Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.145. MENIKMATI


__ADS_3

Setelah membuat kempes ban mobilnya sendiri Hendrato kembali menemui Bima dan Ningsih.


Sementara Bima dan Ningsih yang beberapa detik lalu sempat pergagutan bibir akhirnya mengakhiri permainan mereka ketika oksigen


dalam pernafasan stoknya menipis. Ningsih mendorong dan memukul dada bidang milik Bima ketiika alam kesadaran sudah kembali normal.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku?" ucap Ningsih serak seolah menahan air mata yang hendak jatuh ke pipi."


"Aku, tidak tau?" jawab Bima lemah karena tak mungkin Bima bicara dengan jujur kalau dia melakukan karena rasa cinta dan kerinduan nya pada sang istri.


Jawaban Bima yang santai seolah tidak mempermasalahkan bahkan tak merasa bersalah sedikitpun membuat Ningsih semakin geram, dia merasa dirinya hanyalah seorang wanita yang murah dan tak memiliki harga diri dengan status calon istri orang tapi mau dan diam saja ketika Bibir laki-laki lain menyentuh dan menikmati nya dan yang lebih menyakitkan orang itu tidak melakukan atas dasar cinta tapi Hanya sekedar rasa naf...su belaka.


"Kenapa kamu tega padaku?" kenapa kamu lakukan itu padaku apa aku ini wanita yang tak memiliki harga diri sehingga kamu bisa berbuat sesuka mu Pak?" teriak Ningsih emosi.


"Maafkan, aku! ucap Bima lirih.


Tidak puas dengan ucapan Bima di tariknya krah baju Bima.


"Apa, kamu bilang? maaf! mudah sekali mengucapkan itu kau sudah melecehkan ku Pak Bima? kau anggap apa, aku ini hah?"ucap Ningsih yang mulai terisak dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.


"Kenapa, menyalahkan aku saja! kenapa kau tidak menyalahkan dirimu juga, bukankah kau menerima dan tidak menolak nya, mengapa?" dan sekarang kau salahkan aku, kau hanya menyalahkan aku saja, sekarang katakan kenapa kau tidak menolak ku bahkan kamu terlihat juga ikut menikmati."


Mendengar perkataan Bima Ningsih terdiam dan membuang muka dia mulai melangkah sedikit menjauh dari Bima. Bima segera meraih tangan Ningsih dan mengengamnya.


"Maafkan, aku!


Tanpa menjawab pertanyaan Bima, Ningsih segera mengibaskan gengaman tangan Bima.Serasa hati di tusuk dengan jarum ketika Ningsih diam dan mengacuhkan nya dengan hati kalut Bima mengacak rambutnya. Ketika Bima hendak memberikan penjelasan agar Ningsih tak merajuk marah, Hendrato sudah datang dengan suara teriakan yang membuat


suasana yang tadinya sedikit menegang kini telah mencair. Ningsih buru-buru menyeka air matanya dan langsung menyambut dengan senyuman.


"Sayang...!eh maksud ku Ningsih, kita pulang yuk."ajak Hendrato pada Ningsih yang disambut dengan anggukan Hendrato melingkar kan tangannya ke pinggang Ningsih membuat Bima membuang muka dan menjauh pergi. Melihat Bima melangkah pergi Hendrato berteiak.


"Mas Bima mau kemana?"apa mau pulang juga."tanya Hendrato.


Dengan senyum terpaksa Bima menjawab.


"Iya, aku mau pulang juga."

__ADS_1


"Wah seru bisa pulang bersama sama, tunggu mas aku ambil mobilku, ayo Ningsih."


Hendrato segera mengajak Ningsih ke tempat di mana mobilnya di parkir, sementara Bima dengan terpaksa menunggu mobil Hendrato dan Ningsih muncul. Bima melihat Hendrato berlari lari kecil mendekati nya.


"Maaf, mas! ternyata banku kempes apa boleh kami menompang di mobil mas Bima?"


"Tentu saja, boleh."


"Ayo, Ningsih!


Hendrato dan Ningsih pun masuk ke dalam mobil Bima di belakang. Bima mengemudikan mobil dengan sesekali melihat kaca sepion yang memperlihatkan kemesraan Hendrato dan Ningsih. Ada rasa getir dan perih ketika tanpa sengaja matanya melihat Hendrato merebahkan kepalanya pada bahu Ningsih yang pastinya Ningsih tidak akan menolaknya.


"Ning, apa permintaan mu untuk hadiah pernikahan kita besok!"


"Tidak, ada Mas!"


"Kenapa tidak ada, kamu jangan malu malu tinggal bilang nanti aku akan langsung memberikan nya untuk mu."


"Ngak, usah mas, Ningsih tidak memiliki keinginan apapun."


