
Ratna segera menuruni anak tangga dan menghampiri Suaminya yang ada di ruang makan. Langkah kakinya yang sedikit tergesa-gesa menbuat seseorang yang sedang berada di Ruang makan menghentikan aktivitas nya dan menatap ke sumber suara yang sedang berjalan menghampirinya.
Tatapan matanya yang tenang membuat Ratna menelan ludahnya, dengan sedikit ragu Ratna mulai mengambil posisi duduk di depan suaminya, mengetahui sang istri juga duduk di depannya Hendrato berteriak memanggil satu pelayan yang ada di dalam Rumah itu.
"Bik, tolong buatkan makan siang juga untuk nyonya."
"Baik Tuan," tak lama kemudian pembantu itu kembali muncul dengan mengeluarkan satu piring kosong.
"Ini nyonya, apakah nyonya ingin saya ambilkan makan nya? tawar sang Bibik pada pada Ratna.
"Tidak usah Bik, Aku bisa mengambil sendiri Bibik pergilah." ucap Ratna memerintahkan.
"Pa, apa Aku boleh bicara?'tanya Ratna ragu-ragu sambil mengambil nasi dan lauk yang di masukkan ke dalam piringnya.
"Tentu saja, ngomong saja apa yang ingin kamu tanyakan, jika Aku bisa menjawab Aku akan jawab sekarang katakan apa yang ingin kamu tanyakan."Ucap Hendrato sambil menyuapkan Nasi masuk kedalam mulutnya.
"Apakah Papa masih mencintai mantan papa itu?'tanya Ratna sambil menunduk.
Sementara Hendrato yang mendengar hal itu langsung terbatuk-batuk.
"Uhuk...Uhuk....
Dengan cekatan Ratna segera bangkit dari duduknya dan menggambil kan satu gelas Air putih dan memberikan nya pada sang suami yang sedang terbatuk-batuk.
"Ini Pa, Air nya," ucap Ratna seraya menepuk nepuk kecil punggung Suaminya." jika Papa tidak ingin menjawab juga tidak apa-apa." jawab Ratna kemudian.
Hendrato mengeryitkan dahinya kemudian tersenyum.
"Mama ingin jawaban yang bagaimana?" tanya Hendrato karena dia bukannya menjawab pertanyaan sang istri akan tetapi justru bertanya pada istri.
Mendengar pertanyaan balik dari sang Suami Ratna meneguk ludahnya dengan susah payah entah mengapa menjadi bingung sendiri, karena sang Suami justru bertanya padanya.
"Maksud Papa bagaimana Aku tidak mengerti,"jawab Ratna akhinya yang mana justru pertanyaan nya mengundang tawa dari sang Suami.
Hendrato yang telah menyelesaikan makannya bangkit dengan membawa piring kotor ke dapur dan menyuci nya sendiri, tak lama kemudian sudah kembali duduk di ruang meja makan.
__ADS_1
"Habiskan setelah itu Mama boleh bicara apa saja yang ingin mama tanyakan kepada ku." ucap Hendrato tenang.
Ratna menggaggukkan kepala kemudian segera menyelesaikan makan, berbeda dengan Hendrato suaminya jika selesai makan langsung membawa sendiri piring kotor nya ke dapur dan mencucinya sendiri, sedangkan Ratna tidak, dia lebih suka berteriak memanggil dan meminta pada pelayan untuk membereskan nya.
"Bagaimana, kita bicara di ruangan ini atau di halaman teras depan," tanya Hendrato pada sang istri yang sudah selesai menyelesaikan ritual makannya.
"Kita bicara diluar saja di sana pasti akan lebih enak suasananya." Jawab Ratna memberikan penjelasan yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi kemudian diikuti Hendrato dari belakang.
mereka berdua berjalan dengan saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan selama langkah kaki mereka menuju Ruang teras yang mana disamping nya banyak bertabur bunga.
"Kita duduk disini,"ucap Hendrato yang kemudian mendudukkan bokongnya di sebuah kursi yang di depannya terdapat meja kecil.
