Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.97.HARGA SEORANG DETEKTIF.


__ADS_3

Tatapan tajam Bima sedikit membuat Seila bergidik juga, pasalnya Bima tidak pernah memperlihatkan kemarahan nya seperti saat ini.


"Ikut, aku!"Bima menarik tangan Seila untuk pergi dari tempat itu.


"Kemana?"


"Nanti, kamu juga tau, ayo naik," ajak Bima kepada Seila untuk Naik ke motor nya, dengan terpaksa Seila pun menggikuti.


Dari kaca spion Bima bisa melihat wajah cantik Seila yang membuang pandangannya ke kiri.Melihat itu Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Melihat ke kiri terus, ada apa sih?"


"Sudah, fokus, nyetir nya jangan tanya tanya ngak penting tauk,"


"Pegangan yang kuat,"melihat Seila cuek tidak mengindahkan nya dengan cepat Bima menancap gas lebih kencang. Seila sedikit kaget ketika kecepatan motor yang di lajukan Bima lebih tinggi, Seila mulai panik ada rasa takut yang terpancar dari raut wajah cantiknya.


"Bima...!"pelan pelan aku takut".


"Makanya, pegangan yang kuat,"


Karena rasa takut yang tiba-tiba hadir dalam diri, Seila segera memeluk erat tubuh Bima, mendapatkan pelukan erat dari sang istri, Bima tersenyum.


"Nah, begitu, dong masak suami istri ngak mesra sih, kalau gini kan mesra, enak di lihat orang yang juga berkendara tuh pasangan yang romantis gitu," ledek Bima


"Apaan, sih,"Seila memukul mukul kecil punggung Bima, sedangkan Bima terkekeh melihat ulah istri yang mengenaskan. Tak lama kemudian motor pun berhenti di sebuah taman yang luas dengan beberapa kolam renang.


"Ayo, kita kesana,"


"Mau, ngapain ke tempat beginian,"


"Bentar, sayang, badanku gerah semua, aku mandi sebentar, kamu temani ya, kita berenang di kolam itu,"


"Ngak..."aku ngak mau,"


"Ya, sudah tunggu di sana, aku cuma sebentar habis itu kita bicara.


Bima segera masuk ke dalam kolam renang sementara Seila duduk dengan di temani segelas jus jeruk segar dengan duduk bersantai. tidak menunggu berapa lama Bima sudah selesai hanya dengan memakai celana pendek, dadanya yang terbuka dengan rambut yang basah membuat bentuk tubuhnya yang tinggi kekar terlihat sempurna, diam-diam Seila mrnggagumi tubuh kekar suaminya membuat dia menelan ludahnya dengan kasar. Bima menghampiri dengan menyerput jus miliknya kemudian menyambar handuk lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi khusus pria, di mana Bima membersikan kedua kali badannya. Setelah semua selesai Bima segera, menghampiri kembali Seila yang duduk sendirian.


"Begini, kan sudah, segar,"ucap Bima seraya mendudukan dirinya di dekat Seila.


"Apa kamu ingin tau, siapa, gadis yang bersamaku itu,"


"ngak, ngak penting itu,"


"Kalau ngak penting, kenapa menuduh ku selingkuh?"gadis yang kamu lihat itu, dia Arina teman saat kita masih sekolah dulu, apa kau ingat gadis yang dulu sering bersamaku?"


Seila menatap wajah Bima dengan penuh selidik.


"Apa, dia pacarmu?"


"Mantan, pacar sayang!" bukan pacar."


"Sama saja lah,"


"Beda, dong sayang, kalau pacar kan masih jalan kalau mantan, itu sudah masa lalu,"

__ADS_1


"Kalau mantan, Kenapa mesra begitu?"


"issh, sapa yang mesra, cuma pegangan gitu, dia tuh lagi kesakitan ketika aku lewat aku bantu, eh ternyata Arina, trus dia minta aku pegangin pinggangnya katanya sakit,"


"Oh, ya!"enak dong, pegang pingang pacar, mesra itu,"


"Mantan, pacar, bukan pacar sayang, aku kan sudah punya istri,"


"Sapa tau, saja kurang mau nambah bini lagi,"


"Seila..!"kok gitu terus ngomongnya,"Ucap Bima seraya mendekati tempat duduk Seila dan melingkarkan tangannya di pinggang Seila.


"Apaan, sih, pegang pegang begini,"


"Aku tuh punya istri satu saja susah di atur apalagi mau nambah lagi pusing nanti kepalaku,"ucap Bima seraya mendekatkan lebih dekat wajahnya.


"Kak Bima, jangan dekat dekat begini, malu di lihat orang,"


"Perduli, kan kita sudah halal,"ucap Bima cuek.


"Jangan di sini, malu di lihat orang,"


Bima tidak perduli wajahnya yang semakin dekat dengan bibir ranum yang ada di depan nya sudah tidak sabar untuk menyesapnya.


