Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.43.KABUR


__ADS_3

Tubuh bondet yang ikut berguling guling pun


akhirnya berhenti.


Di peganginya kepalanya yang terasa pusing


dan kakinya yang serasa menegang.


Bima mendekati Bondet dan membantu nya


untuk berdiri tegak.


"Kamu, tidak apa apa kan ?"


"Kepalaku rasanya berdenyut denyut kak."


"Itu karena kamu, melompat dalam gerakan menggulingkan badan nya, kamu tidak memberikan perlindungan ekstra di kepala dan kaki, yang kamu lakukan cukup berbahaya dan bisa membahayakan kaki dan kepala kamu,


untung ini cuma tanah tanpa bebatuan sedikit pun.


lain kali jangan ceroboh dan harus bisa lebih


berhati hati.


"Baik, kak,"


Sekarang, apa langkah kita selanjutnya!"


"Siyal hape begitu kuat di sekitar sini, kita cari dulu dimana keberadaan hape itu".


"Baik, kak,"


Bergegas mereka berdua mencari dengan menyibak nyibakkan tumbuan yang tumbuh liar di sekitar tempat itu.


"Kak Bima...,lihat ini !"


Bondet berteriak sambil menunjuk ke tanah.


Bima segera berlari mendekati tempat Bondet berteiak.


"Ada apa ?"


"Lihat itu !"


Bima menggikuti telunjuk tangan Bondet.


Mata Bima terbelalak dengan lebar, ketika


melihat satu benda yang tak asing baginnya.


"Ini kan, penjepit rambut Seila, berarti dia jatuh di sini.


"Seilaa.....!"


"Seilaa.....!"


Bima berteriak teriak memanggil manggil nama


Seila, namun tak ada jawaban.


Bima sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri.


Diaduk aduk sampai rata rambutnya yang tidak


gatal, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga


Bima jatuh terduduk.


Bondet menatap Bima dengan tatapan iba, Bondet sangat tau bagaimana perasaan Bima


saat ini.


Bima sangat mencintai Seila dan selalu berusaha memanjakan dan memberikan yang terbaik untuk nya.


Bima yang selalu sabar menghadapi sikap Seila


dari awal Pernikahan yang penuh dengan ketidak adilan.


Sebagai seorang suami Bima tak pernah di anggap.


Wajah tampan Bima tak membuat hati Seila


luluh.

__ADS_1


Seila berbuat sesuka hatinya, tidak perduli


bagaimana perasaan Bima.


Cinta tulus yang Bima berikan pun, tidak membuat nya luluh.


Bahkan kerap sekali, Seila menuduh Bima


melakukan semua itu hanya atas dasar rasa kasian bukan cinta.


Melihat Bima down , dengan wajah kusutnya


Bondet mendekati Bima.


"Kak Bima, ayo bersemangat, kita cari mereka,


pasti mereka ada di sekitar sini."


Kak Bima jangan begini, kalau kak Bima sedih


begini, bagaimana kita bisa menemukan


Non Seila dan Nafa.


Bima mendongakkan kepalanya,


"Kamu benar, ayo.. !kita cari mereka."


****


Di sisi lain Seila yang sudah mendekati goa mulai berjalan memasukinya.


Meskipun ada rasa takut, namun tak membuat


Seila menghentikan langkahnya.


"Kenapa suasananya begitu seram ya...?"


perasaan ku jadi tidak enak,


apa lebih baik aku keluar saja.


Ya, lebih baik aku keluar saja, benar benar


Seila memutuskan untuk keluar dari goa yang baru saja dia masuki sejauh lima belas meter.


Ketika Seila membalikkan badannya dan berniat akan melangkah pergi.


telinga nya mendengar suara rintihan dari ujung goa.


Hatinya kembali di hadapkan dalam kebinggungan antara lanjut keluar atau masuk


mencari sumber suara itu.


Hatinya sangat takut namun jiwa sosial dan rasa kemanusiaan nya dia ingin mengetahui


suara rintihan siapa itu, jika suara itu membutuhkan pertolongan nya maka, akan


sangat berdosa jika dia menggabaikan nya.


akhirnya di pilihlah jalan, maju lurus kedepan


mencari sumber suara itu.


Semakin lama Suara itu semakin jelas Terdengar.


Tiba tiba mata Seila terbelalak dengan lebar


mulutnya hampir mengeluarkan suara


teriakan yang keras, seandainya mulut nya tidak segera di bekap dan di tutup nya dengan kedua


telapak tangannya.


Seila mundur kebelakang dan terus mundur


Namun naas kakinya tersandung batu kecil yang ada di goa itu.


Sehingga menimbulkan bunyi.


Sontak beberapa orang yang tadi di lihat Seila


berhamburan menatap Seila.

__ADS_1


"Tangkap gadis itu...!"


Dengan cepat beberapa orang laki laki itu


segera berlari ke arah Seila.


Menyadari dirinya dalam bahaya, Seila segera


berlari keluar.


Namun langkahnya terhenti ketika di depan nya sudah menghadang dua orang laki laki bertubuh tinggi dan besar.


"ka.. kalian mau apa ?"


jangan coba coba mendekatiku.Ucap Seila dengan gugup sehingga kalimat nya terbata bata.


Para lelaki itu pun tertawa.


"Ha...ha..ha. .ha...!"


Ayo teman teman tangkap wanita cantik ini !"


Bergegas para lelaki itu mendekat.


"Berhenti..!jangan coba coba, mendekat.


Para lelaki itu tidak mendengar kan apa yang di ucapkan Seila, mereka sudah sangat bersemangat untuk menangkap Seila.


Ketika tangan mereka hendak menyentuh Seila


dengan cepat Seila menangkap tangan salah satu laki laki


itu, kemudian memberikan tendangan kaki.


Sehingga membuat laki laki itu terhuyung kebelakang.


"Kurang ajar."


Dengan marah dan geram laki laki itu berteriak.


"Ayo...tangkap Wanita itu.!"


Serentak para lelaki itu pun beramai ramai menyerang Seila.


Karena posisi tidak seimbang satu lawan empat, tentu saja Seila tidak akan sanggup


memberikan perlawanan.


Satu, dua, sampai, empat kali Seila masih bisa


bertahan, Karena kemampuan karate silatnya yang cukup bagus.


Menyadari dirinya mulai terdesak


Seila segera melakukan tendangan berantai


yang artinya Seila melakukan tendangan tanpa


memberikan kesempatan pada lawan


untuk menyerang balik.


setelah mendapatkan celah jalan dengan gerakan cepat Seila pun melakukan salto


dua kali, jongkok ke tanah dan meraup butiran pasir yang ada lalu di lemparkan nya kepada ke empat laki laki yang menyerangnya, kemudian


dengan gerakan cepat Seila kabur.


"Sial, dia kabur, ayo kejar...?"


"Tunggu, mataku pedih..!


"Mataku juga, wanita itu cukup kuat.


" Sudah diam, jangan memuji saja, basuh muka kalian dengan air itu, cepat."


Serentak ketiga laki laki itu mrmbasuh muka mereka agar mata mereka yang terkena debu


bisa cepat normal kembali.


Setelah selesai mereka semua berlari ke arah teman satunya yang selamat dari siraman debu pasir.


"Ayo kita kejar, dia seorang wanita tidak akan bisa dia berlari jauh."

__ADS_1


__ADS_2