Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.107.GARA GARA ROKOK


__ADS_3

Dengan perasaan kecewa dan marah Arina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga sampai di halaman rumah dengan cepat, keadaan rumah yang masih sepi dengan lampu yang belum menyala menandakan belum ada satu penghuni pun yang ada di dalam rumah. Arina melempar tas kecilnya dengan kasar di atas kasur raut wajahnya masih menampakkan kemarahan yang sangat dengan sangat emosi dan kesal Arina membanting semua benda benda yang ada di atas meja rias, Air matanya mulai mengalir dengan deras sesekali Arina berteiak histeris meluapkan segala kekesalan hatinya.


"Aku tidak trima semua ini, aku tidak trima, Aaaaaa...!"


Suara benda benda berjatuhan dan teriakan Arina yang keras membuat Arya yang baru datang dari kerja dan baru saja memasuki ruang tamu menjadi tersentak kaget dengan cepat dan sedikit berlari Arya segera masuk ke dalam kamar pribadinya. Tanpa menunggu lama Arya segera mendobrak pintu yang tidak terkunci memudahkan Arya untuk membuka pintu. Arya tersentak kaget ketika mendapati istrinya lagi menangis sesenggukan.


"Arina apa yang terjadi?"tanya Arya khawatir.


Sedangkan Arina yang ditanya tidak sedikitpun menjawab, bahkan Arina justru berlari keluar kamar dengan segera membuka pintu kamar tamu dan menutupnya. Arya hanya menggelengkan kepala melihat sikap aneh dari istrinya tidak ada hujan tidak ada angin berlaku dan bersikap begitu dengan sangat sabar dan telaten Arya memunguti semua benda benda yang jatuh berserakan di Lantai tidak ada rasa malas ataupun kecewa melihat apa yang telah di lakukan istrinya, Arya sangat paham dan mengerti Arina memiliki emosi yang tidak stabil pernah sekali Arya membawa ke seorang dokter dan dokter itu berkata Arina tidak sakit apa apa akan tetapi dia memiliki depresi yang tinggi, selesai membersihkan seluruh ruangan kamar yang berantakan Arya segera membersihkan dirinya yang terasa lelah setelah seharian bekerja di kantor kemudian menyiapkan makan malam untuk dia dan Arina


*******


Bima melajukan motornya dengan kecepatan sedang yang kemudian menghentikan nya di pinggir jalan, Bima mengeluarkan sebatang rokok dan korek api sesuatu yang jarang atau bisa di bilang sudah hampir dua tahun terakhir ini Bima tinggalkan demi, Seila, yang tidak suka dengan pria perokok entah kenapa kekalutan hatinya membuat Bima ingin sekali merokok sesuatu yang aneh rokok belum habis tapi dengan muda dan dengan santainya Bima membuang dan menganti dengan yang baru,


hampir satu press batang rokok kandas dalam waktu yang singkat tinggalah satu batang rokok yang masih tersisa, Bima kembali menyala kan korek api dan menghisap rokok yang tinggal satu batang, entah bosan entah tidak berkeinginan ataupun iseng.


Bima membuang satu batang rokok yang baru saja di hisapnya, tapi naas rokok itu mengenai orang yang lewat dan kebetulan yang lewat adalah para anak muda.


"Woi...!" lihat lihat Kalau mau membuang kuntum rokok,"


Bukan nya Bima minta maaf dan menggakui kesalahan justru dengan congkak nya berkata.


"Ini jalan milik umum suka suka aku mau ku buang kemana,"


"Brengsek, mau cari penyakit rupanya dirimu,"


"Betul cepat minta maaf pada kami,"


"Enak saja minta maaf, minta maaf untuk apa, tidak sudih aku,"


"Kauu.. !"


"teman,ayo, kita beri pelajaran orang ini,"

__ADS_1


"Ayo,"


Dengan gerakan sangat cepat kedua laki-laki itu segera memberikan pukulan dan tendangan kepada Bima. Mereka memukul dan menendang tanpa Ampun. Bima sosok pemuda tampan yang jago dalam karate dan bela diri yang selalu bisa menggalahkan musuh musuhnya kini jatuh tersungkur dengan tanpa mampu memberikan perlawanan. Aksi kedua pemuda itu sangat menyita perhatian orang orang yang kebetulan melintasi jalan itu, sehingga Bima yang sedang tersudut dengan penuh luka memar menjadi tontonan gratis para penggunjung, meskipun ada di antara mereka yang memberikan semangat pada Bima agar bisa membalas kedua orang itu, tak bisa membangkitkan semangat dan kekuatan dari Bima, jeritan dan teriakan dari para penonton terus saja terdengar dan kedua orang itu memukuli Bima dengan membabi buta.