Ratna menggikuti apa yang suaminya perintah kan, dengan hati-hati mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di dekat Suami nya.
"Katakan apa yang Mama mau dariku atau apa yang ingin Mama ketahui tentangku."
"Apa Papa akan meninggalkan kami?" tanya Ratna ragu-ragu.
Hendrato menggulum senyum kemudian meraih tangan sang istri.
"Apakah Mama mau kita berpisah?"tanya Hendrato kemudian.
"Ma tatap Aku, jika Mama tidak ingin kita berpisah Aku minta sama Mama untuk memberikan sedikit saja kepadaku waktu agar Aku bisa mencintai Mana, apa yang Mama katakan memang benar Aku masih sangat mencintai Seila meskipun kini wajahnya telah berubah, tapi Seila sudah tidak mencintai ku dia mencintai Suaminya, Bima sudah bisa membuat hati Seila jatuh cinta padanya jadi Aku mohon bersabarlah Aku akan belajar mencintai Mana demi anak kita." Hendrato mengengam erat tangan sang istri kemudian mencium nya." Mama jangan cemburu lagi pada orang yang tidak lagi mencintai Suamimu ini."
Mendengar penuturan Sang Suami jujur hati Ratna berbunga-bunga Santi benar Suami nya meskipun terlihat dingin dan Acuh tapi dia sesungguhnya laki-laki yang bertanggungjawab dan penyayang.
"Pa, kenapa Papa Bilang wajah Seila berubah memangnya dia Kenapa?"wajah Ratna yang penuh dengan perasaan tanda tanya menatap suaminya dengan penuh selidik.
Hendrato menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, pandangan matanya lurus kedepan wajah tampan nya yang tadinya ceria tiba-tiba berubah menjadi murung, bagaimana tidak mengenang Nasib gadis yang sangat dia cintai ternyata menggalami penderitaan sungguh membuat hatinya pilu seakan ikut merasakan sakit.
"Ada yang mencelakakan dirinya dengan sengaja, sehingga mobilnya masuk ke dalam jurang, beruntung dia ditemukan seorang wanita yang baik hati dan penyayang, meskipun mereka hidup serba pas-pasan di saat mengetahui kondisi Seila dimana luka di wajah yang sangat parah dan serius, mereka rela menjual ternak dan sawah demi membawa Seila bisa berobat ke luar Negeri, dan sungguh suatu takdir yang tidak pernah kita bayangkan, ketika itu Aku juga sedang berada di luar negeri kota A untuk menjenguk teman, saat itu temanku mengatakan memiliki pasien yang sebentar lagi akan dia operasi wajah nya, Aku yang entah mengapa penasaran langsung meminta ijin untuk ikut bahkan diberikan kepercayaan untuk membantu sedikit dalam persiapan operasi nya, Aku berkesempatan menemuinya dan pada saat Aku menemuinya itulah Aku mengenali dirinya yang kala itu dia juga lupa ingatan, Aku sedih bahkan Aku berniat akan menikahinya karena Aku tau dia adalah Seila mantan kekasih yang beberapa tahun lalu Aku tinggalkan setelah Aku rengut kehormatan nya, tapi sungguh waktu itu bukan maksud ku ingin merusak dan merenggut kehormatan nya, waktu itu kami tersesat dan jauh dari rombongan dan ketika hendak kembali, itu sangat jauh dan jalan yang paling dekat adalah harus menyebrangi lautan, Seila menangis ketakutan sedangkan Aku menyakinkan semua akan baik-baik saja sehingga akhirnya dia diam menurut, Aku mengendong dia diatas punggung ku Ketika Aku berenang dan ketika sampai di daratan tubuh dan badan Seila kedinginan bibir nya sudah biru Aku sudah tidak bisa berpikir untuk itu terjadi lah kejadian itu, Aku berniat ingin menebus semua kesalahanku tapi hatinya bukan lagi untuk ku meskipun Seila kehilangan ingatan tapi ternyata dia mencintai Bossnya kala bekerja dan ternyata Bossnya juga mencintai nya dan bodohnya Aku ketika Aku meluapkan rasaku dan mengatakan siapa gadis yang menjadi bawahannya adalah Seila pada saat itu dia pun bicara jika Seila adalah istri nya, kau tau saat itu hatiku sedih dan hancur Aku gagal lagi untuk bisa mendapatkan nya akan tetapi seiring berjalannya waktu Aku mulai bisa menerima kebahagiaan dia adalah kebahagiaan Aku dan Aku berharap bisa kembali memperbaiki hubungan Rumah tangga kita tapi Aku tidak tau apakah kau mau?" jika tidak Akupun tidak akan memaksa Aku tidak bisa menjanjikan apapun selain Aku akan berusaha untuk bisa mencintai mu."tutur Hendrato panjang lebar.
