
Malam yang sunyi dengan suara jangkrik
dengan disertai suara suara aneh dari
binatang yang ada di hutan, tidak menciutkan nyali, Bima dan Bondet untuk pergi ke desa
yang ada di dekat sekitar pantai.
Dalam jangka waktu tiga puluh menit
Bima dan Bondet sudah sampai di desa
yang berjarak satu kilo dengan pantai.
"Ndet, di mana puskesmas nya ?"
"Aku juga, tidak tau kak, kita tanya orang
yang ada di sekitar tempat ini saja,"
"Sudah gelap pukul 7.00 tidak ada yang
keluar rumah, apa kita tanya pada orang
yang ada di warung itu saja,"Tanya Bima
pada Bondet.
"Boleh kak, ayo !"
*Bergegas Bondet dan Bima mendekati
warung yang ada di pinggir jalan itu.
"Maaf, pak ! permisi numpang tanya,
di mana ya, Alamatnya pukesmas
yang ada disini,"
"Oh, pukesmas tuh...!"di ujung jalan ada persimpangan belok kiri,"
"trimakasih, pak!"
"Sama sama,"
Bondet dan Bima segera melajukan mobilnya
ke tempat di mana sang pemilik warung
mengatakan. Tak lama kemudian terlihat lah
sebuah bangunan rumah besar berwarna
putih, ya itulah pukesmas.
Dengan hati sedikit berdebar debar laksana
ingin bertemu dengan pujaan hati, Bima
dan Bondet melangkah masuk, mereka
segera bertanya kepada sang penjaga yang
ada di Rumah sakit.
"Maaf, permisi numpang tanya, pasien
atas nama Seila kamarnya di mana ya?"
Tanya Bima santun.
"Sebentar, ya! saya cek dulu,"
Sekitar lima menit kira kira sang petugas
mencari daftar Nama Seila.
"Seila yang mana, yang mas cari?"
__ADS_1
Disini ada dua nama Seila,"Ucap wanita itu
sambil menunjukkan daftar nama.
"Yang, mana Ndet ?"Keduanya sama sama
Seila dan kedua nya tidak pakai nama
panjang, trus gimana nih," Tanya Bima
kenapa Bondet minta solusi.
"Kita lihat kedua nya saja kak," Ucap Bondet
memberikan saran.
"Baiklah ayo, ajak Bima kepada Bondet."
kedua nya lantas menyusuri lorong-lorong
jalan menuju ke kamar Seila.
"Ini, kamu lihat Seila kita ada di situ apa tidak,"
Titah Bima kepada Bondet.
"Baik, kak,"
Dengan hati hati Bondet membuka pintu
kamar, namun tidak lama kemudian Bondet
keluar lagi.
"Bagaimana?"Seila ada di situ tidak?",Tanya Bima penasaran.
"Ngak ada kak, dia bukan Non Seila kita,"
"Itu, artinya kamar yang disana itulah kamar
Seila."
kamar yang belum di singgahi. Bima
mempercepat langkahnya karena dia
tidak sabar ingin segera bertemu dengan
istrinya.
Di buka nya pintu yang masih tertutup
itu dengan hati yang bergetar.
Perlahan lahan pintu yang tertutup itupun
terbuka. Terlihat dengan jelas sosok wanita
terbaring disana dengan selimut tipis di
atasnya, Ketika Bima hendak menyentuh
dan memanggil nama Seila, Iqbal datang
menghalagi sambil menaruh satu jari di
bibirnya sebagai tanda agar Bima tidak
bicara, melihat sikap Iqbal Bima memajukan
mukanya sebagai tanda isyarat dia ingin
bertanya.
Dengan perlahan lahan Iqbal mencolek
lengan Bima dengan kepala dan mata
di arahkan kepintu sebagai bahasa
__ADS_1
isyarat Bima di ajak bicara di luar kamar.
Seketika Bima menggikuti langkah iqbal.
"Kenapa kau melarang ku memanggil
dan menyentuh Seila?"
"Maaf, Kak Bima, Non Seila baru saja
tidur, dia sangat sedih Sekali, kak
Bima bersabar saja tunggu sampai
Non Seila bangun, kasian dia."
"Ya, baiklah aku tidak akan mengaggunya
akan aku tunggu sampai Seila bangun."
Setelah itu Bima masuk kembali ke
kamar di mana Seila sedang tidur.Bima
duduk di samping Seila, di tatapnya
lekat lekat Wajah istri nya dengan tatapan
sayu, melihat Seila terbaring rasanya hati
tak tega.
Tidak berapa lama Bima pun tertidur
di samping istrinya.
Bondet dan iqbal duduk di luar mereka
memilih berbincang bincang di luar
setelah sekian lama tidak bertemu.
"Ndet, kamu hebat bisa menemukan
kak Bima,"
"Bukan aku yang menemukan kak Bima
Bal,"
"Kalau bukan kamu lantas siapa ?"
"Bapak nelayan,"
"Oh, kok kamu bisa tau, kalau bapak
nelayan yang menyelamatkan nya,
kamu ketemu Bapak nelayan di mana?"
"Takdir, Bal...!Takdir,"
"Apa, maksudmu dengan takdir, Ndet ?"
"Takdir, yang mempertemukan aku dengan
mereka."
Kemudian Bondet menceritakan awal mula
ketika berjumpa dengan seorang gadis
di mushola kecil, yang ada di pantai
sang gadis lagi bersedih dan lagi membutuhkan bantuan ketika itu dan
tanpa sengaja Bondet yang menawarkan
jasa bantuan justru bertemu dengan Bima.
__ADS_1