
Suasana Rumah yang sangat di rindukan
dalam beberapa hari, kini kembali bisa di
nikmati, tenang dan damai.
Awalnya Bima berfikir dengan terbuka nya
Pintu hati Seila akan mudah baginya untuk
mendapatkan jatah nafkah biologis nya
tapi ternyata sama saja susah.
"Dengan alasan capeklah, masih belum siaplah
dan masih ingin berlama lama dengan Vira lah
macam macam saja alasannya, entah
sampai kapan harus bersabar menghadapi
anak kepala desa yang sangat otoriter.
Suka memerintah tapi tidak mau di perintah.
Grutu Bima dalam hati.
"Kok, masih begong..!" sudah siang, entar
terlambat cepat berangkat gih,"Seru Seila
dari balik pintu.
"Ya, Sebentar ..!Jawab Bima malas.
Seila berjalan mendekati Bima.
"Kenapa terlihat seperti ngak bersemangat sih?"Tanya Seila.
"Mau, dapat semangat dari mana, tiap malam
gagal perang melulu,"
Seila mengeryitkan dahinya, seperti nya dia
masih tidak paham apa maksud dari suami
nya.
"Perang apaan ?"
"Astaga..!"masak ngak paham sih, jatahku
kapan di kasih Non ?"
"Oh..!"itu..?" Ucap Seila sambil tersenyum.
"Hemm, entar malam ya ?"Ucap Bima.
"Ngak, janji," Jawab Seila enteng.
"Ya, sudah, ngak di kasih, aku ngak pulang,"
Ancam Bima pura pura, karna ngak mungkin
bisa, satu hari tidak melihat istrinya saja
hati sudah gunda gulana kebinggungan.
"Ngak peduli, wek...!" Ucap Seila sambil
menjulurkan lidahnya, kemudian berlalu
pergi.
Bima yang tidak terima di ledek istrinya
dengan cepat mengejar masuk kedalam
Seila yang merasa di kejar segera berlari
Tapi Bima lebih lincah dan gerakan nya
lebih cepat sehingga dengan mudah
Seila dapat di tangkap.Tanpa ampun lagi
Bima langsung mendekap erat istrinya.
Bibir Bima sudah siap untuk menghukum
bibir Istrinya yang sudah bikin gemes dan
kesal.
"Bima..! lepaskan, jangan...!"
Bima tidak perduli bibirnya mulai bergerak
lebih dekat ke bibir Seila.
Merasa tidak aman Seila segera menutup
mulut Bima dengan tangan nya.
"Jangan disini, malu...Nanti di lihat Bik Inah,"
Seila berharap dengan ucapannya Bima
akan melepaskan pelukannya.
"Kamu benar,"Ucap Bima
__ADS_1
kini Bima tidak lagi mendekatkan
bibirnya tapi Bima langsung mengendong
Tubuh Seila berlari ke dalam kamar.
Seila tersentak kaget ketika tubuhnya
serasa seperti kayu yang dengan ringannya
di bawa untuk berlari menuju ke kamar atas
sedikit takut juga, was was jika tiba tiba
terjatuh dengan refleks Seila melingkar kan
tangannya ke leher Bima dengan erat agar
tidak jatuh.
Bima membuka pintu dengan siku tangan
kemudian mendorong nya dengan kaki.
Setelah, pintu kamar terbuka dengan cepat
Bima melempar kan tubuh Seila ke atas
ranjang dengan keras, seperti dia melempar
kayu hingga menimbulkan bunyi.
"Bruugh !"
"auuuuuhh, sakit tauk,"Keluh Seila pada Bima.
"sakit, apaan, ranjangnya empuk kok, terbuat
dari kapuk asli," Ucap Bima sambil terkekeh.
Ketika mata Seila melihat Bima membuka
kemeja baju nya, hati Seila mulai berdegup
dengan kencang.
"Bima ..!"kamu mau ngapain..? Tanya Seila
gugup.
"Mau, minta jatahku, boleh kan ?"Jawab
Bima enteng.
"Eh, jangan, kamu harus kerja, ini sudah
siang kamu bisa telat,"Ucap Seila menggingatkan berharap Bima pergi kerja.