Ratna yang mendengar penuturan itu terisak sedih dia tidak menyangka jika Suaminya juga memiliki beban perasaan yang begitu berat dan sulit.
Dengan berlinang Air mata Ratna memeluk suaminya.
__ADS_1
"Iya Pa, Aku mau Ki bersama selalu Aku akan sabar menunggu sampai Papa benar-benar bisa mencintai ku." ucap Ratna sambil sesenggukan.
Hendrato mengusap lembut rambut sang istri kemudian mengecup nya.
"Trimakasih Ma, suatu saat Aku akan bawa mama untuk mengenal Bima dan Seila kita akan datang ke Rumah nya, tapi Mama jangan cemburu jika melihat Aku mungkin masih menaruh perasaan pada Seila, Mama harus bisa menahan semua nya seperti Aku menahan hatiku kala Seila dan Bima bermesraan di depan ku."
"Ah, Papa ini bisa saja," seru Ratna sambil memukul lembut lengan Suaminya.
Sementara di tempat lain jauh dari perkotaan di sebuah Rumah sederhana, Nampak Bima dan Bondet sedang duduk berduaan.
"Bagaimana Kak, apa yang harus kita lakukan pada tawanan kita itu."
"Biarkan sejenak dia beristirahat, Aku skan membuat nya menunjukkan dimana markas orang yang telah menyuruh nya kemarin. Aku akan tuntaskan segala nya Aku tidak mau mereka macam-macam dan kembali menculik Putri ku akan Aku seret mereka kepenggadilan.' geram Bima sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bondet Tertawa lebar Mendengar celoteh Bima menbuat Bima kesal dan menatap tajam padanya.
"Kenapa tertawa apa ada yang lucu?"
"Hahaha, Kak Bima ada-ada saja, Aku tertawa karena Aku ingat ketika Kak Bima memasukkan dan menyeret Arina masuk ke dalam penjara dengan tuduhan telah melakukan pembunuhan berencana yang mana telah dengan sengaja mendorong mobil non Seila hingga masuk ke dalam jurang tapi tidak lama kemudian Kak Bima membebaskan nya Aku khawatir Kak Bima juga akan melakukan begitu pada tawanan kita ini."
"Bodoh, itu berbeda Arina itu mantanku jadi jangan samakan.'
"Oh, mantan jadi Kak Bima masih ada hati Begitu?'
"Kurang ajar kau meledek dan menjebakku,' geram Bima yang mana tangannya mulai diarahkan melayang pada Bondet akan tetapi dengan sigap Bondet sudah berlari menjauh sambil tertawa-tawa.
"Awas kau," teriak Bima yang kemudian ikut berlari mengejar Bondet dan ketika sudah kena, Bima tanpa ampun lagi langsung menjewer telinga Bondet.
"Ampun kak tolong lepaskan telingaku Nanti bisa putus."teriak Bondet memelas
"Bodoh Aku tidak perduli siapa suruh berani meledekku,"
"Ampun kak Aku tidak akan mengulangi nya lagi Aku janji swerr," teriak Bondet sambil menggangkat dua jari tinggi-tinggi.
Bima menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan sebelum kemudian melepaskan jeweran nya
__ADS_1
"Baik, kali ini Aku maafkan, tapi awas kalau sampai kamu berani ngomong lagi apalagi ada Seila Aku babat habis kamu."
"Siap, kak," seru Bondet menyakinkan.