Kabut Cinta

Kabut Cinta
28. Maafkanlah


__ADS_3

Tak lebih dari satu menit Laras terlihat mendengarkan Temmi dari seberang sana melalui sambungan telfon, namun tampak Laras terhuyung dan kemudian jatuh ke lantai,


Arin yang menyusulnya dan melihat bagaimana Laras terhuyung dan jatuh pun segera membantu Laras,


"Kamu tidak apa-apa Ras?"


Tanya Arin khawatir,


Laras menatap Arin sejenak, sebelum kemudian akhirnya tangisnya pecah,


Arin yang belum tahu apa sebetulnya yang terjadi hanya bisa memeluk Laras dan berusaha sebisanya menenangkan Laras,


"Tenangkan dirimu Ras, ada apa? Katakan padaku, ada apa,"


Arin terlihat bingung, apalagi Angga juga kini jadi ikut menangis karena melihat Mamanya menangis,


"Antarkan aku ke rumah sakit Rin, antarkan aku..."


Lirih Laras di sela tangisnya yang begitu pilu,


Arin pun mengangguk,


"Ya, ayo, aku antar, aku antar Ras,"


Kata Arin meski ia tidak tahu sebetulnya ada apa Laras tiba-tiba ingin ke rumah sakit,


Laras pun dengan tubuh yang kini benar-benar lemas, yang hanya mengandalkan sisa energi yang tak seberapa di dalam tubuhnya, Laras tampak susah payah berdiri dan menggendong Angga yang masih menangis,

__ADS_1


Arin turun cepat menuju lantai satu sambil memanggil Kiki, karyawannya,


Untunglah, Kiki, karyawannya yang ia panggil baru saja selesai berganti pakaian dari kamar ganti karyawan,


"Ya Bu Arin, ada apa?"


Tanya Kiki menghampiri atasannya,


"Ki, antar aku dan Laras ke rumah sakit,"


Kata Arin memberikan perintah,


Kiki sempat bengong sekian detik karena kaget mendapatkan tugas dadakan mengantar Bu Arin dan Bu Laras ke rumah sakit,


"Malah bengong, ayok cepat siapkan mobilnya!"


"I... Iya Bu, siap,"


Kiki lantas cepat pergi ke pintu samping yang tembusan dapur rumah makan,


"Pakai mobil ku saja Ki,"


Kata Laras sambil melempar kunci mobilnya ke arah Kiki yang langsung sempoyongan mencoba menangkap kunci mobil majikannya,


Ah yeah, Bu Arin memang sering begitu, sikapnya memang terkadang suka terkesan selengehan, tapi dia sangat baik dan merupakan atasan yang patut dicintai karyawan-karyawannya,


Laras turun dari lantai dua menyusul Arin, sementara Angga tampak masih dalam gendongan, meskipun sekarang sudah tidak menangis lagi,

__ADS_1


Anak itu tampak hanya terdiam dan menyembunyikan wajah di pelukan Mamanya,


Arin menatap Laras yang kini berjalan ke arahnya,


"Kiki yang bawa mobil, ayok,"


Arin mengiring langkah Laras,


Tampak Laras memberikan hp dari tangan kiri karena tangan kanan Laras harus memeluk Angga,


Arin mengambil hp dari tangan Laras, dilihatnya hp Laras di mana di sana masih terlihat chat dari Temmi, adik ipar Laras yang selain mengirimkan pesan teks, dia juga mengirimkan banyak pesan berupa foto-foto,


Arin yang melihat pesan dari Temmi itu pun seketika ternganga, ia menatap Laras sekilas, yang air matanya masih tampak tergenang di kedua matanya yang bening,


Sungguh, Arin tak mampu berkata apapun lagi saat ini,


Ia seolah ikut merasakan kehancuran perasaan Laras saat ini,


Hancur yang sehancur-hancurnya,


Mas Yoga pamit pada Ibu tadi siang untuk menemui orangtua Mbak Laras. Ia sepertinya ingin minta maaf, ia sepertinya ingin meminta kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.


Tapi, siapa yang menyangka, jika takdir yang ditulis untuk Mas Yoga adalah ia mengalami kecelakaan justeru di saat harusnya tiga menit lagi sampai di tujuan.


Mbak Laras, maafkanlah Mas Yoga, aku memohonkan maaf untuknya darimu agar ia bisa pergi dengan tenang.


Begitulah tulisan Temmi, dengan foto kondisi Yoga di rumah sakit yang telah terbujur kaku tak bernafas lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2