Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.135.MENGUNDRKAN DIRI


__ADS_3

Melihat tawa ceria gadis di depannya hati Bima serasa bahagia, meskipun dengan wajah yang berbeda dan tak lagi sama Bima masih bisa merasakan betapa dia sangat mencintainya. Tidak ada yang tau jika Seila yang kini berubah nama menjadi Ningsih adalah istrinya bahkan Hendrato yang memberi tau rahasia Ningsih pun tidak tau jika Bima adalah suami sahnya. Hendrato hanya tau Bima adalah orang yang telah menolong nya dari Amarah kebencian Seila dua tahun yang lalu.


Percakapan antara Bima dan Ningsih yang cukup keras, ternyata membuat si pemilik Rumah terganggu dan penasaran ada suara apa di luar kok brisik sekali, ketika pintu di buka.


"Ningsih..!" kamu sudah pulang nduk?"


" Iya Bu!


"Itu siapa, yang dengan mu itu."


"Dia...


"Saya, boss nya Bu, selamat malam," sapa Bima sopan.


"Oh, ya, selamat malam silahkan masuk?"


"Trimakasih, Bu! dengan cepat Bima menggikuti langkah Bu Ningsih untuk masuk ke dalam dan ketiika langkah kaki Bima berdiri tepat di depan Ningsih Bima tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Ningsih mendelik.


"Ibumu, membolehkan aku masuk,"ucapnya lirih.


"Silahkan, Bapak duduk !


"Trimakasih, Bu."


"Ning, buatkan kopi buat boss mu dan siapkan makan malam."


"Tapi, Bu! tadi pak Bima bilang sudah kenyang dan mau cepat pulang katanya ada urusan keluarga."


Bima yang tidak menyangka Ningsih akan bicara bohong, menatap wajah Ningsih dengan Tatapan mata yang tajam sedangkan Ningsih melihat tatapan mata Bima yang seolah olah protes dengan apa yang Ningsih katakan cuma membalas dengan senyuman yang di sertai dengan kedipan mata juga.


"Satu sama pak Boss." Gumam Ningsih dalam hati.


Sedangkan Bima menelan ludahnya dengan kasar.


"Apa benar, pak Bima buru buru karena ada urusan keluarga?"tanya Bu Ningsih ingin mendapatkan kepastian.


"E- i-iya, Bu!" saya buru buru Nih!


"Kalau, begitu, mari pak saya antar ke luar!"ajak Ningsih dengan senyum penuh kemenangan sedangkan Bima mau tidak mau harus bangkit berdiri dan melangkah ke luar.


Di depan pintu mobil Ningsih berdiri sambil menyilang kan kedua tangan nya di depan dada.


"Kamu, curang! seru Bima kesal.


Ningsih menurunkan kedua tangannya yang tadinya menyilang di depan dada dengan senyum penuh kemenangan Ningsih segera membungkuk memberikan hormat bagaikan seorang prajurit kepada seorang raja.


"Silahkan, pak! hati-hati semoga selamat sampai tujuan."


Ucapan Ningsih yang lembut tapi memanaskan wajah dan kedua telinga, Bima semakin di buat gemas dengan sikap Ningsih. Dengan tersenyum kecut Bima mengagguk.


"Trimakasih, kali ini kamu yang menang tapi lihat apa yang akan kulakukan padamu besok."


"Kita lihat saja, besok pak! apa Ningsih masih bekerja pada bapak atau tidak."


"Apa maksud mu?"


Ningsih menaikkan bahunya seraya pergi masuk ke dalam rumah, tinggalah Bima yang di liputi dengan berbagai macam pertanyaan.


Malam yang dingin dengan berhiaskan gemerlap nya bintang bintang di langit menampakkan betapa indahnya alam semesta .

__ADS_1


Mobil Bima mulai memasuki pekarangan halaman Rumah. Dengan mengunakan kunci cadangan Bima membuka pintu rumah nya yang terlihat sepi tak berpenghuni.


" Mungkin Bik inah lagi menidurkan Vira, lebih baik aku cepat mandi dan beristirahat di kamar."Gumam Bima dalam hati.


Pagi hari Ningsih sudah bersiap hendak pergi ke kantor akan tetapi langkah nya terhenti ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pekarangan halaman Rumah nya, tak lama kemudian sang pengemudi mobil pun turun.


"Ningsih! apa kamu mau berangkat ,"


"Eh, mas Hendrato tumben pagi pagi sudah ada di sini."


"Iya, aku ada perlu sama bapak dan ibu, apa beliau ada?"


"Ada, mas! ayo masuk, silahkan duduk, sebentar aku panggil bapak dan ibu,"


Ningsih segera masuk ke dalam tak lama kemudian keluar lah Ibu dan Bapak Ningsih.


"Nak, Hendrato! tumben pagi sudah datang mencari ibu dan bapak ada apa Nak?"


"Begini, Bu.. !pak..! Saya berniat melamar Ningsih secepatnya, saya kasian kalau harus setiap hari bekerja sedangkan Ningsih tidak bisa di larang Kalau saya sudah menjadi Suaminya pasti Ningsih akan mau mendengar."


"ibu dan bapak setuju saja tinggal Ningsih nya bagaimana apa dia setuju' atau tidak."


"Iya, Nak kalau ibu setuju saja tapi kita tunggu Jawaban Ningsih bagaimana? tuh anaknya, sini nduk, duduk sini."


"Iya, Bu!


Setelah meletakkan kopi panas buat Ayah dan Hendrato Ningsih duduk di samping ibunya."


