
Agam menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, tatapan matanya tertuju pada gadis yang ada di depannya yang tidak bergeming sedikitpun dengan apa yang Agam ucapkan.
"Kamu jangan egois hanya memikirkan kesenangan dirimu sendiri, setidaknya kamu pikirkan apa yang menjadi keinginan dari orang tuamu, Mereka ingin melihat kau menikah jadi ayo kita resmikan hubungan kita ini ke jenjang yang lebih sakral, Aku berjanji Aku akan setia padamu dan tidak akan melirik wanita lain." ucap Agam memastikan.
Nafa bukannya senang dan haru Mendengar perkataan dari orang yang telah merenggut kesucian nya Akan tetapi justru merasa kesal dan memilih untuk pergi.
"Nafa..! kau mau kemana?'
"Nafa hanya menoleh kebelakang kemudian terus berjalan meninggalkan Agam seorang diri yang berada di atas balkon Pemuda berkulit sawo matang itupun mengusap kasar wajahnya.
"Dasar Cewek Aneh, semua cewek kalau sudah di tiduri pasti meminta pertanggungjawaban sang laki-laki, tapi ini dia benar-benar aneh, sedalam apa sih cinta nya pada Bima dan seperti apa cowok yang bernama Bima itu, kemarin dia datang tapi aku tidak begitu memperhatikan sehingga Aku tidak paham."keluh Agam sambil menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
sementara itu Nafa yang turun dari balkon segera menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, jujur harus Nafa akui jika sesungguhnya Agam bukanlah tipe cowok yang tidak bertanggung jawab hanya saja Agam juga memiliki sifat yang sangat manja dan selalu ingin diperhatikan untuk itu Nafa merasa Agam bukanlah tipe cowoknya.
di Ruang meja makan Nafa segera mendudukkan bokongnya di kursi kemudian dengan sangat cepat sang pembantu bergegas menghampiri serta menyediakan makan malam untuk Nafa pembantu itu segera mengambilkan nasi dan lauk kemudian diserahkan kepada Nafa.
meskipun tidak terlalu berselera untuk makan akan tetapi Nafa selalu mendengarkan setiap nasehat dari ayahnya tidak boleh melupakan makan harus makan tepat waktu dan teratur meskipun kesibukan yang kita alami sangat banyak dan padat.
__ADS_1
Agam yang sendirian di atas balkon akhirnya turun juga dan ikut masuk ke dalam ruang makan, tanpa diminta Agam dengan sendirinya duduk di depan Nafa dan meminta kepada sang pembantu untuk menyediakan makanan untuknya, dengan cepat pembantu pun langsung bergegas mengambilkan nasi dan lauk untuk Agam.
hening untuk beberapa saat membuat Agam lidahnya serasa gatal karena gadis yang ada di depannya benar-benar sangat keras kepala dan acuh bahkan tidak peduli jika dirinya sudah tidak lagi suci yang ada dalam pikirannya hanya ingin selalu bersama dengan cintanya
Agam menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan dia mulai membuka pembicaraan dia ingin agar gadis yang ada di depannya mau memahami.
"Kalau kau mau menerima pernikahan kita ini, Aku akan mengajakmu berbulan madu ke Jepang, kita akan menghabiskan beberapa waktu untuk liburan dan kamu boleh belanja apapun bagaimana?'tanya Agam yakin jika gadis yang ada di depannya pasti akan tergiur dengan tawarannya.Semua cewek di dunia ini sama yaitu ingin di manja dan di beri kemewahan untuk itu Agam akan berusaha membujuk Nafa dengan cara memberikan kemewahan dan keindahan dia yakin akan berhasil.
Mendengar ajakan Agam Nafa hanya mengangkat wajahnya kemudian menunduk lagi menikmati makan yang ada di depannya, tak tertarik mungkin itulah yang sedang dalam pemikiran Nafa.
Melihat Nafa hanya diam saja bahkan tidak bergeming sekilas memandang, sekilas mendengar setelah itu mengabaikannya membuat kesabaran Agam terkikis sehingga tanpa sadar Agam berdiri sambil menggebrak meja.
"Aku juga tidak peduli kau pikir aku mau merawat anakmu tinggal taruh di tempat asuhan selesai." ucap Nafa dengan sini.
Ternyata apa yang diucapkan Nafa lebih membuat Agam merasa geram kedua tangannya mengepal dengan kuat kemudian Agam membalikkan badan dengan segera.
"Apa kau bilang? mau menaruh anakku di pantai asuhan, lihat saja jika itu sampai kamu lakukan aku tidak akan melepaskan dirimu, kau pikir apaan, beniihku itu mahal apalagi pupuk unggul seperti diriku jangan sampai kau buat macam-macam, awas saja jika sampai Aku tau kamu hamil dan anakku kamu taruh di pantai Asuhan Aku akan buat perhitungan dengan mu akan Aku buat kamu menjadi tawanan Ranjang ku dan jika saat itu tiba kamu tidak akan pernah lagi bisa bebas, camkan itu gadis sombong."teriak Agam berapi-api yang mana justru membuat Nafa mengeryitkan dahinya dan merasa heran.
__ADS_1
"Belum juga hamil sudah marah-marah, benar-benar cowok manja dan egois lebih baik Aku minta sama Deddy agar membuang model menantu seperti dia."gumam Nafa dalam hati.
Ketika pagi menjelang tepatnya di dalam Rumah besar tampak seorang wanita paruh baya sedang bermain dengan seorang anak kecil berambut keriting berkulit hitam manis sedang sibuk menemani bermain.
"Halo sayang lagi mainan apa ini, Bik, apa hari ini Kak Bima juga tidak akan pulang?'
"Kemarin bilang belum bisa pulang Non katanya masih ada urusan."
"Sama Aku juga ngomong begitu Bik, ya sudahlah kalau begitu Aku pergi ke kamar dulu tolong Bibik tidurkan Vira."
"Baik Non."ucap santun wanita paruh baya yang sudah lama bekerja bersama nya, dia adalah seorang pengasuh Bima sejak kecil.
Seila menaiki tangga dan mendudukkan bokongnya atas Ranjang, Seila tau jika Bima sebenarya pergi untuk mencari dalang orang yang telah menculik anak angkatnya.
Setelah sekian lama tak ada kabar juga tidak ada berita yang bisa Seila ketahui tentang keberadaan dari Mama kandung Vira yang mana setelah kejadian yang menimpa dirinya yang membuat hancur ponselnya ditambah dengan dirinya yang cukup lama hidup dalam lupa ingatan menbuat hubungan komunikasi dirinya dan Mama Vira terputus, semua sudah dia lakukan.
Sudah mencari dan mengecek semua isi ruangan kamar berharap menemukan kembali Nomor dari sahabat lama nya yang tak lain adalah Mama kandung Vira agar tetap bisa berkomunikasi dan juga memberikan kabar tentang keadaan putrinya akan tetapi hubungan mereka terputus dan terpisah saat itu juga ketiika sebuah kecelakaan yang membuat dirinya hilang ingatan dan juga harus melakukan operasi wajah.
__ADS_1
Seila merebahkan tubuhnya di atas Ranjang berharap smoga suaminya Bima bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan mampu menyeret otak dalang dari orang yang berniat mencelakakan putrinya.
Meskipun serasa tidak tenang dan resah karena Seila tidak bisa menemani sang suami menggungkap kejahatan dari mereka, Seila berusaha untuk yakin dan percaya jika semuanya akan beres dan Suaminya akan baik-baik saja.