Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.162.HUTANG


__ADS_3

Orang misterius berkacamata hitam segera meninggalkan tempat itu dan menuju mobilnya hatinya betul betul hancur berkeping keping, tubuhnya yang masih lemah dan tak bertenaga tidak sebanding dengan luka dan sakit yang tergores di dalam kalbunya.


orang misterius berkacamata hitam itu melajukan mobilnya dengan sangat pelan menuju sebuah Rumah sederhana, setelah sampai di halaman depan dengan cepat orang misterius itu mengetuk pintu.


"Tok..Tok...Tok...!"


Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya, melihat siapa yang datang dengan serta merta wanita paruh baya itu tersenyum.


"Nak, Hendrato! ayo masuk."


"Ibu...!"


Hendrato yang tak bisa lagi membendung luapan rasa yang ada di dalam hatinya segera memeluk wanita paruh baya itu dengan air mata mengalir.


"Hei, ada apa Nak Hendrato, kenapa kau menangis?"


"Ibu..!' Ningsih."


"Iya, Ningsih Kenapa?" apa dia membuatmu kesal?"


"Tidak, Bu, Ningsih tidak membuat ku kesal tapi aku sendiri yang telah membuat ku kesal, Bu..! aku ingin menceritakan sesuatu tentang Ningsih tapi aku takut ibu akan marah padaku."


"Bercerita lah Nak, aku akan mendengarkan nya,"


"Bu..! sebenarnya Ningsih sudah bersuami, dan aku sengaja menyembunyikan itu dari Ibu, aku sangat mencintai Ningsih aku berharap Ningsih bisa ku miliki aku memanfaatkan keadaan nya yang hilang ingatan, Bu katakan padaku apa yang harus aku lakukan, Ningsih seperti nya sangat membenciku Bu, aku tidak sanggup dibenci lagi, Bu, apakah ibu tau siapa suami Ningsih, dia Pak Bima Boss tempat NIngsih bekerja dan sebenarnya pak Bima juga tau jika Ningsih adalah istrinya, tapi dia tidak lantas mengatakan kalau dia adalah Suaminya dia sangat menjaga hati dan kesehatan istrinya pak Bima selalu bersabar dan ihklas Ningsih tak menggingat nya sebagai seorang suami tapi kini ingatan Ningsih sudah kembali, dan mereka sudah bersama lagi aku binggung aku harus apa dan bagaimana sungguh aku tidak ingin Ningsih membenciku, katakan Bu apa yang harus aku lakukan?"


"Kenapa semua jadi kacau begini, aku sudah menyebar undangan pernikahan kalian dan jika di batalkan kami pasti jadi bahan cemoohan,"


"Lalu kita harus bagaimana Bu?"


Di saat lagi Binggung tiba-tiba Ayah Ningsih keluar dan kebetulan juga sempat mendengar percakapan mereka.


"Pernikahan tetap akan di lanjut kan"


"Bapak..!" Ningsih itu sudah punya suami bagaimana bisa menikah lagi."


"Kita tidak mau di cemooh orang kan bu? jadi pernikahan itu akan tetap di langsung kan."


"Tapi, pak! Ningsih mana mau menikah dengan saya, melihat saya saja Ningsih begitu bencinya, tidak ini tidak bisa pak."


"Apakah kau ingin Ningsih memaafkanmu?"


"Iya, tentu saja pak!"


"Kalau begitu ikuti semua ucapanku."


"Tapi, pak!"


"Sudahlah Nak Hendrato boleh pulang besok datang lagi kita akan membahas pernikahan Ningsih."

__ADS_1


"Tapi, pak?"


"Pulang lah," Hendrato menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan dengan langkah tak bersemangat Hendrato melangkah pergi setelah berpamitan dengan Bapak dan ibu Ningsih.


"Bapak ini bagaimana toh!" Ningsih sudah bersuami kok di paksa Nikah sama Nak Hendrato, otak bapak itu di taruh di mana?' soal malu sama tetangga Yo wes Ben, ibu ora Popo pak, tapi kalau memisahkan Ningsih dengan suaminya kita dosa pak dapat dosa.!" seru Ibu Ningsih berapi-api kesal melihat suaminya memberikan ide yang konyol.


"Sudahlah, Bu!"ikuti saja apa yang bapak usulkan percaya lah Bu, kita tidak akan mendapatkan dosa."


