Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.113. MINGGAT


__ADS_3

Rencana yang sudah tersusun dengan matang membuat Arina selalu tersenyum senang dan puas dengan hasil yang dia dapat. Setelah semua keperluan dia siapkan Arina dengan menggunakan taksi menuju ke Bandara, saat itu juga, karena semakin cepat maka akan semakin baik hasil yang akan dia dapat dan kemungkinan tercapai tujuan nya akan lebih mudah. Sebelum terbang Arina menyempatkan diri menghubungi Novi, temannya yang sedang menjaga Suaminya di luar Negeri untuk memulihkan kesehatan nya, tidak berapa lama sambungan telepon pun terhubung.


"Halo! Nov, ini gue,"


"Iya, aku tau, ada apa?"


"Aku, cuma mau memberitahu mu, jangan khawatir kan Boksp loe, karena Bokap loe sudah ada yang mengurus dan menjaga,"


"Apa, maksud mu? bukankah seharusnya yang menjaga itu kamu Ar,"


"Loe lupa, apa bego sih Nov!" masak gue yang akan menjaga, tujuan gue bukan untuk menjaga Bokap loe tapi untuk mewujudkan impian gue,"


"lalu, apa rencana loe sekarang?"


"Gue, mau ke luar Negeri,"


"Oh, loe mau ke sini baguslah kalau begitu,"


"Ngapain, aku ke situ, jelas bukan ke situ lah,"


"Trus, ke mana?"


"Rahasia, yang penting gue sudah ngabari loe agar loe ngak binggung nyari gue dan tenang saja ATM loe, banyak transferan dariku jadi kamu bisa mempergunakan untuk keperluan apapun termasuk untuk keperluan loe dan Arya."


"loe, bener bener kelewatan Ar, masak gue yang ngurus laki loe,"


Terdengar suara tawa dari sebrang yang sangat keras dan nyaring sehingga suaranya bisa memekakkan telinga.


"Anggap saja itu bayaran dari loe, yang sudah gue bantu untuk ngelunasi hutang."


"loe bener bener deh Ar, emangnya apa sih tujuan mu?"


"Sudah, ngak usah kepo kamu kerjakan saja tugasmu menjaga Arya, sudah ya aku tutup telpon nya sebentar lagi jadwal penerbanganku,"


Tanpa menunggu jawaban Arina segera mematikan telponya. Novi merasa sangat kesal dengan sikap dan perintah Arina yang sangat memaksa, tanpa mau memahami, karena suatu keterpaksaan untuk melunasi semua hutang yang telah Ayah nya lakukan terpaksa Novi bekerja sama dengan Arina yang dulunya di anggap santun dan baik ternyata sangat licik dan ambisius. Novi menyandarkan tubuhnya di kursi sofa dekat Ranjang Arya di mana laki-laki malang itu masih tertidur karena dokter masih selalu memberikan obat tidur agar Arya bisa beristirahat.


Novi memandangi wajah tampan Arya yang malang, bukankah ini juga anugrah dan sudah seharusnya Arina syukuri karena mendapat kan laki-laki yang kaya juga tampan lalu kenapa masih memburu dan mengejar cinta lamanya seberapa menarik sih, laki-laki yang pernah menjadi kekasih Arina itu, Novi masih asik berfikir dan bicara sendiri dengan hatinya, berkali-kali Novi menghela nafas panjang dan menghebuskan nya dengan kasar, kemudian


Novi menarik kursi dan duduk di dekat Ranjang Arya, karena sangat lelah berfikir akhirnya Novi pun tertidur dengan pulas.


Ketika Novi sedang tertidur rupanya Arya terbangun dari tidurnya dan langsung terperanjat kaget ketika menyadari ada wanita lain yang sedang tidur di samping Ranjang nya.


"Hei, mbak bagun,"


Karena tak ada jawaban kembali Arya memanggil sambil menyentuh tangan gadis itu, merasa ada sesuatu yang menyentuh tangannya dengan cepat Novi terbangun.


"Arya! kau sudah sadar,"tanya gadis itu.


"Kau, juga mengenal namaku, siapa kamu?"


"Oh, aku temannya Arina,"


"Oh, temannya, sekarang di mana istriku,"


"Minggat,"

__ADS_1


"Apa, itu minggat,"tanya Arya.


Novi yang menyadari jika ucapannya tidak akan bisa di pahami orang kota yang bukan berasal dari Jawa langsung membekap mulutnya yang telah keceplosan bicara.