"Nduk, Nak Hendrato datang mau melamarmu? apa kamu mau dan sudah siap Nduk?


"Melamar ?"


"Ini, terlalu cepat, apa tidak kita tunggu satu tahun lagi, biar Ningsih bisa lebih mengenal mas Hendrrto."


"Mas, maunya secepatnya saja Ning! apa kamu keberatan?"


"Iya, Nduk! bapak maunya juga kalian itu cepat menikah saja itu lebih baik."


"Ningsih, terserah ibu dan bapak saja, jika maunya secepatnya Ningsih tidak akan menolak."


"Alhamdulillah, Ningsih mau Nak Hendrato."


"Iya, Pak! jadi bagaimana kalau dua Minggu lagi acara pernikahan nya."


"Setuju, ya Nduk!


"Iya, Bu!


"Nduk, ini sudah siang , cepat berangkat kerja, itu sudah ada Nak Hendrato kamu berangkat kerja nya di antar Nak Hendrato saja."


"Iya, Ning, Ayo mas antar kamu kerja."


"Ayo, Mas."


Sepanjang perjalanan di dalam mobil Ningsih diam seribu bahasa entah apa yang dipikirkan nya lain dengan Hendrato hatinya yang berbunga-bunga karena dua Minggu lagi Ningsih akan resmi menjadi istrinya.


"Ning!


"Iya, mas!

__ADS_1


"kamu, berhenti kerja saja ya?" kan dua Minggu lagi kita akan menikah, jadi biar mas saja yang bekerja, Ningsih di rumah sama ibu dan bapak."


"Tapi, mas?"


"Jangan khawatir, aku yang akan bicara kepada Boss mu,"ucap Hendrrto mantap sedangkan Ningsih tersenyum kecut ada rasa berat yang tiba-tiba hadir mengusik hatinya.


"Mas! trimakasih sudah mengantar Ningsih, ku rasa biar Ningsih saja yang bicara sendiri kepada Pak Bima.'


"Kamu, yakin?"


"Iya, mas."


"Ya, sudah, kalau begitu mas pergi dulu."


Di depan pintu kantor tepatnya di ruang pribadi bossnya Ningsih menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar sebelum mengetuk pintu kantor, ketika tangan Ningsih hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu sudah di buka dari dalam.


"Masuklah, tumben berangkat siang?"sapa Bima pada Ningsih yang masih diam terpaku tak percaya jika boss nya bisa tau kedatangan nya dengan sangat tepat.


"Kenapa masih, bengong masuk lah."


Mendengar aba aba dari boss galaknya Ningsih langsung masuk.


" Kenapa bapak, bisa tau saya ada di depan pintu?"


"Tuh..!"


Bima menunjukkan CCTV di mana di dalam CCTV itu semua yang terjadi di luar bisa terlihat dari dalam sementara Ningsih cengar-cengir menertawakan pertanyaan bodohnya.


Seperti Biasa Ningsih langsung mengambil peralatan untuk bersih bersih sebelum membuat kan kopi untuk boss nya, tapi kali ini Ningsih merasa aneh dengan sikap boss nya yang tiba-tiba ikut membantu.


"Kaca nya tidak usah, nsnti kamu jatuh, biar aku saja yang kerjakan."seru Bima membuat


Ningsih melongo tak percaya wajahnya langsung saja bersinar ceria, siapa sih, yang tidak senang jika pekerjaan berat nya di kurangin dalam hati Ningsih sibuk berfikir apa boss nya tau jika hari ini Ningsih akan berhenti bekerja sehingga hari ini tidak ada pekerjaan berat untuk nya. Ningsih bukanya fokus bekerja yang lain tapi justru fokus memandangi Boss nya yang lagi sibuk membantu membersihkan kaca.


Bima yang merasa dirinya seperti di awasi segera menoleh kebelakang dilihat nya Ningsih


yang masih berdiri terpaku.


"Hei! kerja kok malah bengong?"


"Kenapa, Pak Bima, hari ini baik sekali?" apa pak Bima mengetahui sesuatu?" tanya Ningsih halus membuat Bima menelan ludahnya dengan kasar, tentu saja karena dia tau Ningsih adalah istrinya makanya tak tega jika Ningsih harus bekerja berat.


"Tau, apa? aku justru tak mengerti maksud dari ucapan mu."ucap Bima gugup khawatir Ningsih mengetahui apa yang ada dalam pikirannya.


Ningsih berjalan mendekati Bima, langkah kaki Ningsih yang berjalan mendekat membuat jantung Bima tiba-tiba berdebar dengan sangat cepat.


"Apa, bapak tau, jika hari ini aku akan mengundurkan diri."


"Apa? mau mengundurkan diri, enak saja kamu sudah menandatangani kontrak tidak bisa sembarangan kamu berhenti, aku bisa menuntutmu," ucap Bima dingin rasaanya kesal jika Ningsih bilang mau mengundurkan diri.


Dengan senyum yang sangat manis bahkan dengan sangat berani Ningsih melangkah lebih dekat kepada Bima hingga jarak di antara mereka hanya limapuluh sentimeter, tangan halus Ningsih pun berani menyentuh tangan Bima membuat jantung Bima seakan mendadak berhenti berdetak.


"Apa, bapak tega mau menuntutku, seharusnya tangan bapak ini memberikan ucapan selamat kepada ku, dua Minggu lagi aku dan mas Hendrrto akan menikah."


Duaaaaarr..... Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong Bima langsung menarik tangannya


tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga.


"A-apa?Menikah..!"seru Bima dengan bibir bergetar.

__ADS_1


__ADS_2