Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.125.DI CAfe.


__ADS_3

Sinar matahari muncul dari ufuk timur pertanda pagi telah tiba, ayam berkokok bersahut sahutan. Seorang wanita paruh baya tengah sibuk menyiapkan makan di atas meja setelah semuanya dirasa siap barulah wanita paruh baya itu memanggil suami dan anaknya untuk di ajak makan bersama.


"Bapak...! Ningsih..! ayo, cepat sini kita sarapan pagi."


"Iya, Bu! Tunggu sebentar Ningsih lagi menjemur baju "


Sang Bapak yang sedari tadi sudah siap menunggu makanan pagi segera duduk di meja makan tanpa menunggu langsung saja si Bapak mengambil Nasi, tapi ketika tangan kekar sang Bapak hendak mengambil Nasi tangan lembut sang itu langsung menahan dan menghentikan nya.


"Jangan, makan dulu toh Pak!"


"Lho, kok ngak boleh!"


"Tungguh Ningsih, kita makan bareng bareng,"


" Owalah, Bu! aku keburu ke sawah sudah siang ini,"


"Tapi pak?"


"Biarkan toh Bu, bapak makan dulu, kan bapak mau kerja, Ningsih sama ibu kan di rumah, jadi biarkan bapak makan dulu Bu?"sahut Ningsih yang mendengar percakapan antara ibu dan bapak nya.


"Oh, ya wes, bapak makan dulu, tapi ingat lauknya jangan di habiskan sendiri, sisahin buat aku dan Ningsih."


"Iya, Bu , jangan khawatir, Nanti aku sisain duri ikan asinnya," ucap Bapak sambil terkekeh.


Setelah Bapak Ningsih pergi kesawah Ningsih meminta ijin kepada ibunya untuk mencari pekerjaan.


"Bu, aku mau cari pekerjaan hari ini, boleh ya Bu?"


"Boleh, Nduk, kamu ikut Nuri saja biar dia yang bantu kamu agar bisa mendapatkan pekerjaan, kemarin ibu sudah ngomong sama Nuri nanti anaknya ke sini."


"Baik, Bu!


Tidak lama yang di tunggu datang Nuri segera pamit mengajak Ningsih untuk mencari pekerjaan.


"Ningsih! apa kamu mau bekerja sebagai tukang bantu bantu di kantor, di sana ada lowongan, kerja nya cuma membuatkan kopi dan bersih bersih, gajinya cukup lumayan dua juta satu bulan gimana apa kamu mau?"


"Aku mau, Nur! lagi pula aku tidak memiliki pengalaman apapun jadi bekerja sebagai pembantu bersih bersih di kantor dan menyediakan kopi ku rasa itu cocok untuk ku,"


"Baiklah, besok kamu langsung bekerja, hari ini aku mau ke cafe, aku bekerja di sana sebagai karyawan apa kamu mau ikut melihat lihat cafe tempat ku Bekerja?"


"Boleh, aku juga mau bantu bantu dari pada boring nunggu besok,"


"Ayo."

__ADS_1


"Nah, itu cafe tempat ku Bekerja, sayangnya di sini tidak menerima karyawan baru jadi kita tidak bisa bekerja dalam satu tempat, kamu tidak apa apa kan?"


"Tidak, apa apa."


"Nanti, pulang nya kita bisa saling tunggu kok,"


"Tenang saja Nur, aku bukan cewek penakut, jadi besok aku berani sendiri."


"Tunggu di sini saja, aku masuk mau bekerja,"


Ningsih mengagguk, ketika netranya asik melihat lihat muncul lah dari balik pintu seorang pemuda tampan berdasi menatap Ningsih dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu, siapa?"kenapa ada di sini."


"Saya Ningsih Ini saya nunggu teman dia bekerja di sini,"


" Apa kamu mau berkerja, kebetulan ada salah satu karyawan kami yang tidak masuk, kamu bisa gantikan dia untuk hari ini, jika kamu bekerja sampai pukul dua siang kamu akan dapat uang gaji 100 ribu tapi jika sampai malam pukul 7.00 kamu akan dapat 200 ribu apa kamu mau, pekerjaan nya mudah cuma menyajikan pesanan makanan dari pengunjung."


"Mau, pak, saya mau srkali,"


"Baiklah, kamu masuk dan ganti baju seragam,"


"Baik, pak!


*****


Seperti yang sudah di rencanakan Seila mengajak Bima keluar hari ini, tujuan nya satu ingin pergi ke hotel, agar bisa menghabiskan waktu tanpa ada yang mengaggu.


"Mas Bima, ayo, cepat kita pergi."


"Kemana?" tanya Bima malas.


Seila mendekati Bima yang sedang membaca koran, di ambilnya koran itu dari tangan Bima dan Seila menatap dengan tatapan penuh harap.


"Ke hotel, yuk!