"Untung, suami Arina bukan orang Jawa jadi aman dia ngak bakalan ngerti artinya," Gumam Novi dalam hati.


"Mbak, apa itu minggat?"


"Oh, itu....anu...itu artinya sibuk ya sibuk,"


"Oh, sibuk maksud nya, kapan dia akan menjenggukku,"


"Waduh, mas aku tidak tau, jadi jangan tanya tanya selalu,"


"Ok, kamu kenapa di sini,"


"Ya, nemenin kamulah, kan istrimu lagi....


"Iya, aku ingat istriku lagi minggat kan


"Sip, bener itu," ucap Novi sambil senyum senyum,"


"Mbak, maafin jadi ngrepotin mbak gara gara istriku minggat,"


"Ya, gak apa apa, cepat sembuh saja biar kamu tidak merepotkan aku lagi,"


"Mbak, terpaksa ya, nemenin aku di sini,"


"Ya, begitulah,"


"Sudahlah, jangan membahas itu lagi,"


"Mbak, kakiku lumpuh ya kok tidak bisa di gerakkan,"


Novi yang kesal tiba-tiba menjadi iba mendengar keluhan Arya.


"Gak papa, asal rajin latihan kau pasti bisa berjalan lagi."


Arya mengagguk dan tersenyum mendengar ucapan Novi.


"Mbak, siapa namanya kalau boleh tau,"


"Aku , Novi,"


" Trimakasih, mbak Novi,"


"Kalau kau, butuh sesuatu bilang padaku nanti aku bantu,"


Mendengar ucapan Novi Arya mengagguk dan tersenyum.


******


Taksi yang di tumpangi Bima Dan Seila sudah sampai setelah memberikan uang kepada sopir taksi, Bima dan Seila berjalan masuk ke dalam.


"Pak, jangan lupa nanti jemput kami lagi,"

__ADS_1


"Iya, mas,"


"Ayo, sayang kita masuk,"


"hmmm, yang lagi di mabuk cinta bergandengan tangan terus seperti prangko,"


Seila yang mendengar ledekan Wina yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka segera melepaskan genggaman tangan Bima.


"Ngomong, apaan sih Win, norak tauk,"


Wina terkekeh mendengar perkataan Seila.


"Bim, aku pinjem Seila sebentar ya, kamu boleh duduk dan melihat lihat butik baruku ini,"


"Boleh, tapi jangan lama-lama,"


"Yaelah, berangkat saja belum, sudah di bilang jangan lama-lama, di tahan dulu mesra mesraanya jangan terlalu di ekspos ke publik bisa gawat,"


"Gawat, kenapa Win?"


"Gawat bagi yang jomblo kuwadrat ngak tahan,"


"Oh, seperti kamu juga ya?"


"Lho, kok aku?"


"Kamu kan juga jomblo Win,"


. Mendengar ledekan Bima Wina langsung melotot seolah-olah siap menerkam.


"Ayo, Seila! tinggalin tuh Arjuna mu biar sekali kali ngerasain jomblo,"


Seila hanya tersenyum melihat kelakuan Bima dan Wina yang kemudian mau berjalan menggikuti Wina.


"Sayang, tunggu, sebentar,"


Mendengar panggilan Bima Seila pun menghentikan langkah kakinya.


"Ada, apa Kak?"


"Win coba lihat,"Seru Bima.


Wina yang tadinya beejalan berhenti dan menoleh ke belakang di mana Bima memanggilnya, sedangkan Seila di buat binggung, tadi di panggil tapi di cuekin maksdnya apa sih bikin orang kesel saja. Ketika Wina sudah menoleh dengan cepat Bima mendaratkan ciuman di pipi halus Seila.


"Tuh, masih bisa kok mesra mesraanya,"


Wina terkekeh melihat sikap Bima dengan cepat di raihnya tangan Seila dan di bawahnya dia pergi jauh dari Bima, Wina membawa Seila pergi ke lantai atas di mana sudah berjajar gaun gaun indah dengan perancang perancang yang terkenal.


"Wah,bagus sekali Win?"


" kurasa ini, akan lebih sempurna indahnya jika kau mau jadi foto model ku,"


"Apa?Aku jadi foto model mu, ngak . .ngak bisa Nanti kak bima marah,"


"Kalau begitu tugasmu, merayu Bima agar mengijinkan mu mau ya, ini cocok banget sama kamu.

__ADS_1


"ya, baiklah, tapi aku ngak bisa janji bakal di ijinkan,"ucap Seila menjelaskan.


__ADS_2