
Setelah melampiaskan kekesalannya sendiri Bima jatuh terduduk bersandar di dinding, wajah tampan nya terlihat sayu, senyum keceriaan pun seakan tertutup awan mendung, sungguh tak pernah Bima duga, jika pada akhirnya biduk rumah tangga nya akan berada di ambang ke hancurkan, apa yang selama ini dia usahakan dia bangun dan dia perjuangkan, dalam sekejap akan menghilang, Bima tidak sanggup membayangkan jika ke egoisan dan ke keras palaan Seila tidak mampu dia tahan sudah pasti, hubungan rumah tangga yang sudah di bangun dengan susah payah akan sirna dalam sekejap mata, rasa gundah, rasa takut, rasa was-was, kini bermain main indah dalam khayalan nya, entah bagaimana bisa mengatasi semuanya, sesuatu yang tidak pernah Bima rasakan, tak pernah pula Bima miliki kini tumbuh subur dalam hati, benih benih kebencian dan rasa sakit yang dalam yang mampu menumbuhkan dendam yang amat sangat kini sedang segar bermekaran di dalam relung hatinya yang paling dalam. Arina seorang gadis yang sangat dia hargai dan hormati telah tega menghancurkan kebahagiaan nya, Bima bertekad akan menyelesaikan masalahnya dengan segera, Bima tidak ingin kehilangan Seila dan Rumah tangga nya hancur hanya karena kehadiran dari mantan kekasih lamanya.
Dengan resah dan hati yang penuh dengan kegundahan Bima menunggu dengan sabar Seila keluar, tatapan matanya yang sayu dan kosong serta raut muka yang sangat memelas membuat siapa saja yang memandang akan jatuh iba dan tak tega, dan hal itu jugalah yang di rasakan Bik Inah pembantu dan pengasuh Bima sejak Bima masih bayi, diam diam wanita separuh baya itu melihat dan menyaksikan kemelut perdebatan di antara kedua orang majikannya. Bik Inah sangat ingin dan berharap Bima berlari dan mencari nya menangis dan mengadukan semua derita hatinya, sama ketika saat Bima masih kecil, tapi itu tidak mungkin Bima lakukan lagi sekarang, karena kini Bima sudah tumbuh dewasa, pasti lah malu jika harus menumpahkan kesedihan nya ke pada Bibik pengasuh nya, perlahan-lahan wanita paruh baya itu Keluar dan menuruni anak tangga pergi menjauh dengan mata berkaca-kaca, hati nya ikut sedih dan ikut merasakan derita hati anak asuh yang sangat di sayanginya.
Satu jam kemudian, penantian dan kesabaran Bima membuahkan hasil, Seila keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah dan badan segar. Bima segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekati istrinya Seila.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Tanpa menjawab Seila hanya menepis tangan Bima yang mencoba menyentuhnya, Seila melangkah menjauh. Bima semakin di buat gusar dengan sikap dingin dan acuh istrinya.
"Sayang!" jawablah, jangan diam begini, aku tidak tahan," ucap Bima sendu.
"Mandilah, agar badan kak Bima juga segar,"
Bima mengeryitkan dahinya.Seila mau bicara tapi bicara nya kenapa cuma singkat dan begitu datar seadanya saja, Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, tanpa membantah Bima masuk ke dalam kamar mandi.
Di bawah guyuran air shower, Bima pun membasahi rambutnya, Bima sedang mandi tapi hati dan pikirannya sibuk mencari cara dan jalan bagaimana agar bisa meluluhkan hati Seila lagi, dua puluh menit sudah Bima bermain main dengan air dan sabun, ide konyol melintas dalam angannya.
"Siapa tau, dengan cara begini, hati Seila tergoda,"Gumam Bima dalam hati.
__ADS_1
Bima keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di bagian bawah nya sementara Bima sengaja bertelanjang dada agar Seila yang melihat itu semua bisa tergoda hatinya.
"Sayang!" tolong ambilkan bajuku dong," pinta Bima agar Seila yang duduk termenung di dekat jendela mau menoleh kepada nya.
Mata teduh Bima mengekor ke mana Seila pergi, di lihatnya Seila mengambil baju dan entah apa yang di ambil Seila Bima tidak tau lagi, tanpa menoleh atau pun menatap, Seila meletakkan baju Bima di atas ranjang dengan satu kotak tertutup di sampingnya.
"Ini dan jangan lupa balut luka yang ada di tangan," ucap Seila tanpa sedikitpun menatap wajah Suaminya.
Beberapa kali Bima menelan ludahnya dengan kasar, sikap dingin Seila yang kembali hadir membuat nya takut.
"Aku tidak bisa memakai perban sendiri tolong bantu ya," ucap Bima penuh harap.
Bukannya Seila langsung menerima atau menolak tapi dia justru keluar kamar dan turun, melihat itu Bima merasa geram dengan kesal Bima kembali melampiaskan kekesalannya dengan meninju udara.
"Den, Bima, sini Bibik bantu memakaikan perban,"
Bima terbelalak kaget dengan sikap Seila yang ternyata menyuruh Bik Inah untuk merawat lukanya, dengan tatapan tajam Bima menatap Istrinya, tapi Seila membuang muka, agar tidak beradu pandang dengan Bima. Dengan langkah pasti Bima mendekati Seila yang tetap memilih berdiri di dekat jendela, dengan sangat kasar Bima menarik badan Seila sehingga mau tidak mau kini mereka saling bertatap muka, karena merasa jengah Seila mencoba membuang muka tapi Bima menahan wajah itu sehingga tidak bisa menoleh kemana pun selain menatapnya.
"Kenapa? kenapa kau meminta Bik inah, apa kau tidak mau melakukan nya,"tanya Bima dingin.
__ADS_1
Mendengar perkataan Bima Seila tidak bicara apa apa dengan sangat pelan di tepisnya kedua tangan Bima yang berada di kedua pipinya, tanpa banyak kata Seila menarik tangan Bima sehingga Bima menggikuti gerak langkah kaki Seila, dengan pelan dan sedikit mendorong tubuh Bima sehingga terduduk di tepi ranjang, Seila meraih kotak obat dan dengan telaten memasangkan perban serta membubuhkan
obat merah anti nyeri ke tangan Bima. Sementara Bima menatap dengan tatapan sayu ke wajah cantik Seila. Ketika perban sudah selesai di kenakan dan di pasangkan Seila Hendak melangkah pergi,tetapi tangannya di tahan Bima lagi.
"Trimakasih,"
Seila tidak menjawab dia hanya mengagguk dan hendak berlalu pergi.
"Seila!"tolong jangan hukum aku dengan cara seperti ini, percaya lah, aku tidak pernah mengkhianati cinta kita, tolong maafkan aku,"ucap Bima sedih.
"Apa, yang di katakan Arina itu benar, jadi aku tetap dengan pendirian ku, kita bercerai,"
"Tidak.!" aku tidak akan menceraikan mu dan jangan berfikir aku akan mudah melepaskan mu, itu tidak akan pernah terjadi,"
"Tapi, aku tidak mau menjadi penghalang cinta di antara kalian,"
"Cinta, cinta apa? di antara kami tidak ada cinta,"
"Apa yang Arina katakan itu benar, aku tidak pantas untuk mu, jadi akan lebih baik jika kita bercerai saja,"
__ADS_1
"Cukup, Seila..!"aku tidak suka kamu bicara cerai dan cerai, Bik tolong temani Seila, aku pergi dulu,"
Tanpa menunggu jawaban Bima menyambar jaket yang ada di kursi, lalu melangkah pergi.