Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.63.PUKESMAS.


__ADS_3

Malam yang sunyi dengan suara jangkrik


dengan disertai suara suara aneh dari


binatang yang ada di hutan, tidak menciutkan nyali, Bima dan Bondet untuk pergi ke desa


yang ada di dekat sekitar pantai.


Dalam jangka waktu tiga puluh menit


Bima dan Bondet sudah sampai di desa


yang berjarak satu kilo dengan pantai.


"Ndet, di mana puskesmas nya ?"


"Aku juga, tidak tau kak, kita tanya orang


yang ada di sekitar tempat ini saja,"


"Sudah gelap pukul 7.00 tidak ada yang


keluar rumah, apa kita tanya pada orang


yang ada di warung itu saja,"Tanya Bima


pada Bondet.


"Boleh kak, ayo !"


*Bergegas Bondet dan Bima mendekati


warung yang ada di pinggir jalan itu.


"Maaf, pak ! permisi numpang tanya,


di mana ya, Alamatnya pukesmas


yang ada disini,"


"Oh, pukesmas tuh...!"di ujung jalan ada persimpangan belok kiri,"


"trimakasih, pak!"


"Sama sama,"


Bondet dan Bima segera melajukan mobilnya


ke tempat di mana sang pemilik warung


mengatakan. Tak lama kemudian terlihat lah


sebuah bangunan rumah besar berwarna


putih, ya itulah pukesmas.


Dengan hati sedikit berdebar debar laksana


ingin bertemu dengan pujaan hati, Bima


dan Bondet melangkah masuk, mereka


segera bertanya kepada sang penjaga yang


ada di Rumah sakit.


"Maaf, permisi numpang tanya, pasien


atas nama Seila kamarnya di mana ya?"


Tanya Bima santun.


"Sebentar, ya! saya cek dulu,"


Sekitar lima menit kira kira sang petugas


mencari daftar Nama Seila.


"Seila yang mana, yang mas cari?"

__ADS_1


Disini ada dua nama Seila,"Ucap wanita itu


sambil menunjukkan daftar nama.


"Yang, mana Ndet ?"Keduanya sama sama


Seila dan kedua nya tidak pakai nama


panjang, trus gimana nih," Tanya Bima


kenapa Bondet minta solusi.


"Kita lihat kedua nya saja kak," Ucap Bondet


memberikan saran.


"Baiklah ayo, ajak Bima kepada Bondet."


kedua nya lantas menyusuri lorong-lorong


jalan menuju ke kamar Seila.


"Ini, kamu lihat Seila kita ada di situ apa tidak,"


Titah Bima kepada Bondet.


"Baik, kak,"


Dengan hati hati Bondet membuka pintu


kamar, namun tidak lama kemudian Bondet


keluar lagi.


"Bagaimana?"Seila ada di situ tidak?",Tanya Bima penasaran.


"Ngak ada kak, dia bukan Non Seila kita,"


"Itu, artinya kamar yang disana itulah kamar


Seila."


kamar yang belum di singgahi. Bima


mempercepat langkahnya karena dia


tidak sabar ingin segera bertemu dengan


istrinya.


Di buka nya pintu yang masih tertutup


itu dengan hati yang bergetar.


Perlahan lahan pintu yang tertutup itupun


terbuka. Terlihat dengan jelas sosok wanita


terbaring disana dengan selimut tipis di


atasnya, Ketika Bima hendak menyentuh


dan memanggil nama Seila, Iqbal datang


menghalagi sambil menaruh satu jari di


bibirnya sebagai tanda agar Bima tidak


bicara, melihat sikap Iqbal Bima memajukan


mukanya sebagai tanda isyarat dia ingin


bertanya.


Dengan perlahan lahan Iqbal mencolek


lengan Bima dengan kepala dan mata


di arahkan kepintu sebagai bahasa

__ADS_1


isyarat Bima di ajak bicara di luar kamar.


Seketika Bima menggikuti langkah iqbal.


"Kenapa kau melarang ku memanggil


dan menyentuh Seila?"


"Maaf, Kak Bima, Non Seila baru saja


tidur, dia sangat sedih Sekali, kak


Bima bersabar saja tunggu sampai


Non Seila bangun, kasian dia."


"Ya, baiklah aku tidak akan mengaggunya


akan aku tunggu sampai Seila bangun."


Setelah itu Bima masuk kembali ke


kamar di mana Seila sedang tidur.Bima


duduk di samping Seila, di tatapnya


lekat lekat Wajah istri nya dengan tatapan


sayu, melihat Seila terbaring rasanya hati


tak tega.


Tidak berapa lama Bima pun tertidur


di samping istrinya.


Bondet dan iqbal duduk di luar mereka


memilih berbincang bincang di luar


setelah sekian lama tidak bertemu.


"Ndet, kamu hebat bisa menemukan


kak Bima,"


"Bukan aku yang menemukan kak Bima


Bal,"


"Kalau bukan kamu lantas siapa ?"


"Bapak nelayan,"


"Oh, kok kamu bisa tau, kalau bapak


nelayan yang menyelamatkan nya,


kamu ketemu Bapak nelayan di mana?"


"Takdir, Bal...!Takdir,"


"Apa, maksudmu dengan takdir, Ndet ?"


"Takdir, yang mempertemukan aku dengan


mereka."


Kemudian Bondet menceritakan awal mula


ketika berjumpa dengan seorang gadis


di mushola kecil, yang ada di pantai


sang gadis lagi bersedih dan lagi membutuhkan bantuan ketika itu dan


tanpa sengaja Bondet yang menawarkan


jasa bantuan justru bertemu dengan Bima.

__ADS_1


__ADS_2