Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.69.NGERJAIN ISTRI


__ADS_3

Suasana Rumah yang sangat di rindukan


dalam beberapa hari, kini kembali bisa di


nikmati, tenang dan damai.


Awalnya Bima berfikir dengan terbuka nya


Pintu hati Seila akan mudah baginya untuk


mendapatkan jatah nafkah biologis nya


tapi ternyata sama saja susah.


"Dengan alasan capeklah, masih belum siaplah


dan masih ingin berlama lama dengan Vira lah


macam macam saja alasannya, entah


sampai kapan harus bersabar menghadapi


anak kepala desa yang sangat otoriter.


Suka memerintah tapi tidak mau di perintah.


Grutu Bima dalam hati.


"Kok, masih begong..!" sudah siang, entar


terlambat cepat berangkat gih,"Seru Seila


dari balik pintu.


"Ya, Sebentar ..!Jawab Bima malas.


Seila berjalan mendekati Bima.


"Kenapa terlihat seperti ngak bersemangat sih?"Tanya Seila.


"Mau, dapat semangat dari mana, tiap malam


gagal perang melulu,"


Seila mengeryitkan dahinya, seperti nya dia


masih tidak paham apa maksud dari suami


nya.


"Perang apaan ?"


"Astaga..!"masak ngak paham sih, jatahku


kapan di kasih Non ?"


"Oh..!"itu..?" Ucap Seila sambil tersenyum.


"Hemm, entar malam ya ?"Ucap Bima.


"Ngak, janji," Jawab Seila enteng.


"Ya, sudah, ngak di kasih, aku ngak pulang,"


Ancam Bima pura pura, karna ngak mungkin


bisa, satu hari tidak melihat istrinya saja


hati sudah gunda gulana kebinggungan.


"Ngak peduli, wek...!" Ucap Seila sambil


menjulurkan lidahnya, kemudian berlalu


pergi.


Bima yang tidak terima di ledek istrinya


dengan cepat mengejar masuk kedalam


Seila yang merasa di kejar segera berlari


Tapi Bima lebih lincah dan gerakan nya


lebih cepat sehingga dengan mudah


Seila dapat di tangkap.Tanpa ampun lagi


Bima langsung mendekap erat istrinya.


Bibir Bima sudah siap untuk menghukum


bibir Istrinya yang sudah bikin gemes dan


kesal.


"Bima..! lepaskan, jangan...!"


Bima tidak perduli bibirnya mulai bergerak


lebih dekat ke bibir Seila.


Merasa tidak aman Seila segera menutup


mulut Bima dengan tangan nya.


"Jangan disini, malu...Nanti di lihat Bik Inah,"


Seila berharap dengan ucapannya Bima


akan melepaskan pelukannya.


"Kamu benar,"Ucap Bima

__ADS_1


kini Bima tidak lagi mendekatkan


bibirnya tapi Bima langsung mengendong


Tubuh Seila berlari ke dalam kamar.


Seila tersentak kaget ketika tubuhnya


serasa seperti kayu yang dengan ringannya


di bawa untuk berlari menuju ke kamar atas


sedikit takut juga, was was jika tiba tiba


terjatuh dengan refleks Seila melingkar kan


tangannya ke leher Bima dengan erat agar


tidak jatuh.


Bima membuka pintu dengan siku tangan


kemudian mendorong nya dengan kaki.


Setelah, pintu kamar terbuka dengan cepat


Bima melempar kan tubuh Seila ke atas


ranjang dengan keras, seperti dia melempar


kayu hingga menimbulkan bunyi.


"Bruugh !"


"auuuuuhh, sakit tauk,"Keluh Seila pada Bima.


"sakit, apaan, ranjangnya empuk kok, terbuat


dari kapuk asli," Ucap Bima sambil terkekeh.


Ketika mata Seila melihat Bima membuka


kemeja baju nya, hati Seila mulai berdegup


dengan kencang.


"Bima ..!"kamu mau ngapain..? Tanya Seila


gugup.


"Mau, minta jatahku, boleh kan ?"Jawab


Bima enteng.


"Eh, jangan, kamu harus kerja, ini sudah


siang kamu bisa telat,"Ucap Seila menggingatkan berharap Bima pergi kerja.


