
Merasa apa yang di carinya sudah ketemu, Arya segera turun dari kamar dan pergi mencari Arina sang istri yang bisa di bilang istri durhaka pada suami karena sudah di tolong bukannya berterima kasih dan berbakti pada sang suami tapi justru masih bersikap dingin, tapi meskipun begitu entah mengapa cinta Arya tdk pernah luntur.
"Bik....! apa Bibik tau dimana Non Arina?'
"Ada di Rumah belakang Den."
"Oh, trimakasih Bik," Bergegas Arya berlari pergi ke Rumah belakang dimana Rumah belakang dulu juga tempat awal mula Arina datang sebagai seorang pembantu karena terpaksa atas permintaan Arya pula.
Dari kejauhan sudah terlihat sosok Istri yang sangat di rindukan nya sedang menemani salah satu pembantu yang sedang mengupas sayuran kentang.
"Sayang, ngapain kamu disini."
"Maaf Den, Non Arina tadi mau membantu memasak untuk makan malam."
"Wah, bagus itu masak saja sayang aku akan mencicipi hasilnya Nanti."
"Kalau begitu kau pergi saja tunggu hasil masakan ku di Rumah depan."
"Memang nya kalau aku disini kenapa, kan lebih menyenangkan kan jika di temani suami juga."ucap Arya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak perlu, kan sudah ada Bibik Rum yang menemaniku."tolak Arina halus.
"Bik, hari ini bibik boleh beristirahat di dalam Rumah biar yang memasak hari ini Istriku."
"Baik, den,"tanpa membantah Bibik Rum segera mencuci tangannya dan pergi meninggalkan Arina dan Arya.
Arina menatap tidak suka dengan sikap sang suami yang terlihat seperti prangko sepuluh ribuan, dirinya kan masih tahap belajar belum tentu bisa ini sudah memutuskan sang pelayan harus pergi dan dia yang kini menggantikan pekerjaan nya, sesuatu yang sangat menyebalkan sehingga membuat Arina menatap dingin pada sang suami.
__ADS_1
Mendapat tatapan yang cukup bisa di pahami maknanya karena tatapan Arina terlihat sinis membuat Arya menelan ludahnya.
"Kau tidak suka aku disini."
"Menurut mu sendiri bagaimana?"
"Sayang aku kan lagi bertanya tapi mengapa jawabnya dingin begitu."
"Aku tidak begitu pandai memasak kenapa kau suruh bik Rum pergi," Sungut Arina kesal saking kesalnya melempar kentang yang baru saja di kupas nya.
Arya tidak menyangka jika apa yang dilakukan justru membuat mood Arina hancur, Arya menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, mencoba bersabar.
"Apa kau mau kita makan di luar?"tanya Arya ragu ragu karena dia juga yakin Arina belum tentu mau, bahkan Arya yakin akan lebih marah lagi dengan ajakan konyolnya, Arya sudah pasrah jika jawaban istrinya akan bertambah marah.
"Kau serius?"
"Ayo..! ajak nya kemudian yang mana langsung mendapat kan balasan anggukan dari sang istri.
Disaat Arina dan Arya berjalan ke Rumah depan tiba-tiba telpon Arya berbunyi, refleks Arya menoleh ke wajah istri yang berjalan disampingnya.
"Kenapa menatapku, angkat tuh telponnya, pasti penting."
Dengan senyum terpaksa Arya mengangkat telpon yang tak lain dari Novi teman sekaligus dokter pribadinya, dengan malas.
"Halo, ada apa Nov."
"Aku akan segera pulang, kau ada di Rumah kan?
__ADS_1
"Ya, tunggu lima menit lagi aku datang."ucap Novi seraya mematikan sambungan telpon nya
Sementara itu setelah Arya memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya Arya berlari berjalan menjari langkah istri nya.
"Novi akan datang."
"Hmmm."
"Kok cuma hmmm sih jawaban nya."
"Trus aku mau ngomong apa?"
"Nng.. tidak ada ayo kita pergi makan di luar."
"Kalau Novi datang kamu ngak ada trus bagaimana?"
"Biarin saja, dia bisa di Rumah sama para pembantu di Rumah ini."
Di sisi lain di tempat yang berbeda Nampak Bima sedang berada di Ruang makan keluarga disana sudah ada Vira kecil , Bima, Seila dan Bik Inah sang pembantu.
"Vira sini makan di suaapin papa sini, berikan padaku bik biar aku suapin."
Bik Inah segera mengendong Vira dan menyerahkan pada Bima Dengan telaten Bima menyuapi Vira sampai kenyang kemudian mengembalikan pada Bik ijah.
"Bawa Vira kedalam Bik dan tidurkan dia seperti nya dia sangat mengantuk.
"Sayang kau sudah selesai makan?"tanya Bima yang melihat Seila hanya makan sedikit, entah mengapa rasanya hari ini Seila sedikit berbeda, malampun seolah tidak berselera.
__ADS_1