
Seila yang di tarik Bima jatuh terjerembab di atas Ranjang dan dengan sigap Bima langsung memberikan selimut pada tubuh istrinya dan menikmati malam dengan tidur bersama.
Pagi-pagi buta dini hari Bima sudah bangun dengan terburu buru langsung masuk ke dalam kamarnya, Seila hanya tersenyum simpul melihat ulah suaminya bak kucing yang takut ketahuan karena habis mencuri ikan asin.
Dengan gerakan cepat Bima pun cepat-cepat menutup pintu kamarnya dan pergi tidur lagi agar di sangka masih tidur.
Sayup sayup terdengar pembicaraan antara Bapak angkat Ningsih dengan ibunya.
"Pak ..apa ngak sebaiknya Bapak minta bantuan mang udin untuk bantuin Bapak memanen padi biar Bapak ngak kerepotan begini."
"Ngak usah bu, kalau kita minta bantuan orang sayang buang buang uang Bapak bisa sendiri kok, lagian sudah ada suami Bu Eta itu sudah cukup."
"Ya, sudah Nih Bapak Bawa bekalnya."ucap Ibu Ningsih sambil menggulurkan bekal yang sudah di persiapkan nya.
"Ya, sudah Bapak pergi dulu Bu!"
Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Bapak Ningsih segera meraih bekal yang di berikan istri nya kemudian dengan cepat melangkah pergi.
Mendengar Bapak Ningsih sudah pergi cepat cepat Bima Keluar dari dalam kamarnya.
"Bu..! Bapak mau ke mana?"
"Oh, Nak Bima sudah bagun, itu Bapaknya Ningsih mau ke sawah, mau memanen padi."
"Apa boleh saya ikut Bapak Bu, aku tidak pernah tau bagaimana orang memanen padi jadi aku penasaran ingin melihat nya."
"Boleh pergilah tapi bawa topi ya Nak di sawah sangat panas kulit nak Bima bisa hitam."Bu Ningsih sangat menyadari betapa panasnya cuaca di sawah untuk itu Bu Ningsih meminta untuk membawa topi.
__ADS_1
Dengan hati berbunga bunga senang Bima pergi mengejar Bapak Ningsih yang sudah lebih dulu pergi ke sawah. Bima pergi dengan jalan kaki sama seperti Bapak Ningsih, lagi pula sawah dari Bapak Ningsih tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu menggunakan kendaraan.
Bapak NIngsih yang datang lebih dulu sudah mulai memanen padi bersama dengan Bapak eta, melihat kesibukan dari Bapak dengan cepat langsung ikut masuk ke dalam lumpur.
Di sisi lain Arya yang sedang menunggu pak Burhan dan akhirnya yang di tunggu datang juga.
Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk, pak Burhan segera duduk di depan Arya.
"Selamat pagi, ada apa pak Arya memanggilku,"
"Katakan padaku berapa Banyak pengeluaran yang keluar sebelum aku datang artinya ketika aku sakit."
Pak Burhan diam tak berani bicara apa apa matanya menunduk ke melihat pak Burhan hanya diam saja Arya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati jendela Yang ada di dalam kantor itu.
Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar.
"Kenapa diam, apakah ada sesuatu yang tidak bisa kau katakan padaku ingat aku yang jadi atasan mu bukan istriku, untuk apa kamu tutupi katakan padaku sebelum aku mencari tau sendiri dan kamu ku pastikan akan Segera kun pecat.
"Maaf nyonya mengambil uang perusahaan hampir 300 juta."
"Apa 800 juta? apa kau tau untuk apa semua uang itu?"
"Tidak pak saya tidak menggetahui, nyonya hanya mengatakan untuk biaya pengobatan Tuan di luar Negri."ucap pak Burhan dengan wajah menunduk.
Arya kembali menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar.
"Baiklah kau boleh pergi, oh ya bawa koran terbaru edisi hari ini ke ruang kerjaku seperti nya belum ada." perintah Arya pada pak Burhan.