"Hari ini bolos, mau berdua saja
"Duh Bima sudah ngak sehat ini, aku harus
buru buru keluar dari kamar ini sebelum
terkunci,"Gumam Seila dalam hati.
Cepat cepat Seila bangkit dari ranjang tempat
dia di lempar, Namun belum juga sempat
bisa berdiri Tiba tiba tubuh kekar Bima
sudah mendorong nya lagi sehingga Seila
jatuh terlentang di ranjang, tanpa menunggu
lagi Bima segera menimpa dan mengunci
kedua tangan Seila, sehingga Seila tidak
bisa bergerak lagi.
"Kali, ini, kau ngak akan aku lepaskan,
layani aku sekarang..?" Ucap Bima tegas.
Seila yang sudah tidak bisa berbuat apa apa
selain menuruti kemauan suaminya hanya
Bisa diam dan pasrah.
Melihat mimik tegang sang istri Bima
tersenyum senang dalam hati, meskipun
sejujurnya Bima tidak akan pernah tega
tapi karena kesabaran dan sikap nya
yang selalu di manfaatkan, membuat nya
ingin sekali kali memberikan pelajaran
pada istri bandel nya agar dia tau Bima
bisa berbuat nekad kapan saja.
Namanya juga sudah halal jadi bisa
sesukanya. Ketika Bima hendak memberikan
ciuman pada istri bandel nya, tiba tiba
__ADS_1
hape Bima yang ada di saku celana belakang
bergetar.
"Ih, siapa sih ngak sopan pagi pagi dah
telpon begini, ngaggu orang saja," Keluh
Bima dalam hati.
Di tatapnya sang istri yang lagi memejamkan
mata, dengan pipi putih nya semakin putih
pucat mungkin lagi tegang dan takut,
Bima tersenyum simpul melihat wajah istri
di depan nya yang menurut nya semakin
mengemaskan.
"Ternyata asik juga ngerjain istri." Bisiknya
dalam hati.
Dengan perlahan lahan Bima mendekat kan
Bibirnya pada bibir tipis milik Seila.
Dengan lembut di kecup nya bibir itu
Kemudian Bima melepaskan tangannya
yang mengunci tangan Seila.
"Sudah buka matanya..!" jangan terpejam
begitu, ngak jadi..!ngak jadi, minta..!Seru
Bima.
Mendengar ucapan Bima dengan cepat
Seila membuka kedua bola matanya.
Dilihatnya Bima sudah bangkit berdiri dan
mengenakan kemejanya, Seila pun bangkit
dan duduk di tepi ranjang.
Di lihatnya Bima menggenakan kemeja
tanpa memandang nya, setelah selesai pun
ternyata Bima tetap membelakangi tanpa
menatap nya.
"Malam ini, aku ngak pulang, kalaupun
pulang pasti pulangku larut malam jadi
kamu tidak usah takut dan khawatir lagi
aku mintai jatah, kamu boleh tidur dengan
tenang," Ucap Bima tanpa menatap wajah
istrinya, Bima ingin memberikan kesan
bahwa dia sedang marah.
Tanpa menoleh juga Bima bergegas turun
dari kamar nya dan dengan terburu buru
membuka pintu, setelah berada di luar
dengan cepat Bima meraih ponselnya.
"Halo, ada apa telpon?"
"Di kantor sudah ada tamu yang menunggu,
Kak Bima cepat ke kantor ?"
"Ya, baiklah, suruh tunggu aku di sana?"
Bergegas Bima menaiki motornya, Sebelum
meninggalkan rumah Bima tersenyum dan bergumam dalam hati.
"Aku berangkat kerja sayang ,"
Kemudian Bima menghidupkan motornya
tidak berapa lama motor Bimapun hilang
dari pandangan.
Sementara Seila tertegun di tepi ranjang.
"Bima marah padaku," Keluh nya menyesal
Tapi apa iya tega, Nanti ngak pulang.
Seila menarik nafas panjang dan dia
nenghembusan nya dengan kasar.
"Pasti pulang lah, ngak mungkin ngak pulang,"
__ADS_1
Hibur Seila dalam hati.