"Ora mendapatkan dosa opo, misahno bojo Karo garwone iku Doso pak,e."


"Lha, sopo Bu, yang mau memisahkan gendruwo sama bojo ne."


"Bukan gendruwo pak, garwo...!" garwo kuwi suami istri pak,e duh, gusti uwong di Jak omong jowo kok yo angel ....wes angel pokoke aku Moh wegah lek Kon nyungi dosone, ngerti opo ora aku omong opo kwi?"


"hora!"


"Dosanya Bapak tanggung sendiri, aku tidak mau ikut merasakan nya, begitu lho Bapak, wes aku ke dapur menyiapkan makan malam siapa tau Ningsih pulang dan mau makan bareng kita."


"Iya, Bu masak sing enak yo?"


"Iya, pak!"


Bu Ningsih masuk ke dalam untuk mempersiapkan makan malam berharap malam ini Ningsih akan pulang. Di toko butik Wina senyum senyum melihat dua insan yang lama tak bertemu saling diam tapi mata mereka saling berbicara.


"Maksud Kak Bima itu bagus, Seila! kamu ngak boleh pakai baju model begitu, kan kamu sudah bersuami.'


"Ya, sekali kali pakai kan gak papa?"


"Kalau Kak Bima masih suka mengatur ku aku ngak mau pulang, aku mau pulang ke rumah IBu saja,"


"Jika kamu pulang ke Rumah Ibumu, aku juga ikut kan kamu istri ku."


"Jangan..!" Nanti Ibu terkejut bisa pingsan kalau sampai tau kita satu kamar berdua."


"Aku, ngak akan croboh lah,"


"Maksud kak Bima bagaimana?"


"Aku, akan pura-pura kemalaman pasti di ijinkan tidur di ruang tamu,"


"Terserah kak Bima lah tapi kalau sampai buat Ibu pingsan awas, saja "


"Iya, sipp aku akan berhati-hati."


Setelah berpamitan kepada Wina Bondet Seila, dan Bima masuk kedalam mobil, di persimpangan jalan Bima menghentikan mobilnya.


"Ndet...!" kamu turun!"


"Apa?" turun!"

__ADS_1


"Iya, masak kamu mau ikut kami, aku dan Seila akan pergi ke rumah ibunya jadi kamu turun."


"Yaaa, kok gitu sih kak kan bisa di antar gitu sekali kali."


"Turunin, aja biar kapok, lagian juga ngatain aku jelek,"


"Hei. ..! Non aku kan ngak tau ku pikir.....


"Apa, hayo mau bilang apa?"


"Ngak jadi!" seru Bondet sambil nyengir kuda.


Dengan terpaksa Bondet akhirnya turun dari mobil dan mencari taksi untuk membawanya pulang.


"Sayang..!" Kita nonton dulu yuk, Nanti pulangnya biar agak malam dikit gitu."


"Ngak maulah, males aku ingin cepat pulang dan makan, sudah lapar nih perut."


"Makan di restoran depan itu saja yuk!"


"Ngak mau Kak, aku mau masakan ibu, masakan ibu itu rasaanya sangat enak."


"Yaaa, nanti aku bagaimana?"


"Ya, seperti biasanya."


"Saysng..!Rasanya males aku ketemu Bapak mu pasti deh di sinisin dan di acuhin aduhh apa aku bisa tahan."


"Ya harus bisa dong! kita harus maklum mereka tidak tau Kalau Kak Bima suamiku."


Tiba-tiba Bima menginjak rem secara mendadak.


"Ada, apa kak, kenapa tiba-tiba berhenti?'


"Dari tadi aku belum mendapatkan kiss, minta kiss dikit dong, entar aku pasti juga di suruh tidur sendiri di ruang tamu."


"Ngak maulah, males!


"Issh...dosa tuh Nolak permintaan suami."


"Kan, bisa ngutang?"


"Apa?" ngutang? maksdnya bagaimana tuh."


"Kiss nya entar entar saja hutang dulu hari ini males."


"Yaaa, apes deh, Ok! gak papa tapi hutangnya berbunga ya?"


"Bunga memangnya ada kiss berbunga."

__ADS_1


"Ada, kiss dobel crazy up, jadi tiga kali ,"


"Enak, saja dobel crazy up, nih crazy up."ucap Seila sambil mencubit perut Bima membuat Bima Meringis menahan sakit.


__ADS_2