"Hari ini bolos, mau berdua saja


"Duh Bima sudah ngak sehat ini, aku harus


buru buru keluar dari kamar ini sebelum


terkunci,"Gumam Seila dalam hati.


Cepat cepat Seila bangkit dari ranjang tempat


dia di lempar, Namun belum juga sempat


bisa berdiri Tiba tiba tubuh kekar Bima


sudah mendorong nya lagi sehingga Seila


jatuh terlentang di ranjang, tanpa menunggu


lagi Bima segera menimpa dan mengunci


kedua tangan Seila, sehingga Seila tidak


bisa bergerak lagi.


"Kali, ini, kau ngak akan aku lepaskan,


layani aku sekarang..?" Ucap Bima tegas.


Seila yang sudah tidak bisa berbuat apa apa


selain menuruti kemauan suaminya hanya


Bisa diam dan pasrah.


Melihat mimik tegang sang istri Bima


tersenyum senang dalam hati, meskipun


sejujurnya Bima tidak akan pernah tega


tapi karena kesabaran dan sikap nya


yang selalu di manfaatkan, membuat nya


ingin sekali kali memberikan pelajaran


pada istri bandel nya agar dia tau Bima


bisa berbuat nekad kapan saja.


Namanya juga sudah halal jadi bisa


sesukanya. Ketika Bima hendak memberikan


ciuman pada istri bandel nya, tiba tiba

__ADS_1


hape Bima yang ada di saku celana belakang


bergetar.


"Ih, siapa sih ngak sopan pagi pagi dah


telpon begini, ngaggu orang saja," Keluh


Bima dalam hati.


Di tatapnya sang istri yang lagi memejamkan


mata, dengan pipi putih nya semakin putih


pucat mungkin lagi tegang dan takut,


Bima tersenyum simpul melihat wajah istri


di depan nya yang menurut nya semakin


mengemaskan.


"Ternyata asik juga ngerjain istri." Bisiknya


dalam hati.


Dengan perlahan lahan Bima mendekat kan


Bibirnya pada bibir tipis milik Seila.


Dengan lembut di kecup nya bibir itu


Kemudian Bima melepaskan tangannya


yang mengunci tangan Seila.


"Sudah buka matanya..!" jangan terpejam


begitu, ngak jadi..!ngak jadi, minta..!Seru


Bima.


Mendengar ucapan Bima dengan cepat


Seila membuka kedua bola matanya.


Dilihatnya Bima sudah bangkit berdiri dan


mengenakan kemejanya, Seila pun bangkit


dan duduk di tepi ranjang.


Di lihatnya Bima menggenakan kemeja


tanpa memandang nya, setelah selesai pun


ternyata Bima tetap membelakangi tanpa


menatap nya.


"Malam ini, aku ngak pulang, kalaupun


pulang pasti pulangku larut malam jadi


kamu tidak usah takut dan khawatir lagi


aku mintai jatah, kamu boleh tidur dengan


tenang," Ucap Bima tanpa menatap wajah


istrinya, Bima ingin memberikan kesan


bahwa dia sedang marah.


Tanpa menoleh juga Bima bergegas turun


dari kamar nya dan dengan terburu buru


membuka pintu, setelah berada di luar


dengan cepat Bima meraih ponselnya.


"Halo, ada apa telpon?"


"Di kantor sudah ada tamu yang menunggu,


Kak Bima cepat ke kantor ?"


"Ya, baiklah, suruh tunggu aku di sana?"


Bergegas Bima menaiki motornya, Sebelum


meninggalkan rumah Bima tersenyum dan bergumam dalam hati.


"Aku berangkat kerja sayang ,"


Kemudian Bima menghidupkan motornya


tidak berapa lama motor Bimapun hilang


dari pandangan.


Sementara Seila tertegun di tepi ranjang.


"Bima marah padaku," Keluh nya menyesal


Tapi apa iya tega, Nanti ngak pulang.


Seila menarik nafas panjang dan dia


nenghembusan nya dengan kasar.


"Pasti pulang lah, ngak mungkin ngak pulang,"

__ADS_1


Hibur Seila dalam hati.


__ADS_2