Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.142.GUGUP.


__ADS_3

Sinar mentari belum muncul dari ufuk timur akan tetapi Bima Sudah bangun lebih awal di lihatnya sang gadis yang mirip dengan Seila masih tertidur pulas di sofa. Dengan berjinjit Bima masuk ke dalam kamar mandi dan duapuluh menit kemudian ritual mandi pun selesai.


Hari ini Bima berniat membalas apa yang telah di lakukan gadis itu kepada nya sehingga Bima tidak memiliki kemampuan untuk mengusir nya, satu rencana telah tersusun matang dan siap Bima lakukan.


Selesai menganti baju dan menyisir rambutnya Bima dengan perlahan lahan keluar dari kamar dengan sangat hati-hati sehingga tidak menimbulkan suara brisik apapun yang bisa membuat gadis yang tidur di sofa itu terbangun.


Sampai di luar kamar Bima tersenyum penuh Arti, sebelum langkah kakinya menuju ke dapur. Di mana di dapur sudah menyala lampu dan sudah tersedia beberapa makanan yang sudah siap untuk dihidangkan. Rupanya Bik Inah sangat bahagia dengan kedatangan istri dari anak asuhnya buktinya hari ini Bik Inah telah menyiapkan beberapa makanan favorit kesukaan Seila.


Bima hanya bisa mengelengkan kepala melihat semua nya, kepala yang tadinya tidak gatal seakan telah banyak tumbuh dan berkembang biak anak anak kutu rambut sehingga membuat Bima harus mengaruk kepalanya. Tanpa Bima sadari mata tua Bik Inah telah menangkap keberadaan nya membuat Bik Inah tersenyum terlebih melihat rambut Bima yang basah tanpa di keringkan Bik Inah semakin tersenyum dia yakin anak asuhnya sedang dalam fase sangat berbahagia dengan sajian kenikmatan yang telah istrinya berikan.


Karena kebahagiaan dan kepuasan itulah yang membuat Bima dengan rajin masuk ke dapur yang pastinya untuk memberikan sesuatu yang menyenangkan untuk istrinya. Ketika Bima membuka kulkas yang terdapat kaca pantul di mana bisa bercermin dari kaca itu, Bima melihat ada Bik Inah di belakang nya dengan gerak Refleks Bima membalikkan badan.


"Bik Inah..!"Sejak kapan Bik Inah ada di sini."


"Sudah dari tadi, Den Bima kenapa sepagi ini ke dapur."


"Aku mau membawakan makanan untuk Seila ke atas."


Bik Inah langsung tersenyum penuh arti membuat Bima mengeryitkan dahinya tapi sejurus kemudian Bima pun tersenyum memahami makna senyuman dari pembantunya.


"Bik, sini!


"iya, Den."


"Kalau Non Seila bangun dan minta di bukain pintu Bibik jangan bukain ya, kasian Bik Seila semalaman melayaniku pasti capek dan aku sengaja menguncinya dari luar agar dia tidak keluyuran aku mau Seila beristirahat, Bibik paham kan?"


"Iya, Den Bibik paham."


"Bagus untuk makanannya juga aku sudah siapkan di dalam kamar jadi Seila tidak perlu keluar lagi, biar dia beristirahat dengan rileks."


"Baik, Den Bibik mengerti."


Bergegas Bima masuk ke dalam kamar nya dengan membawa beberapa makanan dan buah serta secangkir jus dengan sangat perlahan-lahan Bima membuka pintu bahkan tidak terdengar sama sekali, setelah semua di rasa cukup Bima segera keluar dari dalam kamar dan menguncinya dari luar.


sampai di bawah tangga di ruang tamu Bima kembali bertemu dengan Bik Inah.


"Bik..!" aku pergi kerja dulu ya dan ingat jangan di buka kan pintu nya meskipun Seila berteriak atau menangis, Bibik sayang dengan Non Seila kan?"


"Iya, Den, Bibik sayang dan Bibik juga mau Non Seila beristirahat, Bibik janji tidak akan membuka kan pintu untuk Non Seila."

__ADS_1


"Bagus, aku pergi dulu ya, Bik."


Di dalam mobil Bima tersenyum penuh kepuasan.


"Rasakan, itu! kamu tidak akan bisa keluar rumah seharian, mau coba coba bermain main dengan ku, harus pintar dan cerdas kalau tidak kamu sendiri yang akan merasakan susahnya."Gumam Bima dalam hati.


Mobil semakin menjauh dari rumah sementara di dalam kamar Seila mulai membuka matanya pertama yang di lihat adalah Ranjang di mana Bima tidur, Seila sudah mendapati ranjang itu kosong dan bersih dengan cepat Seila turun dari sofa dan celingukan siapa tau Bima ada di dalam kamar mandi tapi ternyata dugaannya salah tidak ada siapapun di dalam kamar mandi dan Seila mendapati ada beberapa makanan yang sudah siap di atas meja, wajah cantik Seila langsung berbinar dan tersenyum bahagia.


"Bima ,cowok yang Romantis juga perhatian dia sangat tau setelah aku bangun tidur pasti aku lapar, sangat menyenangkan makanannya langsung di bawakan ke kamar aku harus cepat mandi agar bisa cepat menyantap hidangan yang mengiurkan ini.