"Sebentar, saja," ucap Bima lirih yang kemudian


dalam beberapa detik bermain sejenak, sesuai dengan ucapannya Bima tidak bermain dengan lama hanya beberapa detik kemudian dia melepaskan pagutannya.


"Kita pergi, sekarang, baju mu robek sedikit itu, kita pergi ke mall,"


"Ngak usah, lngsung pulang saja, malu di lihat orang bajuku begini,"


Bima dan Seila kembali' melajukan motornya menuju ke rumah Wina.


********


Cahaya sore mulai muncul dari ufuk barat warna merah jingga bersinar indah, tampak Arina sedang mondar mandir di dalam kamar nya , Arya sang suami belum pulang dari kerja,Arina berfikir dengan keras bagaimana caranya agar dia bisa tau siapa istri Bima.


"Aku hubungi, Novi saja, agar dia bisa ngasih tau bagaimana caranya mendapatkan detektif, yang tidak terlalu meminta. bayaran mahal."Gumam Arina dalam hati.


Dengan cepat di raih nya sebuah kertas nama yang pernah di berikan sahabat nya, setelah menemukan dengan cepat Arina memencet nomor itu.


"Kring,...kring....!"


"Halo..!"


"Halo, Nov, bantu gue, aku lagi butuh nih,"


"Arina!" tumben telpon, ada apa?"


"Carikan aku detektif, tapi yang bayaran nya tidak mahal."


"Detektif..!" mau ngapain?"


"Ingin, menemukan saudaraku yang hilang lama tidak ada kabar,"ucap Arina bohong.

__ADS_1


"ada, 10 juta, dalam 24 jam sudah ada kabar,"


"Busyet, detektif, apaan itu, mahal amat,"


"ada kok yang cuma lima juta tapi itu tiga hari baru dapat kabar, kau mau yang mana?"


Untuk beberapa saat Arina terdiam, tanpa sepatah katapun yang terucap, hati dan pikiran nya sedang melalang buana entah kemana, uang sepuluh juta itu tidak sedikit lalu dari mana dia bisa mendapatkan nya.


"Halo...!"Arina apa kau masih di sana," tanya seseorang dari telpon sebrang karena tak mendengar satu jawaban apapun.


"Eh, iya...ya, aku masih di sini, aku pikirkan dulu ya nanti aku akan menghubungi kamu lagi,"


"Ok, baiklah,"


"Trimakasih, Nov,"


"Sip"


"Tit..!" suara telpon di matikan.


Arina, kembali mondar mandir seperti setrika an, yang maju mundur maju mundur.


"Uang cek, dari Bima cukup untuk membayar seorang detektif, tapi aku menggunakan uang dari Bima kenapa sayang ya, kalau minta sama Arya si pelit itu pasti juga cuma dapat 3 juta, suami kaya, tapi pelit, awas saja aku akan ambil alih semua hartamu," Sungut Arina kesal.


********


Motor yang di lajukan Bima sudah memasuki kawasan perumahan indah yang mana sudah terpampang jelas, sebuah bangunan perumahan yang sangat indah dan besar, Bima segera turun dan memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir.


"Sayang, ayo, turun kita sudah sampai." ucap Bima kepada Seila. Setelah melepaskan helm Seila dan Bima turun dari motor berjalan menuju Rumah Wina.


"Ting tong..!" Ting tong..!"


Tak lama kemudian pintu di buka dari dalam.


"Seila..!"ayo, masuk,"


"Aku, ngak kamu suru masuk juga kah Win?"


"Eh, ada Bima juga, sorry ngak liat, ayo, masuk, tumben ke sini berdua, apa kalian sudah baikan nih,"tanya Wina kepo.


"Ngomong apaan sih, Win!"aku mau ambil mobil,"


"Duduk, dulu, jangan buru-buru, aku mau bikinin kopi dulu buat suami, kamu mau juga tidak?"


"Ngak, Win, ngak terlalu suka aku,"


"ya, sudah, tunggu sebentar, ya,"


Wina masuk ke dapur untuk membuat kan kopi, Seila ingin pergi ke dapur juga untuk membantu, tapi tangan Bima segera menahan dan menyuruh nya duduk.


"Sudah, duduk, di sini temani aku,"


"Apaan, sih, ini rumah orang kak,"


"peduli,"masih kangen koh.

__ADS_1


Wina yang sudah selesai membuat kopi, tersenyum senang melihat kedua temannya sudah rukun.


"Nah, gitu dong, suami istri itu yang romantis, ngak berantem melulu, biar aku yang jomblo kuwadrat ini, ngak takut lagi kalau mau menikah, lihat kalian ribut terus, hilang dah rasa ingin ku tuk menikah," Seru Wina dari Balik pintu dapur, yang membuat Seila cepat cepat mendorong jauh wajah Suaminya.


__ADS_2