
Ningsih yang diam saja membuat suasana cangung tiba-tiba muncul diantara mereka Bima yang tadinya berharap Ningsih akan mencair dan memaafkan nya kini merasa semua bagaikan mimpi saja, Bima menelan ludahnya dengan kasar sambil tersenyum getir Bima melepaskan genggaman tangannya pada Ningsih.
"Maaf aku sudah mengaggu dan membuang waktu mu, kamu boleh pergi, sekali lagi trimakasih telah menjaga anakku," Bima mengatakan dengan suara yang sedikit berat di mana kini Bima benar benar harus tau diri jika semuanya telah berakhir sampai di sini, harapan agar Ningsih memaafkannya, harapan agar bisa bersama kembali dengan istri tercintanya kini tinggallah sebuah mimpi, Bima menguatkan hatinya sendiri, cinta tidak harus saling memiliki, cinta tidak bisa ada dan hadir dengan di paksa, jika sudah di takdir kan untuk berpisah dan jika kita sebagai manusia sudah berusaha maka sudah selayaknya, kita sebagai manusia ihklas dalam segala nya.
Cinta sejati adalah dia yang siap berkorban demi kebahagiaan orang yang kita cintai, bukan memaksa orang yang kita cintai untuk mencintai kita, jika memang dia ditakdirkan untuk kita, maka akan ada jalan di mana dua hati akan di satukan, Bima tak lagi ingin menggatakan bahwa dia adalah suaminya dan memaksa Ningsih untuk menggingat siapa dirinya, Bima merasa Ningsih sudah bahagia dengan pilihan nya, bukankah Hendrato lah cinta pertama nya dan itu sudah pasti tertanam dalam memori dan siapa lah Dia yang hanya datang dan hadir dalam kehidupan cinta keduanya sudah pasti Ningsih tak kan mengingat nya, Bima tersenyum getir menggingat hal itu.
Melihat Ningsih diam saja dan belum melangkah keluar kembali Bima membuka suara.
"Keluar lah, aku khawatir calon Suamimu Nanti akan Bingung mencari,"lirih Bima.
Ucapan Bima yang lirih dan sangat pelan tapi bagi Ningsih ucapan itu sangat lah keras dan sangat menyakitkan hatinya.
"Apa dia tidak punya hati dan perasaan, kenapa tidak merayuku atau membujuk ku, apakah hanya aku yang memendam rindu padanya mudah sekali menyuruh ku pergi dasar laki laki buaya cap kadal, entah wanita mana lagi yang jadi selingkuhan nya hingga dia punya anak berkulit hitam begitu,"grutu Ningsih kesal dalam hati sambil membuka pintu mobil untuk keluar, Bima menatap sayu dan menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering di kerongkongan sambil tersenyum manis senyum keterpaksaan sementara Ningsih mendengus dengan kesal hingga tanpa sadar menutup pintu mobil dengan sangat keras hingga membuat si kecil Vira terbangun dari tidurnya dan menangis karena kaget.
Melihat Vira yang tiba-tiba menangis Ningsih baru menyadari kesalahannya, buru-buru Ningsih membuka kembali pintu mobil tanpa ada yang meminta Ningsih langsung meraih Vira dan menenangkan di pangkuan nya.
"Cup...cup ... sayang, jangan nangis maafkan Tante yang sudah menggangu tidurmu ya."
Seperti memahami ucapan Ningsih si kecil Vira pun langsung diam dan kembali memejamkan matanya di dalam pangkuan Ningsih.
"Bapak, ini gimana sih, tau anaknya nangis kok di diamkan, harus nya cepat di gendong."seru Ningsih protes.
Bima yang tidak menyangka justru mendapat ceramah dari Ningsih langsung mendelik.
"Bagaimana aku bisa mengendong jika kamu lebih dulu menggendong nya?"kilah Bima tak mau di salahkan.
Ningsih yang menyadari kesalahannya diam tak bersuara tapi bibirnya komat Kamit menggrutu tak karuan meskipun hanya lirih.
"Dasar laki laki cap kadal, mana bisa dia nenanggin anak bisanya cuma selingkuh dan bikin anak doang."
Bima yang mendengar ucapan lirih Ningsih langsung menyela.
__ADS_1
"Kamu bicara apa?"
"Ngak, ada, aku tidak bicara apa-apa." kilah Ningsih bohong.
"Aku tadi mendengar kamu bilang aku buaya cap kadal, apa itu maksudnya."
Ketauan Bima bisa mendengar apa yang Ningsih ucapkan, Ningsih langsung memasang wajah tak berdosa sambil tersenyum dengan mimik bibir nyengir kuda.
"He...he..he...Bapak lagi menghalu ya, kapan aku bilang begitu."ucap Ningsih dengan senyum yang mengemaskan membuat Bima pun tersenyum, melihat Bima tersenyum hati Ningsih serasa meloncat degup jantung dengan debaran debaran aneh kembali datang membuat Ningsih jadi salah tingkah.