Duapuluh menit sudah Seila melakukan ritual mandi, setelah menganti bajunya yang kotor dengan baju yang bersih Seila segera menikmati makanan yang sudah tersaji di meja, dengan lahap Seila makan dan minum setelah kenyang Seila berniat keluar kamar. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika mendapati pintu kamarnya terkunci dari luar. Seila mengedor gedor pintu berharap ada yang membuka kan pintu.


"Bik..!" buka pintunya, aku mau keluar."


Karena tidak ada Jawaban Seila segera menelpon telpon Rumah lewat hapenya.


"Kring....kring ..kring!"


"Halo..!"


"Halo, Bik !"cepat buka pintu kamar aku mau keluar."


"Apa?" Melayani, melayani apa Bik aku ngak paham."


"Non Seila tidak usah malu malu dulu Bibik juga pernah muda, sudah ya , Non Seila beristirahat saja dulu."


"Klotek."


Terdengar suara telpon rumah pun di matikan, tinggallah Seila di dalam kamar dengan keadaan geram dan kesal


"Bisa bisanya bilang aku kecapekan karena habis melayani, kau benar benar Licik Bima, kau sengaja mengurungku di sini dengan alasan yang sangat memuakkan, sejak kapan kau menyentuh ku sejak kapan aku melayanimu. Sekarang aku harus bagaimana aku tidak bisa memata matainnya terpaksa harus meminta bantuan pada detektif mata duitan itu. Apa boleh buat semua harus kulakukan agar aku bisa mengawasi nya.


Sementara Bima yang hari ini ada janji dengan Hendrato melajukan motornya dengan kecepatan sedang. hari ini Bima akan bicara tentang kebenaran nya. Semalam Ningsih sudah mengirimkan informasi tempat dimana Bima dan Hendrato bisa bertemu. Restoran cita rasa istimewa, itulah nama tempat yang di katakan Ningsih di dalam surat pesan nya, Bima menunggu kedatangan Hendrato dengan memesan secangkir kopi untuk menemaninya, sambil menunggu Bima sengaja menelfon Ningsih rasaanya rindu bila sehari saja tidak bertemu dan mendengar suaranya, Tidak menunggu lama sambungan telepon pun terhubung.


"Kring...kring...kring .!"


"Halo..!"


Suara sapaan dari sebrang yang langsung membuat jantung Bima berdegup dengan kencang terlebih panggilan telpon yang dia lakukan melalui video call dapat melihat dengan jelas wajah Ningsih yang baru saja mandi dengan Rambut basah terurai membuat Bima menelan air liurnya, karena gugup Bima merasa tidak PD jika bertatapan langsung dengan NIngsih Al hasil Bima memilih mematikan kamera nya.

__ADS_1


"Halo .!Ning kamu lagi apa?"


"Bukannya pak Boss juga Baru saja tau kalau saya habis mandi, kenapa kamera nya di matikan?"


"Itu, gambar nya tidak begitu jelas jd males kalau ngobrol lewat video call.


"Oh, hpnya Bapak rusak atau jangan jangan males lihat tampang ku yang tidak selevel dengan Bapak."


"Hus.! Ngomong apa kamu itu, sudah apa Acara mu hari ini."


"Tidak ada, Bapak bagaimana apa mas Hendrrto sudah datang?"


"Belum, seperti nya dia akan datang terlambat untuk itu aku merasa bosan, jd telpon kamu."


"Oh, begitu !"jadi telpon saya kalau lagi bosen saja, wah cuma jadi orang yang ketika di butuhkan doang dong?"


"Ningsih...!" Ngomongnya kok begitu sih, tentu saja tidak."ucap Bima lembut.


"Hhem..!"


Bima segera menghentikan percakapannya ketika mendengar suara dehem seseorang yang ada di depannya dan Langsung saja Bima menelan ludahnya dengan kasar ketika menggetahui siapa yang datang.


"Ka-kau..! sudah datang, sejak kapan kamu berada di sini." tanya Bima gugup khawatir kalau kalau Hendrato menggetahui siapa yang dia ajak bicara dalam telpon.


"Cukup, lama, mas Bima sangat sibuk bicara di telepon sehingga tidak menggetahui kedatangan saya."


Deg...!"


Hendrato bilang sudah cukup lama apakah Hendrato juga tau siapa yang Aku telpon, jika tau mampus lah aku, sementara telpon penghubung antara Bima dan Ningsih belum sempat Bima matikan, suara teriakan Ningsih masih bergema di sana.


"Halo..! Halo..! pak, woi...kenapa diam saja Halo..?"


Maksud hati Bima mau mematikan telponya diam diam tapi yang terjadi justru spiker suaranya keluar sehingga panggilan telpon itu terdengar juga oleh orang yang ada di depannya. Hendrato memandang Bima dengan tatapan penuh tanda tanya membuat Bima gugup seolah habis berlari jauh sehingga menggeluarkan keringat dingin di dahinya.


"Mas, Bima! siapa itu yang berteriak di telpon? kenapa mas Bima diam saja."


"In-ini..! telpon tidak penting ini dia cuma pengaggu biar kumatikan."


"Tit..! suara telpon dimatikan, sementara di seberang sana Ningsih mengepalkan tangannya dengan raut wajah yang memerah, seolah olah sedang menahan amarahnya yang lagi naik tinggi setinggi gunung Himalaya.

__ADS_1


__ADS_2