
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia berharap agar cepat sampai di hotel, tak menunggu lama dalam lima belas menit mobil Bima sudah sampai di depan Hotel, setelah memarkir kan mobilnya Bima segera masuk ke dalam Hotel dan bertanya pada petugas Hotel, tidak puas dengan jawaban para petugas Bima meminta ijin melihat CCTV yang mana sedikit ada perdebatan antara pihak Hotel dan Bima yang akhirnya menemui kesepakatan bersama Bima rela memberikan ganti rugi kepada para pekerja dadakan yang memberikan informasi tentang CCTV Hotel.
Cukup lama Bima harus menunggu hasilnya semua di karena kan terlalu banyak pengunjung yang datang dan Bima tidak tau pada jam berapa Seila ads di hotel itu.
Berkali-kali Bima mengusap wajahnya dengan kasar, sampai pada akhirnya, mata tajamnya tertuju pada sosok gadis berbaju kuning.
"Stop...!" tolong putar ulang wanita berbaju kuning itu."
Setelah menunggu beberapa menit terlihat jelaslah siapa gadis itu, Bima menelan ludahnya dengan kasar yang mana tiba-tiba kerongkongan nya terasa kering.
"Ternyata benar, Seila menggikuti ku, sekarang aku harus bagaimana, sudah pasti dia sangat marah, kenapa aku croboh sekali seandainya aku ajak kesini sekalian semua pasti tak kan begini."Bima mengusap wajahnya dengan kasar dengan langkah gontai Bima melangkah ke luar Hotel, pikiran nya kalut dan kacau.
Bima kembali mengemudikan mobilnya menembus jalanan yang ramai.
"Aku harus kemana?" apa mungkin Seila sudah pulang ke rumah orang tua angkat nya, tidak ada salahnya aku datang ke sana dan melihat sendiri Seila sudah pulang atau belum.'
Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba mendung dan tak berapa lama hujan pun turun membasahi bumi, hujan yang cukup deras, membuat semua orang berteduh di tempat yang terlindungi dari hujan tapi tidak untuk gadis yang ada di pinggir jalan, dia membiarkan tubuhnya terkena siraman air hujan, rambutnya yang panjang basah begitu juga dengan tubuh nya.
"Tin...!" Tin..!"
Sebuah klakson berbunyi gadis itu diam dan hanya berjalan sedikit menepi.
"Tin...!" Tin..!"
Lagi-lagi klason itu berbunyi membuat gadis itu menoleh dan menghentikan langkah kakinya. Sebuah mobil berwarna hitam tepat berhenti di samping nya.
Dengan terburu-buru sang pengemudi turun dari dalam mobil dengan menaruh tangan di atas kepala nya, hal itu dia lakukan untuk melindungi dirinya dari guyuran air hujan.
"Kenapa hujan hujanan ayo masuk."Seru laki laki itu dengan menarik tangan sang gadis dan membuka kan pintu mobil untuk nya.
"Masuklah,"
Setelah gadis itu masuk laki-laki itupun berlari memutar dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Di dalam mobil suasana hening untuk beberapa saat.
"Apa yang terjadi dengan mu, kenapa kau main hujan hujanan untung aku lewat jln ini hingga tau kamu seperti ini, sementara ke rumah ku saja dulu kamu mandi dan ganti bajumu yang basah dengan yang kering Apartemen ku cukup dekat dari sini kamu tidak keberatan kan?"
Gadis itu mengagguk tanpa mau menjawab pikiran dan hatinya terlihat kosong menatap jalanan yang sedang di guyur dengan air hujan.
__ADS_1
Tidak memakan waktu lama, Mobil hitam itu sudah sampai di depan Apartemen rumahnya. Rumah yang cukup luas hanya di huni berdua saja dengan sang pembantu saja.
"Seila..!" ayo, masuk."
Seila menggikuti langkah kaki laki-laki itu yang tak lain adalah Hendrato.
"itu kamar mandi nya kamu bersihkan dulu tubuh mu agar kamu tidak sakit dan ini ada baju yang bisa kau pakai untuk sementara tidak bagus sih, tapi cukup bersih karena ini baju baru jadi bukan baju bekas orang lain.
"Trimakasih."
"Aku tunggu di ruang makan ya."
Seila mengagguk, di dalam kamar mandi Seila terus berfikir, apakah jalan yang terbaik antara dirinya dan Bima itu harus berakhir dengan perpisahan, mungkin Bima tak bahagia bersama nya menunggu nya pun mungkin jenuh dan mungkin jalan yang terbaik dia akan berpisah dengan Bima.
Ritual mandi menghabiskan waktu dua puluh menit setelah semua di anggap selesai Seila keluar dari dalam kamar mandi dengan menggenakan baju yang di berikan Hendarto padanya.
