagaimana caranya memberi tau Ningsih jika dia adalah suaminya, dan bagaimana caranya pernikahan Ningsih dan Hendrato bisa di batalkan sedangkan Bima dengan sangat jelas bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata Ningsih, apa jadinya jika Ningsih tau kalau dia adalah suaminya apakah Ningsih akan menerima nya. Bima yang yang kesal dan di landa dengan kegundahan mengepalkan tangannya dan berkali-kali meniju udara.
Ningsih yang baru masuk melotot tak percaya melihat keanehan dari sikap bosnya
"Bapak, suka sekali meninju udara, itu sia-sia pak! nih..! ke sini nih kalau meninju pasti tidak akan sia-sia dan langsung dapat terlihat hasilnya."ceramah Ningsih terkekeh sambil menunjukkan cara meninju yang benar ke arah dinding membuat Bima mengkerutkan dahinya.
"Reseh, amat ngurusin kegiatanku, mana mie nya aku lapar!"
Ningsih segera menunjuk satu mangkuk mie yang sudah tersaji di atas meja.
"Mie, kamu mana?"
"Di belakang, aku permisi mau makan dulu juga pak?"
"Tunggu, bawa dan makan di sini kita makan bersama."
"Tapi pak!
"Apa, kau tidak mau?"
"Mau, sekali!
"Kalau begitu cepat lah,"
Bergegas Ningsih keluar dan tak lama sudah datang dengan membawa satu mangkuk mie, Ningsih duduk di depan Bima. Sejenak suasana makan hening tapi tiba-tiba Bima mengambil yang ada di mangkuk Ningsih dan langsung melahapnya.
__ADS_1
"Pak, kok punyaku di makan sih?" protes Ningsih kesal karena mie jatah makanan nya jadi berkurang.
"Nyicip, sedikit, Nih! kamu makan juga yang punyaku rasanya aneh."
"Aneh! gimana?"
"Coba, saja, rasakan sendiri."
Tanpa pikir lagi Ningsih langsung mengambil Mie milik Bima dan melahapnya.
"Biasa, saja, rasanya sama kok yang beda apanya?"
"Yang beda itu makanan bekas kamu enak dan ini bekas ku juga enak di lidahmu kan?"goda Bima sambil tersenyum yang sukses membuat wajah Ningsih menjadi merah merona entah mengapa perkataan Bima membuat hatinya serasa melayang saking senangnya, akan tetapi rasa senang itu dia simpan dalam dalam cukup dirinya dan hatinya yang tau kalau sebenarnya Dia sangat suka jika dapat pujian dan perhatian dari si Boss galak.
"Dasar, play boy, orang sudah mau menikah juga di gombalin."grutunya lirih tapi telinga tajam Bima masih bisa dengan jelas mendengar nya.
"Apa, kamu bilang?" play boy!
"Ngak..!"siapa juga yang ngatain play boy, itu bapak salah dengar kali."
Bima tertawa kecil mendengar jawaban NIngsih, wajah ceria dan bahagia sungguh sangat jelas terlihat di sana, haruskah ke egoisan nya merusak semua kebahagiaan gadis yang ada di depannya, tidak Bima tidak bisa melakukan itu, kebahagiaan Istrinya adalah kebahagiaan nya, apapun akan dilakukan demi Seila bahagia.
" Kau mau hadiah apa?"
Tanpa menjawab Bima hanya menganggukkan kepalanya.
"Sungguh?"
"Iya, apa yang kamu mau?"
"Berduaan denganmu menghabiskan waktu dan hari dipantai, pasti menyenangkan, tapi tidak itu tidak boleh karena kamu milik orang lain, kau sudah membuat hatiku tertawan di situ tapi aku harus mengubur nya dalam dalam demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tanggamu, jangan goda aku sungguh aku tidak akan sanggup menahannya hati dan jiwaku sudah sangat melayang jika berada dekat dengan mu.
"Woi...!" di tanya bukannya menjawab malah bengong?" suka sekali sih calon pengantin itu bengong, lagi mikirin apa?"
Pertanyaan Bima membuat Ningsih tersadar dari lamunannya dengan senyum cengar-cengir Ningsih menjawab.
"Terserah, bapak!
"Kok, terserah aku!
"Ya, kalau aku minta kapal apa bapak akan ngasih? tentu tidak kan, jadi terserah bapak mau ngasih apa."
"Emang, kamu mau minta kapal? buat apa coba ngak penting itu."
"Buat jalan jalan untuk berbulan madu lah pak?"
__ADS_1
Bima yang ketika itu sedang minum tiba-tiba jadi tersedak mendengar perkataan Ningsih.
"Busyet..! bulan madu saja pakai mau beli kapal pribadi."
"Kan, biar romantis pak!
Bima tersenyum kecut mendengar jawaban NIngsih, kini tak di ragukan lagi Ningsih sangat
mencintai Hendrato dan sudah bisa di pastikan Dia akan kehilangan Ningsih untuk selamanya tak ada lagi harapan untuk nya bisa memiliki Seila lagi satu satunya harapan yang masih tersisa di dalam hatinya smoga Ningsih cepat sembuh dari hilang ingatan nya agar Ningsih bisa menggenali nya bukan sebagai boss tapi sebagai Suaminya.
"Selesaikan, makanmu, habis itu kita keluar?"
Ajakan Bima yang mengajaknya keluar seakan membuat hati Ningsih melayang layang
Ningsih dengan bersemangat menghabiskan makanan nya ada suatu rasa yang indah jika bisa berjalan berdua dengan boss galaknya, rasa yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Senja mulai tiba ketika sebuah panggilan telpon berdering.
"Halo..!
"Boss, aku sudah mendapatkan informasi dari kecelakaan itu?"
"Cepat katakan?"
"Wanita itu masih Hidup boss!"
"Apa? dia masih hidup, kau yakin dengan informasi ini,"
"Yakin, boss..! bahkan wanita itu juga berada di kota ini."
"Apa? dia ada di kota ini, cepat katakan di mana wanita itu?"
"Sabar, boss!" ini informasi butuh tambahan dana jadi boss transfer dulu uangnya nanti aku akan kirim foto dari wanita itu?"
"Sialan, bukanya aku baru memberikan tambahan uang?"
"Boss, jangan mempermainkan kami, apapun yang kami informasikan itu bernilai mahal, jika tidak sanggup jangan cari kami,harus boss ketahui kami ini bukan genk kelas teri, kami ini genk mafia yang ada di kota ini, jadi jangan main main dengan kami."
"Ya-ya! aku tau, berapa yang kamu mau?"
"20 juta!"
"Busyet..!" mahal amat hanya untuk satu informasi, tapi baiklah cepat kirim foto wanita itu, aku akan kirimkan uang tambahan nya sekarang juga."
"Nah! itu baru boss namanya." ucap laki-laki itu dari sebrang.
__ADS_1