Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.130.PERASAAN YANG SAMA


__ADS_3

Menjelang pagi Ningsih sudah mempersiapkan segala sesuatunya di rumah untuk sarapan Bapak dan ibunya, Ningsih tidak terlalu bisa memasak tapi dia rajin membantu ibu angkatnya sehingga pagi sekitar pukul 5.30


makan pagi sudah tersaji di atas meja.


Setelah semua nya beres Ningsih segera masuk ke dalam kamar mandi kemudian berias sedikit dengan memberikan sedikit lipstik tipis pada bibir tipis nya. Merasa sudah sempurna semua nya sudah siap Ningsih langsung menaruh tas kecil di selempang kan di pundaknya.


Sebagai anak yang berbakti Ningsih selalu meminta izin kepada ibu dan bapaknya ketika berangkat kerja.


"Lho, Nduk! tumben berangkat nya pagi."


"Iya, Bu, dari pada nanti terlmbat lagi pula bis nya terkadang lama."


"Oh, begitu, tapi kamu harus .makan pagi dulu agar punya energi untuk bekerja."


"Ngak, usah Bu, nanti saja sarapan di kantor sekalian."


"ya, sudah, ati ati ya Nduk."


"iya, Bu, Ningsih berangkat kerja dulu salam sama bapak juga ya Bu!"


"Iya, Nduk!


Ningsih melangkah pergi ke luar rumah setelah mencium tangan ibunya. Tidak menunggu berapa lama bis yang membawa Ningsih pun tiba di tempat kerja.


"Alhamdulillah, masih pagi, pasti pak Bos belum datang aku harus cepat membersihkan ruangan dan menyiapkan kopi, agar ketiika pak boss sudah datang aku tidak usah melihat wajahnya, rasaanya masih menjengkelkan masak pak boss sosok suami yang suka selingkuh."


Dengan langkah riang dan mantap Ningsih langsung membuka kantor ruang pribadi Bima, ketika pintu di buka.


"Alhamdulillah, aman sepi."


Cepat cepat Ningsih meletakkan tas kecil nya di atas meja, tangannya yang halus dengan lincah memainkan kemonceng untuk membersihkan semua yang berdebu dengan bersenandung kecil Ningsih melap semua dengan cepat.


Tanpa Ningsih sadari Bima yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah melihat tingkah Ningsih dengan mengeryitkan dahinya,


"Tumben, ini anak datang pagi pagi sekali, apa sebegitu rindu dia sama aku hingga baru pukul 6.00 sudah ada di sini," Gumam Bima dalam hati, dia tetap memilih diam tidak memberi tau menegur atau menyapa Ningsih, di tatapnya lekat lekat gadis yang entah mengapa selalu mengusik hatinya.


Ningsih yang merasa sudah selesai membersihkan dengan kemonceng berniat hendak mengambil air putih karena haus tiba-tiba tatapan matanya membulat dengan sempurna ketika tau siapa yang ada di depannya.


"Ba-bapak! Se-sejak kapan, ada di sini dan dari mana masuknya kenapa aku tidak melihat ada pintu yang di buka."

__ADS_1


"Seharusnya, aku yang bertanya, kenapa kamu datang sepagi ini?"


"Sa-saya...!"


"Kangen! dengan aku kah, sehingga tidak sabar ingin segera bertemu," ledek Bima dengan tersenyum miring yang sontak saja membuat pipi Ningsih berubah merah tomat karena malu.


"Tidak? siapa yang kangen dengan cowok Play boy tukang selingkuh."


Bima mendelik mendengar perkataan Ningsih yang tidak pernah dia bayangkan bahwa seorang karyawan berani mengatakan boss nya play boy dan tukang selingkuh.


"Coba ulangi, kamu bilang apa?"


Menyadari telah bicara keliru Ningsih cepat cepat membekap mulutnya sambil menggelengkan kepalanya kuat kuat sementara Bima mendekati Ningsih dan langsung meletakkan kedua tangannya dikedua pipi Ningsih dan membuka bekapan tangan Ningsih yang ketika itu sedang membekap mulutnya dan mengaggkat dagu Ningsih agar mendongak menatap Wajah Bima dengan jarak yang begitu dekat sehingga membuat detak jantung Ningsih seakan berpacu lebih cepat debar debar aneh yang tak pernah dia rasakan ketika bersama dengan Hendrato kini justru merasakan ketika berdekatan dengan boss galaknya.