__ADS_1
" Baik, saya akan ambilkan " ucap pak Burhan seraya pergi keluar ruangan dan tak lama kemudian sekitar dua puluh menit pak Burhan sudah kembali, dengan menenteng satu koran terbaru edisi hari ini.
"Ini, Pak korannya."
"Baik, trimakasih."ucap Arya seraya memungut koran yang di sodorkan pak Burhan kepadanya.
"Kau boleh pergi."
Setelah memberikan salam hormat pak Burhan keluar ruangan.
pikiran kacau dan pusing memikirkan istrinya yang menggambil uang perusahaan dengan jumlah yang sangat fantastis yang tidak tau untuk keperluan apa yang sesungguhnya membuat kepala Arya berdenyut. untuk itu agar hatinya tidak semakin kesal dan sakit Arya mulai meraih koran edisi terbaru, siapa tau dengan membaca koran kekesalan dan marah Arya pada Arina istrinya bisa segera redah.
Arya kembali mendudukkan bokongnya di atas kursi dengan sikap santai, Arya mulai membaca halaman pertama dari koran yang di bacanya. Halaman pertama berita terpopuler hari ini seorang wanita dengan tuduhan telah memalsukan identitas dengan mengaku sebagai istri seorang pengusaha dan seorang guru karate ternama Bima Arzeta telah di jatuhi hukuman penjara selama lima tahun penjara.
Jantung Arya seolah berhenti berdetak ketika melihat gambar dari sang tersangka penipuan, lidahnya terasa Kelu dan bibirnya terkatup rapat dia berusaha tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, akan tetapi semua benar.
"Arina ada di dalam penjara, pantas saja anak buah ku tidak bisa menemukan nya, ada ada saja, apa sih kurangnya aku dan apa sih kelebihan dari Bima Arzeta, menggapa Arina begitu berambisi ingin memiliki nya,"
Arya mengusap wajahnya dengan kasar.dan menelan ludahnya dengan kasar seakan akan kerongkongan nya menjadi sangat kering.
"Apa bisa tidur dia, di penjara yang dingin begitu dasar istri tak tau diri, aku harus cepat pergi menemui nya, kasian juga pasti Arina sulit tidur." Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Setelah menggetahui jika Arina berada di penjara dengan cepat Arya pergi pulang ke rumah nya, dan meletakkan joran sembarangan di atas meja, pikiran nya semakin kalut Bima menguyur tubunya dengan air dingin agar hatinya ikut dingin akan tetapi hampir satu jam di dalam kamar mandi, Arya masih tetap memikirkan Arina sehingga seluruh tubuhnya terasa panas.
Sementara di lantai bawah Tampak Novi sedang berjalan menuju ruang tamu dengan memegang sapu dan terlihat lah oleh nya sebuah koran dengan halaman depan terpampang wajah yang sangat familiar dan Novi kenal, Jantung Novi berdecak dua kali lebih cepat sari biasanya, hingga membuat Novi tanpa sadar menelan ludahnya beberapa kali kali dengan kasar.
"Tunggu..!" aku sepertinya mengenal wajah itu, bukankah Arina melakukan operasi wajah seperti itu, Astaga.... benarkah yang ada dalam berita ini Arina?"cepat cepat Novi meraih koran yang ada di atas meja dan membacanya dengan seksama. Novi benar benar seperti orang yang baru saja terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Laki-laki itu memenjarakan Arina bagaimana jika Arya sampai tau pasti akan lebih marah dan malu, sekarang apa yang harus aku lakukan koran ini yang membawa Arya smoga Arya belum sempat membaca kalaupun membaca smoga Arya tidak tau jika gambar yang terpampang di surat kabar harian ini adalah Arina istrinya, apa sebaiknya aku ambil halaman ini, iya agar lebih amannya akan ku ambil dan sembunyikan dan jika ada waktu aku akan menjenguk Arina, Arin....Arin cari masalah saja kamu itu," lirih Novi yang kemudian buru buru mengambil satu lembar koran yang ada gambar dan berita dari Arina.
"Arya kan tidak tau jika Arina istri nya sudah melakukan operasi wajah jadi kurasa Arina masih aman dari Amukan Arya.