"Vira. .sudah tidur pak!"
"Iya, sini aku bantu menidurkan Bima meraih Vira dari pangkuan Ningsih, tanpa sengaja tangan Bima kembali bersentuhan dengan Kulit Ningsih membuat Ningsih semakin berdebar dengan sangat hebat.
"Maaf, tidak sengaja," ucap Bima lirih.
Ningsih yang sibuk menata hatinya cuma bisa mengagguk sebagai Jawaban.
"Angkatlah, pasti itu dari calon suamimu."
Ningsih tersenyum kecut mendengar perkataan Bima, entah mengapa rasaanya tidak suka jika Bima menyebut Hendrato dengan kata calon Suaminya.
Perlahan-lahan Ningsih membuka pintu mobil dia tidak mau ceroboh seperti yang tadi dia lakukan karena kesal menutup pintu mobil dengan keras, hingga membuat tidur sang bidadari kecil menangis, beruntung Vira anak yang baik sehingga dia tidak terlalu rewel cuma di angkat dan di ayunkan sebentar dalam pangkuannya Vira kecil sudah tidur lagi.
Setelah Ningsih keluar dari dalam mobil dan bicara sebentar di dalam telpon, setelah selesai Ningsih berniat akan berpamitan pada Vira sambil mencium nya entah kenapa melihat Vira si hitam manis NIngsih merasa suka.
Di raihnya kembali pintu mobil dan Ningsih langsung membungkukkan badannya pada saat yang bersamaan Bima hendak keluar maka terjadilah benturan tak sengaja,
"Auuuwwh...!" seru Ningsih spontan.
wajah Ningsih yang menunduk dan wajah Bima yang lagi tenggadah membuat kulit mereka bersentuhan sedikit keras dan meninggalkan rasa sakit karena kejaduq kerasnya dahi Bima.
__ADS_1
"Maaf...!" aku tidak tau kamu mau masuk ke dalam, sakit ya..?"tanya Bima cemas.
Bima tau pasti rasanya sakit jika kejaduq dahi yang berkulit keras dan tanpa sengaja Bima menyetuh kulit wajah NIngsih yang tiba-tiba memerah Bima yang menyangka itu akibat rasa sakit tak berfikir panjang langsung menyentuh wajah Ningsih dengan tangan nya membuat Ningsih semakin merah merona wajahnya dan jantung nya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
Untuk beberapa saat Ningsih terhinotis dengan suasana hatinya sampai pada saat kesadaran sudah pulih kembali Ningsih menepis perlahan tangan Bima menjauh dari wajahnya.
"Tidak apa-apa kok,"jawab Ningsih.
"Oh, kirain sakit, tadi mau masuk lagi ada apa?"
"Ngak ada apa-apa?" ucap NIngsih gugup.
"Oh, kirain ada yang penting."
Ningsih tersenyum masam
"Sudah, ya, saya permisi dulu."
Ketika Ningsih berbalik badan dan hendak melangkah pergi Tiba-tiba Bima menghentikan nya dengan menarik tubuh Ningsih hingga tubuh nya terseret dan membentur dada Bidang milik Bima, serasa jantung mau copot NIngsih tak bisa berkata apa-apa jantung nya kembali berirama tak karuan.
"Aku tidak perduli, jika setelah ini kamu membenciku, aku hanya ingin kamu tau aku tersiksa karena menahan rindu padamu." desis Bima lirih dan dengan lembut mencium kening Ningsih membuat Ningsih memejamkan mata dalam dekapan dada bidang Bima ada rasa senang dan bahagia mendengar ucapan Bima dalam diamnya hati Ningsih tersenyum bahagia.
Perlahan lahan Bima melepaskan pelukan nya.
"pergilah, dia pasti sudah menunggu mu."ucap Bima lembut.
Ningsih yang mulai berada di atas kesadaran normal tersenyum kecut yang kemudian melangkah pergi.
"Andai boleh, andai rasa malu tak ada Ingin rasanya juga mengatakan akupun sangat merindukan mu."Gumam Ningsih dalam hati.
Tanpa di sadari Bima dan Ningsih apa yang mereka lakukan di dalam mobil dan di luar mobil tertangkap mata sosok wanita yang sedari awal telah menggikuti Bima.
__ADS_1
"Ternyata masih juga berhubungan, ini tidak bisa di biarkan, tidak ada ampun lagi buat mu Wanita jal aang, kau memang harus mati dan jika kamu sudah mati maka tak ada lagi kamu dalam kehidupan dan pikiran Bima, tunggu saja saatnya akan segera tiba."ucap sosok wanita berkacamata hitam yang kemudian melangkah pergi dengan mengemudi kan' mobilnya.