"Ciiiiitttt,...!"Bima menginjak rem secara mendadak membuat Hendrato gagal mencium Ningsih.


"Ada, apa mas! kenapa di rem mendadak."


"Maaf, mas Hendrato sepertinya tadi ada kucing lewat."ucap Bima bohong.


"Oh, kirain ada apa?"


Bima tersenyum kecut sambil mengagguk tanda membenarkan perkataan Hendrato, beberapa detik kemudian mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang."


"Mas! kita makan dulu di restoran terdekat Ningsih pasti laper dari tadi kan belum makan."


"Ok, mau di restoran apa kita makan nya?"


"Apa saja, mas!"


"Baiklah, di restoran depan itu saja ya kurasa di sana juga cukup enak."

__ADS_1


Mereka bertiga berhenti di sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung.


Hendrato duduk berdampingan dengan Ningsih, sementara Bima memilih duduk di depan nya Ningsih. Tak lama kemudian pesan an makanan pun datang menu makanan yang mereka pesan hari ini ikan Bakar.


"Hendrato membujuk Ningsih untuk mau menerima suapan makanan dari nya.


"NIngsih..! ayo buka mulutnya."


"Ngak usah mas aku makan sendiri saja."


"Ayo sekali ini saja." bujuk Hendrato diam diam Bima mengambil minuman dan ... meneguknya dengan sekali teguk langsung tandas yang tanpa Bima sadari kelakuan nya tertangkap mata indah Ningsih.


"Pak, Bima kehausan ya hebat Banget minum dengan sekali teguk." sindir Ningsih yang membuat Bima mendelik.


"Kenapa, kamu mempermasalahkan itu sayang eh Ningsih, kalau laki-laki minum memang seperti itu, bukankah begitu mas Bima?" tanya Hendrato dengan sambil tersenyum penuh arti, seperti nya dia lagi cemburu keluh Hendrato dalam hati, sudah cukup kekasihku hidup bersamamu kini akan aku ambil dia dari tanganmu dan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa, waktu dua sampai tiga Minggu itu tidak akan bisa membuat orang dengan mudah ingatannya kembali, ketiika ingatan Seila Kembali dia sudah jadi istriku.


Bima melahap makanan nya dengan cepat sehingga rasa enak dan nikmatnya ayam bakar tak lagi terasa, yang ada di dalam pikiran nya cepat menghabiskan makan dan pergi, tidak tahan rasanya melihat kemesraan orang lain bersama istrinya.


Sedangkan Ningsih memandang dengan penuh keheranan, makan dengan terburu buru minum pun juga dengan terburu wajahnya tertunduk selalu.


"Ada apa ini? apakah jangan jangan Pak Bima cemburu, ah tidak itu tidak mungkin dia tidak akan memiliki rasa cemburu dia hanya lapar barangkali." Gumam Ningsih dalam hati.


"Andaikan saja itu benar cemburu dan andaikan saja pak Bima belum beristri pastilah akan ada kesempatan ku untuk bisa meraih hatinya, Araaaaaagggghhhh....!aku mikir apa sih," keluh Ningsih dalam hati membuat tangannya menyuapkan nasi dengan sendok penuh ke mulutnya."


"Ningsih, kenapa kamu juga makan dengan cepat pelan pelan tuh sampai belepotan begitu."tegur Hendrato sambil mengusap ujung bibir Ningsih dengan lembut.


Bima yang sudah tidak tahan langsung bangkit dari duduknya sambil menaruh beberapa lembar uang kertas merah di atas meja kemudian melangkah pergi.


"Aku tunggu di mobil " ucap Bima tanpa menunggu jawaban dari Hendrato Bima pergi.


NIngsih menahan tangan Hendrato yang mengusap ujung bibirnya.


"Trimakasih, aku bisa sendiri."diambilnya tisu dan mengusap kan pada ujung bibirnya entah mengapa serasa tidak suka jika tangan Hendrato menyentuh bibirnya tapi entah kenapa pula jika Bima yang melakukan meskipun di bibir marah dan kesal. Namun di dalam hatinya yang paling dalam Ningsih suka dan menikmati nya bahkan seandainya boleh ingin lebih sekedar di kecup, Ningsih menggigit Saliva nya menyadari pemikiran nya sedang konslet, bisa bisanya hatinya mengginginkan Bima yang telah beristri sedang kan yang jelas-jelas calon suami nya tak sedikit pun berharap dapat belaian dan kecupan.


Ningsih segera bangkit dari duduknya.


"Aku, sudah! aku tunggu di mobil ya." tanpa menunggu jawaban Ningsih langsung pergi meninggalkan Hendrato sendiri.

__ADS_1


__ADS_2