Tampak dari kejauhan dua orang yang lagi mengendarai mobil tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


"Ndet, bagaimana kita bisa lewat itu di depan ada kerumunan apa sih,"


"Coba aku cek, turun dulu mungkin ada kecelakaan, sehingga mereka berkerumun begitu."


"Ya, cepat ya, ini kita sudah sore lho,"


"Tenang, akan ku lihat,"


Dengan cepat Bondet turun dari mobil dan melangkah menuju kerumunan di mana banyak orang yang lagi berdiri.


"Permisi, numpang tanya ada apa kok pada kumpul ramai ramai di sini?"


"Oh, itu ada anak muda yang sedang di hajar dua orang pemuda lain,"


"Sudah, tapi tidak bisa dua orang pemuda itu seperti orang kalap kamu pun cuma bisa menonton, kasian,"


"Kalau begitu, permisi aku mau lihat, permisi...!" permisi...!" beri aku jalan, ini tempat umum jangan bergerombol di sini itu bisa menghalangi pejalan yang mau lewat, ayo, bubar bubar,"


Sedikit demi sedikit kerumunan orang itu mulai mundur dan menjauh pergi, ketika Bondet sudah berada di depan alangkah terkejutnya dia ketika tau siapa sosok pemuda yang sedang di hajar dua pemuda itu.


"Kak Bima!" stop..! stop..apa yang kalian lakukan pada temanku, berhenti," karena mereka tidak mau berhenti maka dengan cepat Bondet pun melakukan serangan pukulan yang membuat kedua orang itu dalam sekejap jatuh terpental, Bondet segera membantu Bima untuk bangkit,"


"Kak Bima, kenapa kau bodoh sekali!" kenapa di serang diam saja, lawan mereka,"


Bima hanya **tersenyum kecut.


"Untuk apa?"biarkan saja toh ngak sakit,"

__ADS_1


"Gila , loe, babak belur begini bilang tidak sakit,"


Ketika Bondet dan Bima lagi berbincang bincang kedua orang yang di serang Bondet sudah bangkit dan hendak melakukan serangan berikutnya, akan tetapi serangan mereka gagal ketika kaki Bondet menyapu lantai dimana Bondet melakukan serangan terlebih dahulu dengan kaki di sapukan ketanah dan dengan gerakan cepat memutar membuat dua orang itu langsung ambruk ketika kaki mereka tersapu tendangan kaki Bondet dari arah bawah. Melihat mereka tersungkur Bondet segera bangkit dan berkacak pinggang.


"Gimana?mau ku pukul lagi hah?"


"Gawat...!" orang itu bisa karate gara-gara tendangan bawahnya, hidungku yang mancung jadi pesok gara-gara mencium tanah,"Dengus salah seorang dari mereka.


"Benar aku juga merasakan sakit, yang luar biasa hidungku yang mancung ke dalam semakin rata,ayo, kita kabur saja,"


"Ayo...!"


Kedua laki-laki itu bangkit sambil memegangi hidung mereka yang terasa sakit tak lama kemudian mereka mengambil langkah seribu.


"lari......!"


Sementara Iqbal yang baru saja turun dari mobil karena penasaran Bondet sangat lama tiba-tiba terperanjat kaget ketika melihat siapa yang bersama Bondet.


"Kak Bima..!" Ndet ada apa dengan Kak Bima?'


"Itu, di hajar dua orang itu tadi,'


"Lho bukannya, kak Bima lebih pandai dari kita karatenya, kenapa Bisa babak belur begitu, aku tidak percaya kak Bima bisa kalah,"ucap Iqbal sambil menggeleng geleng kan kepala nya tanda heran.


Bondet yang geram dengan tingkah culun iqbal segera menghampiri sambil memukul pelan kepala sahabatnya itu.


"Mau ngak babak belur gimana orang kak Bima diam saja kayak patung di hajar mereka itu,"


"Ooooh, jadi kak Bima ngak melawan mereka begitu?"


"Ya, ngak, untung aku datang pada waktu yang tepat, coba kalau terlambat sudah out kak Bima, mereka orang orang yang tak mengenal Ampun,"


"Waduuh, kalau sampai kak Bima out, gimana nasib kita,"

__ADS_1


"Halah, malah lebay, ayo, bantu aku bawa kak Bima ke mobil,"


"Ok, siap komandan," ucap Iqbal sambil terkekeh.


__ADS_2