"Katakan, aku play boy tukang selingkuh kan!"


Ningsih berusaha membuang muka agar tatapan mata mereka tidak saling bertemu akan tetapi tangan kekar Bima yang menahan dagunya tak mampu membuat Ningsih membuang muka atau mengalihkan pandangannya.


"Aku memang play boy dan aku memang tukang selingkuh, dan sekarang aku mau selingkuh dengan mu."


Ningsih langsung membulat kan kedua bola matanya mendengar perkataan Bima sehingga bibirnya terngaga tak percaya belum sempat Ningsih Bicara Bima sudah meraup Bibir tipis Ningsih memainkan dan menyesapnya Ningsih semakin di buat kelabakan permainan bibir Bima yang begitu buas dan kasar di awal dan kemudian melembut tanpa sadar membuatnya terlena dan ikut menikmati tanpa sadar tangan halus Ningsih melingkar di leher Bima untuk beberapa saat Ningsih di buat terlena dengan menikmati permainan Bima , tapi tiba-tiba Ningsih melepaskan tangannya yang melingkar pada leher Bima dan mendorong tubuh Bima.


"Cukup, pak!"apa yang kita lakukan tidak benar, ingat, bapak atasan saya dan bapak sudah beristri begitu juga saya sudah memiliki kekasih."


"Tapi, kau membalas ciuman ku, katakan, apa kau memiliki perasaan padaku?"tanya Bima.


NIngsih tidak menjawab pertanyaan Bima wajahnya yang merah merona Karena malu dan sangat malu karena telah membalas ciuman Bosannya memilih untuk segera pergi dari tempat itu.


"Saya, akan siapkan kopinya."


Ketika Ningsih berjalan menuju pintu dengan wajah menunduk tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika tepat di depan pintu berdiri seorang gadis cantik.


"Bu, Seila?"ucapnya dengan gugup.


"Hei, sepagi ini, kamu berada di kantor suamiku ngapain, mau mengoda suami orang ya?"


"Ti-tidak, Bu!" saya bekerja.


"Oh, ya, pasti kamu tau suamiku tidak pulang ke rumah dan kanu...

__ADS_1


"Seila, masuklah! dan kau Ningsih cepat buatkan dua cangkir kopi."seru Bima yang melihat Ningsih di omelin Seila.


Tanpa menjawab pertanyaan Bima, Ningsih langsung ke luar.


"Mas Bima, kok ngak pulang sih,"


"Kerjaan banyak."


"Tega, sih mas aku kan jadi kesepian,"ucap Seila sambil bergelayut manja di leher suaminya, Ningsih yang sudah ada di depan pintu dengan membawa dua cangkir minuman ketika melihat pemandangan yang entah mengapa membuat hati Ningsih sakit dengan wajah menunduk Ningsih masuk dan menaruh kedua kopi itu di atas meja.


Sebelum Ningsih pergi meninggalkan ruang kantor Bima Ningsih menatap sekilas wajah Bima yang ternyata Bima pun tengah menatapnya dengan mengedipkan sebelah matanya, Ningsih cepat cepat membuang muka dan melangkah pergi sementara Bima tersenyum penuh kemenangan.


"Akhirnya, cemburu juga, dia," Gumam Bima dalam hati.


"Mas, pecat saja tuh Ningsih aku tidak suka,"


Permintaan Seila yang tiba-tiba memintanya agar mau mrmecat Ningsih membuat Bima


terbatuk batuk.


"Uhuk ..uhuk..uhuk!"


"Mas Bima, tersedak,ayo, minum air putih kok bisa tersedak sih mas,"


"Ngak papa, trimakasih."


"Ningsih di pecat saja ya?"


"Memangnya, kenapa Kalau dia bekerja di sini."


"kan,mas Bima juga tau, aku tidak suka aku merasa Ningsih ada rasa suka pada mas dan aku tidak suka itu."


Bima melepaskan pelukan Seila dan berjalan menuju jendela, Seila bangkit dan mendekati Bima yang berdiri di depan jendela.


"Mas Bima, pecat Ningsih ya?"


"Tidak, bisa kalau mau memecat harus ada alasannya dan aku tidak akan memecat Ningsih."


Ucapan Bima membuat Seila menatap suaminya dengan tatapan mata tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2