
"Aduh kerja apa ya Ras? Kenapa tidak coba melamar ke kantor-kantor saja? Aku tidak enak kalau kamu harus kerja di tempatku, kamu kan dulu di sekolah selalu jadi juara kelas,"
Arin menatap Laras yang kini duduk di depannya,
Ya, Arin adalah sahabat Laras saat masih sekolah,
Sebetulnya tadinya bukan tempat Arin lah yang akan Laras tuju, namun entah kenapa, saat dalam perjalanan justeru nama Arin yang paling banyak muncul di kepala,
Laras memaksakan satu senyuman pada Arin, senyuman yang jelas terlihat hambar, senyuman yang sama sekali tak lagi sama dengan senyuman Laras jaman sekolah dulu, yang meskipun Laras bukanlah anak sekolah yang uang jajannya banyak sekalipun, tapi terlihat sekali jika ia anak yang tumbuh tanpa masalah berarti di dalam keluarganya,
Ia hidup normal, dengan kondisi keluarga utuh yang juga berpenghasilan,
Tak banyak, tak berlebihan, tapi cukup,
"Tolong Rin, aku kali ini memberanikan diri untuk meminta pertolonganmu,"
Ujar Laras,
Melihat wajah Laras yang begitu sendu, yang ditambah lagi tubuhnya terlihat kurus dan sepertinya tak terurus membuat Arin merasa iba,
"Kerja apapun aku akan terima Rin, jangan ingat-ingat masa lalu jika aku juara di sekolah, jangan ingat itu,"
__ADS_1
Laras tanpa terasa air matanya berlinang,
Karena tak tega melihat Laras demikian, Arin pun berpindah duduk di dekat Laras, diraihnya bahu Laras yang akhirnya seolah tak lagi sanggup menahan beban berat di atas pundaknya seorang diri,
"Kau sedang tidak baik-baik saja Ras? sabar Laras, jangan sedih dan merasa sendiri, aku di sini, sahabatmu, itupun jika kamu masih menganggap aku sahabat tentu saja,"
Arin memeluk Laras yang kini menangis tersedu-sedu,
"Aku malu Rin, aku malu pada semuanya, terutama pada kedua orangtuaku,"
Kata Laras dengan suara serak,
Tenggorokannya terasa begitu sakit karena menahan sedih yang selama ini ia coba tahan sendirian,
Memang, sejak Laras diam-diam akhirnya menikah dengan Yoga, mereka berdua hanya dua atau tiga kali saja bertemu,
Pernikahan Laras yang dulu dilaksanakan hanya dengan akad nikah biasa tanpa acara resepsi itupun sempat juga menjadi pembahasan banyak teman,
Kini, setelah sekian tahun berlalu, akhirnya Arin bisa bertemu lagi dengan Laras,
Tapi, siapa yang menyangka jika kini keadaan Laras sama sekali tak seperti yang banyak orang bayangkan,
__ADS_1
Laras yang katanya dapat anak keluarga terhormat, yang mana Yoga suaminya juga berpendidikan tinggi dan bekerja di tempat yang bonafit,
Tentu saja, siapapun pasti akan menyangka Laras hidup dengan bahagia, hidup berlebih bahkan mungkin menjadi princess dalam keluarga mertuanya,
Apalagi, Laras sejak sekolah dulu juga memang selalu sesumbar, bahwa ia hanya akan menikah dengan laki-laki yang cerdas dan pendidikannya bagus, karena dengan begitu saat mereka punya anak, pasti anaknya juga cerdas macam Bapaknya,
Tapi...
Tampaknya Laras lupa, jika pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diukur sebatas itu,
Pernikahan jauh lebih rumit dan permasalahan yang terjadi jauh lebih kompleks dari semua yang pernah ditemui saat sebelum menikah,
"Aku hanya ingin bisa bekerja dan punya uang cukup untuk jajan anakku dan kebutuhanku sendiri Rin, hanya itu saja, aku bukan sedang ingin yang berlebihan,"
Kata Laras di sela isak tangisnya,
Arin yang pelahan melepas pelukannya pada Laras kemudian meraih tisu di meja untuk diberikan pada Laras,
"Baiklah Laras, jika memang kamu tak keberatan bekerja di sini, bekerjalah,"
Kata Arin pula akhirnya memutuskan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...