
Ningsih merasa kedua pipinya menjadi panas dengan kesal di lemparkannya hape itu ke atas Ranjang.
"Menyebalkan sekali, apa dia bilang! telpon tidak penting, enak saja ngatain tidak penting, kalau kamu berani telpon lagi tidak akan aku angkat biar tau rasa tuh, Boss galak seenaknya saja mematikan telpon dengan bilang tidak penting, lagi pula penakut amat sih, cuma bilang telpon dengan karyawan ku apa susahnya, kenapa justru bilang telpon tidak penting, Boss angkuh seperti dia enaknya ku kerjain saja, dia pikir aku trima dan diam saja di gituin, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu, Pak Bima, Boss yang galak juga menyebalkan." Dengus Ningsih kesal sambil menenteng tas kecil yang kemudian dia selempang kan di pundak, Ningsih keluar kamar.
Suasana Rumah sangat sepi sang Ayah pasti pagi pagi sudah pergi ke ladang dan sang ibu juga pasti sibuk dengan jemuran di belakang Rumah.
"Bu..! Ningsih pergi dulu ya."
"Kemana, Nduk! bukan kah ini hari libur."
"iya, Ningsih tidak pergi kerja, Ningsih cuma mau jalan-jalan melihat lihat kota ini."
"Sama siapa, Nduk!"
"Sendiri, Bu!"
"Ya, sudah hati-hati dan jangan pulang malam malam Nanti Bapakmu marah."
"Iya, Bu! Ningsih akan pulang secepatnya."
"Ya, sudah, Ningsih pergi dulu ya Bu, Assalamualaikum."
"Iya, hati-hati Nduk, Walaikumsalam."
Setelah mencium tangan Ibu nya Ningsih langsung melangkah pergi menuju Halte Bis yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
"Geogel map, pasti bisa melacak tempat di mana Boss galak itu berada."
Beberapa menit Ningsih mengotak atik hapenya sambil menunggu Bis datang setelah menemukan lokasi yang di cari nya NIngsih segera Naik Bis.
****
Sementara di sebuah Restoran.
"Apa yang ingin mas Bima bicarakan? seperti nya sangat penting?"
Bima tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan Hendrato.
"Duduklah, mau pesan apa? biar ku pesankan agar kita bisa ngobrol dengan rileks."
"jus jeruk, saja mas! biar segar."
__ADS_1
"Baiklah."
Bima melambaikan tangan kepada sang pelayan, dengan cepat pelayan itupun datang menghampiri, Bima segera memesan minuman jus jeruk dan beberapa makanan ringan karena hari masih pagi breakfast roti bakar dan stik daging sapi itulah yang di pesan Bima untuk sarapan paginya bersama Hendrato.
"Aku ingin membicarakan sesuatu."
"Apakah itu sangat penting mas?"
"Iya..!"
"Kalau mas Bima mau membicarakan hal yang penting, Nanti kita bicara di pantai saja rileks dan tenang, kalau di sini berisik banyak orang?"
"Baik, aku setuju, mari kita makan dulu."
Tiga puluh menit kemudian mereka melangkah keluar dari restoran itu masing-masing mengendarai mobilnya sendiri sendiri. Setelah kepergian Bima dan Hendrato dari Restoran itu sebuah Bis berhenti dan keluarlah seorang gadis.
"Menurut Geogel map mereka ada di sini?" lalu duduk di sebelah mana mereka?"
Ningsih yang sudah sampai di Restoran tempat Bima dan Hendrato makan kini dia celingukan melihat kesekliling ruangan, Namun tak juga di jumpai orang yang sedang di cari nya, dengan malas Ningsih keluar dari dalam Restoran dan mengambil hapenya kembali.
"Gimana sih, mbah Geogel kok ngak tepat jawabannya?" katanya ada di sini tapi faktanya ngak ada dasar Mbah Geogel." Sungut Ningsih kesal.
"Apa, jangan jangan aku salah baca?coba sekali lagi lah, siapa tau tadi salah baca."
"Tuh, kan...!" salah baca, kenapa tadi arahnya restoran sekarang pantai, ya! apa hapeku sudah mulai rusak, harus buang uang lagi aku jadinya menyebalkan sekali sih, mereka berdua itu, mana uang recehku tinggal dua ratus ribu, smoga cukup."desis Ningsih lirih sambil kembali melangkah menuju Halte Bis di mana Banyak orang yang naik Bis juga menunggu di situ.
*****
kedua mobil milik Bima dan Hendrato sudah sampai di pantai, Bima dan Hendrato turun dari mobilnya masing masing.
"Mari mas kita duduk di sana?"