Melihat Seila turun dengan baju yang di berikan padanya dan dengan rambut yang basah membuat Hendrato menelan ludahnya dengan kasar, cantik itulah ucapan yang keluar dari bibir Hendrato dalam hati ketiika melihat Seila turun menghampiri nya.
"Ayo, duduk kita makan lebih dulu.'
"Sedikit saja, masakan Bik Suti ini enak lho," tawar Hendrato menyakinkan."
"Beneran aku tidak lapar dan aku malas makan.'
"Ya, baiklah, makan buah nya saja jika tidak mau makan nasi."bujuk Hendrato.
"Seila mengagguk tapi tidak menggambil sedikit pun buah yang ada di atas meja, tatapan matanya begitu kosong. Hendrato yang melihat itu terkejut ketika memahami gadis yang ada di depannya terlihat sangat pucat, dengan cepat Hendrato berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Seila.
"Seila, kenapa wajah mu terlihat pucat sekali coba sini ku lihat,maaf ya."
Hendrato menyenyuh kening Seila.
"Panas sekali, kamu demam pasti penggaruh hujan tadi ayo, ku antar ke rumah sakit terdekat agar bisa di obati."
"Ngak perlu, aku tidak apa-apa aku mau pulang saja,"
"Tapi, Seila kamu sakit."
__ADS_1
"Nanti istirahat di rumah pasti juga sembuh."
"Baiklah terserah kamu."
Hendrato dan Seila mulai melangkah meninggalkan rumah itu, tapi belum tiga langkah tubuh Seila limbung dan akhirnya jatuh beruntung Hendrato ada di dekatnya dengan sigap langsung menangkap tubuh Seila yang akan jatuh, karena Seila pingsan terpaksa Hendrato kembali membawa Seila masuk ke dalam rumah dan membawanya masuk ke dalam kamar ruang tamu, kemudian Hendrato menelpon dokter untuk memeriksa Seila di rumah.
Tidak menunggu berapa lama dokter pun sudah datang dan dengan sigap memeriksa kondisi keadaan Seila. Dalam kecemasan Hendrato pun menelpon Bima karena Bima adalah suami Seila Hendrato tak ingin lagi menjadi duri penghalang cinta mereka dia sudah bertekad dan berniat melepaskan Seila kembali pada suaminya.
Bima yang mendapat kan panggilan telpon dari Hendrato yang memberi kan kabar bahwa Seila ada di rumah nya dalam keadaan sakit, hati Bima begitu sedih dan hancur berkeping-keping Bima tau semua yang menyebabkan Seila sakit adalah dirinya, bergegas Bima melajukan mobilnya menuju ke apartemen rumah Hendrato, tidak menunggu lama mobil yang di lajukan Bima dengan kecepatan tinggi sudah sampai, dengan belari lari kecil Bima masuk ke dalam rumah.
"Di mana Seila Hen?"
"Sabar Bro, dia masih di priksa dokter di dalam, aku heran kenapa Seila main hujan hujanan beruntung aku lewat di jalan itu, sehingga aku tau Seila ada di sana."
"Trimakasih, karena kamu telah membantu Istriku.'
Hendrato Tersenyum kecut.
"Sama sama Bro!"nah itu dokter sudah keluar ayo kita tanya."
Bergegas Hendrato dan Bima mendekati dokter yang baru keluar dari dalam kamar Seila.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya."
"Cuma demam biasa mungkin karena alergi dengan hujan, aku sudah memberikan resep obatnya tolong bantu di minum kan sesui aturan agar demamnya cepat turun."
"Baik, dok!" trimakasih.
"Kamu masuk saja ke dalam biar aku yang menggantar dokter ke luar."
"Baik, trimakasih Hen."
Bergegas Bima berlari masuk ke dalam kamar ruang tamu di mana Seila terbaring di sana, hati Bima serasa sesak melihat istrinya tergolek tak berdaya dengan wajah pucat dan kening yang cukup tinggi panasnya.
"Sayang..!" maafkan aku " lirih Bima ketika berada di dekat Istri nya, di kecup lembut kening sang istri dan di gengam dengan erat tangannya.
"Semua salahku, aku minta maaf, ayo buka matamu sayang, jangan bikin aku takut." desis Bima lirih, tatapan matanya begitu sayu dan berkali-kali Bima merutuki kebodohan nya dia tidak bisa menjaga perasaan sang istri dia yang menyebabkan istrinya begini dan seandainya Seila bagun lalu marah dan meminta yang aneh aneh aku harus bagaimana, terlebih sifat keras kepala nya jika muncul lagi apa yang harus ku lakukan." Bima terus bermonolog sendiri berandai andai menghadapi sikap Seila ketiika dia bangun. Hendrato yang melihat dari luar pintu hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar ada sedikit rasa cemburu dan tak rela di sana tapi apakah daya takdir cinta mereka tidak menyatukan nya, lagi-lagi Hendrato Tersenyum kecut menerima betapa pahit nya kehidupan cintanya.
__ADS_1