Bima yang tidak pernah menduga jika istrinya ingin mengajaknya ke hotel langsung mendelik.


"Ke Hotel?" ngapain!


"Ah, Mas Bima payah, ya berduaan di sana, di sini di gangguin terus, aku mau lebih tenang dan itu hape ngak usah mas bawa ngaggu orang saja," ucap Seila mayun dengan bibir di kerucutkan kedepan.


Bima menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, sehingga hembusan nafas Bina menyapu wajah cantik yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku, ajak makan di restoran yang paling enak saja ya?"


" kok di restoran sih, trus kapan kita bisa berduaan nya? ucap Seila dengan wajah cemberut.


Bima tiba-tiba mengaruk kepalanya yang tidak gatal seolah olah sedang mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan istrinya.


"Itu, sih gampang, kan Kita bisa lakukan di rumah,"


"Tapi, mas di rumah juga ngak ngelakuin apa apa?"


"Kamu, yang sabar, Nanti kalau moodku Naik kamu bakalan kwalahan, melayaniku."


ucapan Bima yang langsung tanpa basa-basi membuat Seila menggigit Saliva nya, otaknya mulai melayang layang membuat nya semakin penasaran, ingin segera merasakan sentuhan sentuhan hangat dari Bima sekuat dan seperkasa apa jika Bima di atas ranjang. Melihat Seila terdiam Bima tersenyum simpul.


"Jangan, berharap kau bisa tidur dengan ku, karena mulai saat ini, aku akan mencari tau, siapa kamu yang sebenarnya,' Gumam Bima dalam hati.


"Seila..! kenapa bengong, ayo kita keluar sekarang, jangan memikirkan yang tidak tidak bukankah kamu sering merasakan, jadi jangan seperti orang yang tidak pernah ku sentuh saja," sindir Bima sengaja memancing reaksi gadis di depannya.


Membuat wajah Seila merah merona Karena malu, ucapan Bima yang penuh penekanan membuat nya terpojok Karena secara tidak langsung permintaan Seila menggambarkan orang yang tidak pernah ditiduri saja.


"Eh, iya," sial kenapa Bima ngomong begitu sih, bukankah arti dari ucapannya aku di suruh menunggu mood nya ada dan aku tidak boleh menuntut atau meminta sial gagal lagi kalau begini terus dan lama kelamaan kedokku terbongkar bagaimana sedangkan Bima belum menjadi milikku seutuhnya.


Seila menendang sebuah botol kecil yang ada di halaman rumah nya sebelum masuk dan duduk di mobil depan dekat Bima, sementara Bima tersenyum dengan penuh kemenangan. Mobil berhenti di sebuah restoran cafe ternama yang sangat terkenal kelezatannya.


"Kau, mau makan apa, sayang?" sengaja Bima selalu memanggil sayang agar Seila tidak curiga kalau dirinya kini telah curiga kepada nya.


"Terserah, Mas Bima saja," ucap Seila kesal.


Bima tau Seila sedang kesal tapi dia pura pura tidak tau.


setelah melambaikan tangan dan memesan makanan yang enak dan mahal tak lama kemudian, seorang pelayan keluar dengan membawa pesanan sang pengunjung, ketiika kakinya berjalan mendekati meja Nomor 21 yang jaraknya sudah dekat tiba-tiba kakinya menginjak lantai yang berair tak terelak lagi semua makanan dan minuman yang dia bawah langsung tumpah di atas meja Nomor 21 dan air jus minuman tumpah ke baju sang pemuda yang duduk di meja itu, dengan wajah gemetar sang pelayan itupun dengan cepat mengusap baju sang pemuda.


"Ma-maaf, Tuan! saya tidak sengaja," Ucapnya dengan mengusap usap baju pemuda yang basah itu dengan kain lap yang terslempang di pundaknya.


Pemuda yang tak lain adalah Bima menatap dengan tajam seolah olah hendak menerkam mangsa yang ada di depannya, sorot matanya menujukan kemarahan.


"Kamu, bisa kerja tidak sih, lihat bajuku kotor dan basah gara-gara kebodohan mu."


Entah dari mana rasa takut yang tadinya ada tiba-tiba hilang dengan begitu saja, melihat sang pemuda itu berdiri memarahinya dengan berani pula gadis pelayan itupun berdiri tegak dihadapan nya sambil berkacak pinggang.


"Hei, Tuan, aku sudah berbaik hati meminta maaf kepada mu, bahkan ini, lihat baju basahmu sudah ku keringkan dengan lap ini, bukannya Tuan berterima kasih justru memarahi, Tuan itu manusia yang tidak punya hati ya?"


Mendengar perkataan gadis pelayan yang ada di depannya membuat Bima melongo, tak percaya, bahwa ada seorang pelayan yang berani pada tamu pengunjung nya.

__ADS_1


__ADS_2