Ajak Hendrato kepada Bima ke tempat duduk yang ada di sekitar pantai. Karena hari masih lah siang dan kebetulan hari ini hari Minggu banyak sekali para penggunjung pantai yang datang silih berganti.
"Silahkan..apa yang Ingin mas Bima bicarakan."
Untuk beberapa saat Bima diam dan hanya tersenyum.
"Sebenarnya, aku tidak tau mau memulai bicara dari mana, kalau boleh tau, apakah Mas Hendrato mencintai Ning sih?" tanya Bima terputus rasanya berat dan sesak jika harus menyebut nama itu untuk orang lain.
"Tentu saja, mas! saya sangat mencintai nya sebentar lagi kami akan menikah dan mas Bima akan kami undang sebagai tamu spesial kami."ucap Hendrato bersemangat.
__ADS_1
Sementara Bima hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Hendrato ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk ke dalam jantung nya sehingga terasa sulit untuk berkata apa apa lagi, selain memberikan senyum untuk menutupi semua ke gundahan hatinya.
"Oh, ya! mas Bima mau membicarakan apa?"
"Ak-aku! mau mengucapkan selamat saja."ucap Bima gugup apa yang awalnya ingin dia bicarakan menjadi lenyap entah kemana, rasaanya sangat sulit untuk menggungkap nya.
"Oh, kirain ada yang penting apa begitu bikin hati deg..deg kan saja mas Bima ini ! ucap Hendrato dengan sebuah senyuman yang penuh arti yang tak pernah Bima tau apa arti dari senyuman Hendrato itu.
"Ting...!" sebuah pesan masuk
Hendrato segera membuka isi kotak pesan, bibir nya langsung tersenyum menggetahui siapa yang baru saja berkirim pesan padanya sedangkan Bima menatap dengan penuh kegelisahan ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba mengusik relung hati nya.
Sedangkan Hendrato tersenyum sambil melirik Bima, hatinya bersorak penuh kemenangan, Hendrato berpura-pura batuk.
"Uhuk...uhuk..!" membuat Bima menoleh dan dengan cepat memberikan satu botol minuman mineral miliknya. Bima seorang pelatih karate yang selalu menjaga kesehatan sehingga dia memahami betapa pentingnya air putih untuk kesehatan tubuh sehingga kemana dan di manapun saku jas jaket Bima selalu terselip minuman dalam botol kecil.
"Minumlah."
"Trimakasih, mas!" Hendrato segera mengambil botol minuman kecil yang di berikan Bima kepada nya.
"Entah, mengapa mas, baca pesan Ningsih aku jadi tersedak begini, habis nya dia bikin hatiku tertawa, aku jadi gemas padanya mas."ucap Hendrrto bersemangat sementara Bima mengepalkan tangannya diam diam, rasaanya tak rela ada orang lain yang bicara gemas pada istrinya tapi sekarang apalah dayanya, Bima tak bisa berbuat apa-apa, terlebih Ningsih kini hilang ingatan sudah pasti sangat sulit baginya untuk menjelaskan semuanya.
Seolah tidak memahami apa yang dirasakan Bima Hendrato masih terus saja bicara.
"Mas, Ningsih, seperti nya juga sangat mencintai dan tidak bisa jauh dariku."
Ucapan Hendrato yang mengatakan Ningsih sangat mencintai Hendrato membuat Bima tiba-tiba terbatuk.
"Uhuk...uhuk...!"
"Mas, Bima! baik baik saja kan, ini minum beruntung tadi aku tidak menghabiskan nya, ngak papakan, mas minum bekas sisa ku?"
Tanpa bicara Bima langsung menyambar botol mineral kecil yang masih tersisa banyak karena Hendrato hanya minum sedikit sebab dia tadi cuma pura pura batuk berbeda dengan Bima yang beneran batuk, dengan cepat di minum nya air putih mineral itu sampai habis.
"Mas, Bima, batuk apa haus kok bisa tandas begitu air nya." tanya Hendrato geli.
"Dua duanya," ucap Bima dingin.
Melihat Raut wajah Bima yang tiba-tiba berubah merah yang mana Hendrato menyadari jika Bima dalam keadaan marah memilih diam. Melihat Hendrato yang langsung diam Bima segera menyadari kebodohannya agar suasana tidak menjadi kaku dan tegang Bima pun tersenyum.
"Aku, memang seperti itu kalau batuk pasti' ku minum habis," ucap Bima sambil tertawa menetralkan suasana agar Hendrato tidak curiga kalau dia sedang marah. Akhirnya Hendrato pun tertawa.
__ADS_1
"Ningsih menuju ke sini, mas?"
"Ap-apa? Ningsih ke sini!" Bagaikan orang yang habis minum minuman keras Bima terhuyung ke belakang syok tak percaya dan kaget jika Ningsih ada di sini.